
Setelah Hani bersiap, Ia pun segera keluar dari rumah dan pergi ke ujung jalan untuk menunggu Farel menjemputnya. Hari itu Hani berpenampilan begitu mempesona, iya ... dikarenakan dirinya akan pergi berdua dengan suaminya, meskipun tujuan kepergian mereka adalah untuk menyambangi pusara Hana. Dan Hani pun sudah mempersiapkan segalanya untuk mengelabuhi sang suami, jika pusara yang akan mereka datangi bukanlah pusara Hana, tapi orang yang yang namanya sengaja di ganti oleh orang-orang suruhan Hani untuk merubah namanya menjadi Hana Setyorini.
Dengan begitu, Farel akan percaya jika istri pertamanya sudah meninggal dunia. Dengan percaya diri, Hani menunggu kedatangan mobil Farel yang akan menjemputnya. Dan tidak menunggu waktu lama, mobil mewah Farel datang dan berhenti di depan wanita cantik berambut panjang itu.
Farel menatap wajah Hani dengan begitu senang, Hani tersenyum melihat suaminya datang dan Ia pun mulai masuk ke dalam mobil. Setelah Hani masuk ke dalam mobil, tak lupa Farel pun memberikan pujian kepada tetangga barunya itu.
"Pagi ini, udara masih begitu sejuk, tapi kulihat hanya senyummu yang terasa sangat menyejukkan hati."
Hani tersipu malu mendengar gombalan dari sang suami, Ia pun membalas, "Nggak usah ngegombal deh kamu, Mas! Udah ayo kita berangkat!"
Farel pun melajukan mobilnya ke jalan raya dan bersiap untuk datang ke makam sang istri dan meminta maaf kepadanya. Selama dalam perjalanan, Hani menatap wajah Farel yang terlihat tengah memikirkan sesuatu.
"Kamu kenapa, Mas? Kok kayak mikir gitu?"
Farel menoleh dan membalasnya, "Tidak apa-apa, Aku hanya sedang memikirkan bagaimana saat Hana di detik-detik terakhir nya, Aku tidak bisa membayangkan, dia pasti sangat menderita, Hana adalah gadis yang baik, kenapa dia harus berakhir seperti ini, sangat tragis!" sesal Farel
Hani menghela nafasnya dan Ia pun tidak mau sebenarnya mengingat saat dulu naga Dirinya begitu frustasi dan sangat sakit hati saat Nindy membawa pergi suaminya, Hana seorang gadis yatim piatu yang mendapat keberuntungan dengan dipinang oleh Almarhum Ayah Farel untuk menjadi menantunya, karena Almarhum Ayah Farel sangat menyukai kepribadian Hana yang penyayang dan penurut, Ayah Farel sangat berharap putranya mendapatkan gadis yang baik dan bisa menjadi istri yang berbakti.
Tapi, kenyataannya diluar dugaan, Ayah Farel meninggal dunia sehari setelah mereka menikah, disitu Hana merasa sangat kehilangan sosok mertua yang sangat baik, hingga akhirnya di hari selanjutnya, Hana mendapatkan kejutan dari Adik sepupunya, jika sang suami mengakui telah jatuh cinta kepada Nindy dan saat itu juga Farel meninggalkannya demi menikahi Nindy.
Dunia Hani terasa hancur, hingga akhirnya ia berniat bunuh diri. Tapi nasib berkata lain, Hana selamat dan saat ini Ia bisa berdiri kuat untuk mengambil perhatian suaminya lagi atas pertolongan Madam Liu, Madam Liu lah yang memberikan kehidupan baru untuk Hana, hingga akhirnya Madam Liu memberikan nama baru untuk Hana dan mengubur dalam-dalam kenangan tentang Hana.
Sejenak Hani menangis kala Farel berkata seperti itu, karena sudah pasti Hana adalah dirinya, Farel pun terkejut melihat Hani yang sedang menangis. Seketika Farel bertanya dan memberikan tisu kepada Hani untuk mengusap air matanya.
"Kenapa kamu menangis? Apa perkataan ku ada yang salah?" seru Farel sembari memberikan tisu untuk Hani.
"Iya ... laki-laki itu memang tidak tahu diri, apa yang ada dalam pikirannya untuk meninggalkan Hana," sahut Farel merutuki dirinya sendiri.
"Mas!" seru Hani tiba-tiba.
"Hmm!"
"Apa yang akan kamu lakukan jika kamu dalam posisi menjadi suaminya Hana, apa kamu akan meninggalkannya meskipun kamu tahu jika pernikahan kalian bukanlah karena cinta?"
Sejenak Farel menghela nafasnya dan berkata, "Aku tahu siapa Hana, pernikahannya dengan suaminya memang karena perjodohan, jika Aku menjadi suami Hana, Aku akan berusaha untuk menerimanya, jujur dia gadis yang baik, meskipun pernikahan tanpa cinta mungkin perlahan Aku akan mencoba untuk mencintainya dan itu butuh waktu."
Mendengar pengakuan dari sang suami, Hani pun tersadar jika selama ini ternyata suaminya masih memiliki hati nurani untuk mencoba menerimanya, tapi sayangnya Semua itu dirusak oleh kehadiran Nindy, sebelum Farel berusaha untuk menerima Hana sebagai seorang istri, Nindy sudah berhasil menguasai pikiran Farel untuk meninggalkan Hana yang baru saja dua hari Farel nikahi. Hani meraba tangan Farel dan mengatakan sesuatu yang membuat Farel seolah-olah Hani sangat mengerti dirinya.
"Kamu pria yang sangat baik, Mas! Aku tahu itu, pasti Hana sangat beruntung memiliki suami sepertimu, ternyata kamu sangat menghormatinya."
Spontan Farel menghentikan mobilnya dan melihat ke arah tangan Hani yang sedang memegang tangan kirinya yang saat itu sedang berada di atas perseneling. Perlahan Farel pun menggenggam tangan Hani dan menciumnya dengan lembut sembari bergumam, "Aku tidak tahu entah kenapa saat Aku berada di dekatmu, seolah Aku sedang melihat Hana, Aku merasa Hana masih hidup. Apalagi melihat senyum ini, astaga! Apa yang terjadi pada diriku?"
"Ya Tuhan! Salahkah Aku jika merebut suamiku dari Nindy, tapi Mas Farel adalah suamiku juga, dan Aku berhak mengharapkan nya, apalagi Aku sangat mencintainya, astaga Mas Farel benar-benar sudah membuatku gila." batin Hani sembari menatap wajah Farel dalam-dalam.
Entah kenapa Farel tiba-tiba mendekati wajah Hani dan mencoba untuk mengecup bibir merekah itu, seperti sebuah dorongan kuat yang membuat Farel lupa jika dirinya adalah suami Nindy. Tentu saja Hani tidak akan pernah menolaknya, karena bagaimanapun juga Farel adalah suaminya.
Ciuman itu pun tidak bisa dielakkan lagi, mengecup bibir Hani begitu manis, Farel memperlakukan sang tetangga sangat mesra. Hani pun membalasnya dengan penuh kelembutan.
...BERSAMBUNG ...