Love You A

Love You A
Part 92


"Kau itu serius sekali dengan ucapanku," ujar Cindy masih dengan tawa dibibirnya. "Tadi itu aku hanya bercanda."


Baby mengerutkan keningnya dengan wajah yang semakin bingung, begitu pula dengan Jonathan tapi tidak dengan Agam. Pria itu diam dengan raut wajah tanpa ekspresi apa pun menatap pada Cindy.


"Kau tidak perlu meminta maaf, karena semua yang terjadi bukan salahmu. Semua ini adalah takdir, aku dan Agam memang tidak berjodoh sehingga kami gagal menikah. Jadi lupakan semuanya! Karena aku pun sudah melupakannya."


"Tapi Cindy, kau benar-benar tidak marah padaku?"


"Tentu saja tidak," jawab Cindy dengan tersenyum. "Bagaimana mungkin aku marah padamu Baby Arbeto, karena aku hanya meminjamkan sebentar Agam padamu sebelum aku mengambilnya kembali." Gumamnya dalam hati.


"Ya Tuhan, akhirnya aku bisa bernapas dengan lega," Baby membalas senyuman Cindy. "Kau tahu aku sangat merasa bersalah padamu, tapi setelah mendengar kau tidak marah aku bisa menjalani pernikahan kami tanpa beban."


"Pernikahan kami?" Cindy mengerutkan keningnya, tidak mengerti dengan yang diucapkan Baby.


"Em.. maksud aku pernikahan aku dan A."


"Apa? Ja-jadi kalian sudah menikah?" Cindy yang terkejut mendengar bahwa Agam dan Baby sudah menikah, hanya bisa mengepalkan kedua tangannya dengan erat untuk menahan amarah yang ada dihatinya.


"Ya, kami sudah menikah. Dan maaf bukan bermaksud tidak mengundangmu tapi pernikahan kami diadakan sangat mendadak dan juga—" belum sempat Baby meneruskan perkataannya, ia sudah melihat Agam berada disisinya.


"Baby kita harus pulang sekarang! Karena masih ada pekerjaan yang harus ku kerjakan." Agam menatap pada istrinya.


Baby menganggukkan kepalanya lalu berpamitan pada Cindy, setelah melihat suaminya berjalan lebih dulu menuju pintu keluar. Sementara Cindy yang kini hanya berdua dengan asisten pribadinya, hanya bisa diam menatap punggung Baby dan Agam yang semakin menjauh dari pandangannya.


"Mereka sudah menikah?" Cindy terduduk lemah setelah mendengar kabar tersebut. "Bagaimana bisa aku tidak mengetahuinya? Kenapa tidak ada satu anak buahku yang mengetahui kabar tersebut?" Cindy yang marah meninggalkan tempat tersebut dengan terburu-buru, ia harus menemui anak buahnya untuk mencari tahu lebih jelas tentang pernikahan Agam dan Baby.


*


*


"Aku..."


"Setahuku seorang Baby Arbeto tidak pernah meminta maaf pada orang lain, bahkan jika kau menabrak tembok sekalipun tembok lah yang harus meminta maaf padamu."


"A...." Baby menepuk bahu suaminya dengan kesal. "Aku ini manusia yang juga mempunyai rasa bersalah, apalagi sudah membuat pernikahan wanita lain gagal karena kau memilih untuk pergi ke rumah sakit menemuiku," jawab Baby dengan lirih sembari menyenderkan kepalanya di bahu suaminya.


Agam menghela napasnya lalu mengusap rambut Baby dengan perlahan. "Jangan meminta maaf lagi padanya! Karena kau tidak bersalah, disini akulah yang bersalah."


"Ya, disini kau lah yang bersalah! Kalau saja kau mencintaiku lebih awal, pasti tidak akan ada orang yang tersakiti olehmu," sindir Baby.


Agam menautkan kedua alisnya, ia tidak terima disalahkan seperti itu meski memang dirinya bersalah, dan tanpa banyak berkata Agam mendorong kepala Baby.


"Ih.. kenapa di dorong? Aku ini masih mengantuk ingin tidur." Baby menjatuhkan kembali kepalanya di bahu Agam.


"Menyingkir! Kau itu berat!" Agam kembali mendorong kepala Baby.


"A..." Baby yang gemas ingin kembali bersandar ditubuh suaminya, namun lagi-lagi pria itu mendorongnya.


Hingga terjadilah saling dorong-mendorong antara Agam dan Baby selama diperjalanan, membuat Jonathan yang duduk di kursi depan hanya bisa menghela napasnya dengan kasar saat melihat tingkah suami-istri yang dinilainya aneh dan tidak jelas.