
Setelah keluar dari kamar mandi, Farel pun memutuskan untuk segera tidur, karena besok dirinya akan pergi bersama sang tetangga untuk datang ke pusara istrinya. Untuk sejenak Farel memeriksa ponselnya yang baru saja dibuka oleh sang istri. Sekilas Farel menyunggingkan senyumnya saat melihat ponselnya tidak bisa diakses dengan mudah oleh istrinya.
Farel pun membuka kunci layar ponselnya dan segera menghubungi Hani lagi. "Jangan lupa besok, antarkan Aku ke pusara Hana, Aku akan menunggumu di ujung jalan."
Sementara itu Hani pun membaca pesan yang dikirim oleh Farel kepadanya, sekilas terukir senyum dari bibirnya yang mungil. Akhirnya, perlahan usahanya untuk mendapatkan cinta dari sang suami segera terwujud.
"Mas Farel! Aku akan mendapatkanmu kembali!" Hani sangat yakin jika Farel mulai menyukainya, Ia pun mulai menyusun rencana baru untuk semakin mendekati Farel, agar secepatnya Farel jatuh ke dalam pelukannya.
Di sisi lain, setelah Farel mengirimkan pesan singkat kepada Hani, Ia pun segera pergi tidur tanpa menghiraukan Nindy yang masih berada di dalam kamar mandi. Kini Farel merasa sudah tidak memerlukan perhatian dari sang istri, mungkin karena sudah mendapatkan perhatian dari Hani, Farel pun tidak mempermasalahkan jika Nindy tidak melayaninya.
Setelah beberapa saat, Nindy telah menyelesaikan ritual mandinya, Ia pun segera keluar dari kamar mandi dan melihat sang suami yang sudah bersembunyi di balik selimut, meskipun Ia mendapatkan penolakan dari Farel saat di kamar mandi tadi. Nindy pun tidak menyerah begitu saja. Ia pun berusaha untuk merayu suaminya kembali dengan memakai baju dinas para istri. Penampilan Nindy yang sangat seksi, membuat Ia sangat yakin sekali jika suaminya akan tergoda seperti biasanya, saat Ia sedang memakai gaun minim tersebut.
Nindy berputar-putar di depan cermin dan menatap tubuhnya yang terlihat begitu seksi, dengan buah dada yang menonjolkan bentuknya yang aduhai, sementara dipusat intinya tampak begitu menerawang dengan kain segitiga yang terbuat dari kain Lace yang lembut, tentu saja pemandangan di dalamnya terlihat begitu cerah dan sangat menggoda.
Nindy berjalan menuju kearah suaminya yang sedang tidur dengan posisi miring. Ia pun mulai masuk ke dalam selimut dan berusaha mendekati sang suami. Dengan percaya diri, Nindy memeluk suaminya dari arah belakang dengan mesra, sembari menempelkan aset berharganya, berharap Farel tergoda dan mulai menyerangnya.
"Mas! Kamu sudah tidur belum?" tanya Nindy sembari mengintip wajah suaminya yang sudah terpejam.
"Hmm ... apa sih, Nindy! Aku ngantuk banget nih." balas Farel yang saat itu pura-pura sudah tidur dan terbangun gara-gara ulah istrinya.
"Kamu nggak pingin, Mas! Aku akan memberikannya padamu malam ini." bisik Nindy sembari menciumi leher suaminya, Farel yang merasa tidak nyaman dengan perlakuan Nindy, Ia pun bangun dan menjauhkan tubuh Nindy dari sisinya.
"Aduh Nindy maaf! Aku nggak bisa, aku capek banget malam ini, Aku mau tidur saja. Kamu tidurlah! Bukankah kamu besok harus berangkat subuh. Udah ya jangan ganggu Aku lagi, selamat malam!" kata-kata terakhir Farel sebelum dirinya melanjutkan tidur kembali.
"Mas! Kamu ini kenapa sih? Aku tuh udah siap untuk melayani kamu, tapi kamunya cuek gini, kemarin-kemarin aja kamu ngotot banget minta jatah, sekarang kamu kayak gini, kamu tuh kenapa sih!" protes Nindy atas sikap dingin suaminya yang tiba-tiba.
"Sudahlah! Aku tidak mau berdebat, Aku benar-benar sedang malas, lebih baik kamu ganti bajumu dengan yang lain. Nanti kamu bisa masuk angin jika tidur dengan baju gituan." seru Farel yang tidak tergoda sama sekali dengan apa yang dipakai oleh sang istri.
"Apa, Mas? Kamu suruh Aku ganti baju. Kamu sudah membuatku kesal. Lebih baik kamu tidur diluar sana, Aku nggak mau tidur sama kamu!" Nindy yang kesal, Ia pun tampak mengusir sang suami untuk tidur di luar kamar. Tentu saja tidak masalah bagi Farel. Ia pun tidak banyak bicara dan segera beranjak pergi ke luar kamar.
Farel pun keluar dari kamar dan menutup pintu itu, Ia pun memutuskan untuk tidur di kamar tamu, dengan membawa ponselnya Farel tidur sendiri di kamar sebelah.
Jam menunjukkan pukul satu malam, tapi entah kenapa Farel tidak bisa memejamkan matanya sedikitpun, hingga akhirnya ia bangun dari tidurnya dan berjalan menuju ke jendela kamar yang berhadapan langsung ke rumah Nindy. Farel melihat kamar Nindy yang masih menyala, dan Farel merasa jika tetangganya itu belum tidur.
"Hani! Sepertinya dia belum tidur. Mungkin jika ngobrol dengannya bisa membuat ku terhibur." Farel pun segera menghubungi nomor Hani dan mulai mengirimkan chat kepada tetangganya itu.
"Hai ... ganggu, nggak?" sapa Farel.
Hani yang memang belum tidur, Ia melihat ke layar ponselnya, ternyata ada pesan masuk dari sang tetangga.
"Mas Farel!"
Hani pun segera membalas chat dari Farel. "Nggak kok, Mas! Hani nggak bisa bobo, eh kok Mas Farel belum tidur sih?"
"Belum, Aku juga nggak bisa tidur, entahlah mungkin Aku sedang memikirkan mu."
Seketika Hani tersenyum karena sang suami yang tak lain adalah Tetangga nya mengatakan hal seperti itu, selama ini Hani atau Hana belum pernah digoda sendiri oleh suaminya, dan sekarang Ia akan berusaha membuat suaminya tergila-gila kepadanya.
"Mas Farel bisa aja."
"Beneran Aku nggak bohong, nggak tahu kenapa Aku merasa nyaman saat ngobrol sama kamu," ungkap Farel yang membuat Hani senyum-senyum sendiri.
"Aku juga sama, Mas! Aku juga mulai nyaman sama kamu. Ahh tapi tidak, Aku tidak boleh suka sama suami orang, nanti dikiranya Aku Pelakor suami tetangga, Aku takut, Mas!" balas Hani.
...BERSAMBUNG...