
Sementara itu di dalam mobil, Farel melihat Hani yang terlihat cantik pagi ini, apalagi Hani yang terlihat mengibas-ibaskan rambutnya, aroma harum dari rambut Hani, membuat Farel menghirup wangi shampoo yang digunakan oleh Hani.
"Emm maafin Hani ya, Mas! Hani udah ngerepotin kamu," seru Hani sembari memegang paha Farel, spontan Farel mulai berkeringat dingin saat tangan lentik itu menyentuh pahanya.
"Eh eh iya! Nggak apa-apa hehehe." Farel terlihat gugup, apalagi tangan Hani sedikit merremas paha Farel dengan sengaja.
"Hehehe anu itu, tangan kamu tolong menjauh, Aku nggak bisa menggerakkan perseneling." seru Farel yang membuat Hani mulai menarik tangannya dari paha Farel.
"Oh iya maaf! Aku tidak sengaja, reflek Mas!" balas Hani. Setelah Hani menjauhkan tangannya dari Farel, kini Farel pun mulai berkonsentrasi lagi mengemudi setelah Ia sempat oleng gara-gara sentuhan tangan sang tetangga yang membuat dirinya panas dingin.
"Oh ya Mbak Hani ...!" Farel tidak melanjutkan kata-katanya karena Hani memotong pembicaraannya.
"Jangan panggil Aku Mbak, panggil saja Hani, biar lebih akrab." ucap Hani sembari tersenyum. Farel pun ikut tersenyum dan mengiyakan ucapan Hani.
"Baiklah, Hani."
"Apa yang ingin kamu tanyakan, Mas?" seru Hani kepada Farel yang sebelumnya ingin bertanya kepadanya.
"Kamu kerja dimana?"
"Ohh Aku bekerja di salon kecantikan Bunga Wanita, milik Madam Liu." jawab Hani.
"Waaahhhh jadi kamu salah satu karyawan salon kecantikan milik Madam Liu?"
Hani mengangguk dan mengiyakan ucapan Farel.
"Madam Liu itu pengusaha wanita yang paling sukses, Aku sangat kagum padanya, tapi sayang dia hidup sebatang kara. Hmm tapi aku dengar-dengar Madam Liu memiliki anak angkat, tapi Aku belum bertemu dengan anak angkat beliau, katanya anak Madam Liu itu sangat cantik." ungkap Farel yang secara tidak sadar sedang membicarakan Hani, wanita yang kini menjadi tetangganya.
"Oh ya? Hmm mungkin saja. Ah sudah Mas, Aku berhenti di depan situ!" seru Hani sembari menunjuk ke salah satu toko swalayan. Farel kemudian menepikan mobilnya di depan swalayan tersebut. Kemudian Hani mulai beranjak pergi. Namun, sebelum Hani turun Ia mengucapkan terimakasih kepada Farel karena sudah mengantarkannya sampai ke tempat tujuan.
Tentu saja Farel sangat terkejut dan terkesiap kala Hani mencium pipinya tiba-tiba. Dan entah kenapa la tidak merasa risih saat sang tetangga menciumnya. Setelah mencium pipi Farel, Hani pun segera keluar dari mobil dan melambaikan tangan kepada Farel.
"Daaahhh Mas! Hati-hati!" ucap Hani diiringi lambaian tangan Hani. Farel pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Setelah mobil Farel pergi menghilang, Hani menyunggingkan senyumnya. "Ini baru permulaan, Mas! Setelah ini kau tidak akan bisa lepas dariku." ucap Hani lirih.
Sesampainya di kantor, Farel tampak menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi kebesarannya. Pria itu terlihat gelisah tak seperti biasanya, hingga membuat sang asisten mengerutkan keningnya.
"Bos! Anda kenapa? Kelihatannya Anda sangat suntuk sekali, apa di rumah Anda tidak mendapatkan servis, upss!" tanya Sang asisten bernama Dito.
"Kepalaku pusing, To! Di rumah bini cuek terus, baru semalam pulang, pagi ini pergi lagi." jawab Farel kesal.
"Ya ... udah resiko, Bos. Istri Anda itu seorang artis dan model yang kiprahnya wara-wiri di layar kaca, ya pastinya dia super sibuk. Jadi, Bos harus sabar, memang seperti itu resikonya. Tapi ya nggak bisa nyalahin Bos juga kalau Bos juga pingin diperhatikan." ujar sang asisten.
"Terus Aku harus bagaimana? Masa setiap Aku pulang ke rumah, dia tidak pernah ada untukku, bahkan semalam saat Aku butuh dia, eh ... dia malah nggak ngerespon, dia cuek dan memalingkan wajah, Bener-bener menyebalkan." umpat Farel.
"Waaahhhh itu gawat, Bos! Seorang istri tiba-tiba tidak merespon suaminya saat sedang berduaan. Maaf nih ya Bos! Saya curiga jika istri Anda sudah mendapatkan kenikmatan lain selain punya Anda." seketika Farel menggebrak meja dan tak habis pikir jika benar Nindy akan berbuat seperti itu.
"Brengsek! Kenapa Aku tidak berpikir sejauh itu! Ucapan mu ada benarnya." sahut Farel mulai curiga.
"Karena nggak semua wanita itu setia, Bos! Istri Anda itu cantik dan seksi. Pasti banyak laki-laki di luar sana yang terpesona dengan istri Anda, bukannya saya berburuk sangka dengan istri Anda, karena kebanyakan seperti itu, kesetiaan itu mahal, Bos! Banyak wanita-wanita yang memiliki paras cantik sangat bangga dengan dirinya, tapi dia tidak menghargai suaminya, jadi kalau menurut saya, istri cantik itu bukan jaminan mendapatkan kebahagiaan dalam rumah tangga, Bos! Kalau Saya pribadi nih, nggak apa-apa dapat istri berwajah pas-pasan, asalkan dia setia dan tulus kepada kita, sekarang teknologi canggih, Bos! Wajah pas-pasan bisa dipermak menjadi cantik, istri jelek pun bisa menjadi cantik asalkan kita yang modalin dia untuk cantik."
Mendengar ucapan dari sang asisten, sejenak Farel teringat oleh Hana, istri pertamanya yang Ia tinggalkan demi Nindy, istri dari perjodohan orang tuanya itu entah bagaimana kabarnya.
"Hana? Bagaimana keadaannya sekarang?" batin Farel yang tiba-tiba ingat dengan istri pertamanya.
...BERSAMBUNG...