
"Kalian cepat tarik paksa putriku!" perintah Bernade pada anak buahnya, karena melihat Cindy yang sama sekali tidak bergerak sedikitpun.
"Tidak! Aku tidak mau!" Cindy berteriak dan meronta saat dibawa paksa oleh anak buah Daddy nya. "Kenapa jadi begini? Kenapa pernikahan yang aku impikan gagal? Kenapa A lebih mementingkan Baby dari pada pernikahan mereka? Ada hubungan apa antara A dan Baby?" semua pertanyaan itu terus berputar di benak Cindy saat dirinya dipaksa keluar dari ballroom.
Sementara itu Mini dan David hanya bisa diam menatap kepergian keluarga Bernade, mereka sebenarnya merasa kasihan pada Cindy tapi apa boleh buat semua keadaannya sudah kacau seperti itu dan tidak ada yang bisa mereka lakukan selain diam.
"Sekarang jelaskan apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kau melarang aku menyusul A? Dan ada apa dengan A? Kenapa dia pergi setelah mendengar kabar Baby kecelakaan?"
Semua pertanyaan itu dilontarkan oleh David tanpa titik dan koma, karena sejak tadi ia sangat penasaran apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang tidak diketahuinya.
"Baby mencinta A."
"What?" pekik David dengan wajah yang terkejut. "Sayang ini tidak lucu." David tertawa sinis sembari menggelengkan kepalanya, ia tidak menyangka di saat seperti ini istrinya justru mengajak bercanda.
"Aku serius sayang." Sahut Mini dengan raut wajah tegasnya. "Dan dari yang aku lihat hari ini sepertinya A juga mencintai Baby, itu sebabnya aku melarangmu mengejar A." Jelas Mini.
"No ini tidak mungkin, aku tidak percaya dengan semua yang kau katakan." Tawa David kini hilang berganti dengan raut wajah bingung bercampur dengan tegang. "Mana mungkin mereka saling jatuh cinta? Mereka itu saudara sepupu!"
"Ya mereka saudara sepupu, tapi tidak ada salahnya bagi keduanya untuk saling jatuh cinta. Aku justru bahagia kalau memang mereka saling mencintai bahkan sampai menikah." Mini tersenyum saat membayangkan putranya menikah dengan Baby.
"Mini kau gila!" David yang masih terkejut memilih untuk pergi dari ballroom tersebut, ia ingin menyusul Agam untuk menanyakan langsung kebenaran dari cerita yang baru saja didengarnya.
*
*
Sementara itu Agam yang masih mengendarai mobilnya, langsung menghubungi Mars untuk menanyakan keadaan Baby dan dibawa ke rumah sakit apa? Bukan tanpa alasan ia menghubungi sepupunya itu, karena tadi Mars ikut pergi bersama dengan keluarga besar Arbeto, dan sudah pasti pria itu tahu dimana keberadaan Baby.
"Mars bagaimana keadaan Baby? Dia di bawa ke rumah sakit mana?" tanya Agam setelah sambungan ponselnya diangkat oleh sepupunya.
"Baby ada di rumah sakit internasional, dia—"
Agam langsung mematikan ponselnya setelah tahu dimana keberadaan Baby, tanpa mendengar lebih lanjut perkataan Mars. Ia mengemudikan kendaraannya dengan kencang agar cepat sampai di rumah sakit internasional. Dan dalam waktu kurang dari lima belas menit Agam pun sudah sampai di rumah sakit tersebut.
Dengan berlari cepat ia langsung masuk ke dalam rumah sakit dengan tujuan ruang IGD, namun setelah sampai di ruangan tersebut ia tidak menemukan keberadaan Baby. Tidak putus asa Agam pun berjalan keluar mencari di setiap ruangan sembari menghubungi nomer Mars, untuk bertanya diruangan apa Baby dirawat.
Namun belum sempat sambungan ponsel itu terhubung, matanya justru menatap sosok yang tidak asing baginya, sosok yang sejak tadi membuatnya begitu cemas.
"Baby..." teriak Agam mengejar sosok yang sedang berjalan di depannya.