
Ehem.
Agam berdeham dengan keras untuk memecah kesunyian diantara mereka berdua, karena sejak masuk ke dalam kamar baik dirinya dengan Baby hanya diam tidak ada yang bersuara sama sekali. Jangankan berbicara bahkan saat ini mereka duduk saling berjauhan, Baby yang duduk di sofa dan Agam yang duduk di tepi ranjang. Dan saat ia ingin mendekati Baby, gadis itu pasti menjerit dan memintanya untuk kembali ke tempat semula.
"Duduk disini!" Agam menepuk sisi ranjang yang didudukinya.
Baby menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Jika ingin berbicara dari jauh saja."
"Aku bukan ingin berbicara denganmu." Sahut Agam yang mulai kesal dengan sikap Baby. Seandainya saja ia ada di mansion Mateo, maka Agam tidak perlu banyak berbicara dan merayu seperti saat ini. Tapi sayangnya Agam berada di mansion Arbeto, dan mau tidak mau ia harus bersikap lembut agar Baby tidak berteriak dan membuat seluruh penghuni mansion datang ke kamar mereka.
"Jika tidak ingin berbicara, ya sudah kita tidur saja. Maksudku kau tidur di sofa ini dan aku di atas ranjang."
"Baiklah kalau itu mau mu."
Agam berdiri dari duduknya begitu pun dengan Baby, lalu mereka berdua berjalan ke tempatnya masing-masing. Namun saat ditengah-tengah Agam justru menarik lengan Baby hingga gadis itu jatuh ke pelukannya.
"Kak lepaskan aku!" teriak Baby saat tubuhnya tidak bisa bergerak sedikitpun, karena Agam memeluknya dengan sangat erat.
"Jangan berteriak! Kau ingin semua orang yang ada di Mansion datang kemari?"
"Apa? Tadi kau bilang kamar ini kedap suara?"
"Ya," Baby menganggukkan kepalanya, lalu di detik berikutnya ia menggeleng dengan cepat saat tersadar sudah keceplosan berbicara. "Kamar ini tidak kedap suara, tadi aku—" perkataannya terhenti saat bibirnya dikecup oleh Agam, hanya kecupan sesaat karena pria itu kini sedang menatap dirinya dengan intens.
"Kenapa di dekatmu aku jadi bodoh begini?" Gumam Agam seraya menempelkan keningnya tepat di kening Baby, ia benar-benar lupa seluruh kamar yang ada di mansion utama ini kedap suara. "Dan kau!" Agam mendekat ke wajah Baby hingga hidung mereka saling bersentuhan, jarak mereka yang begitu dekat membuat Agam bisa merasakan hembusan nafas Baby yang menerpa wajahnya. "Malam ini harus..." ia tidak melanjutkan perkataannya, karena bibirnya kini sudah mencium bibir Baby, melum*atnya secara perlahan meskipun gadisnya hanya diam saja tak membalas ciumannya.
ciuman yang awalnya lembut kini berubah menjadi ciuman kasar dan menuntut, saat Baby membuka mulut ketika ia menggigit bibir bawahnya. Membuat Agam kini dengan mudah menjelajah rongga mulut gadis itu, dan menghisap isi di dalamnya hingga bertukar saliva dengan menggebu-gebu hingga lupa jika mereka harus bernapas.
"Kak kau ingin membunuhku ya?" pekik Baby setelah tautan bibir mereka terlepas.
Agam diam tidak membalas kemarahan Baby, ia justru tersenyum saat melihat bibir gadis itu yang bengkak karena perbuatannya.
"Aku ingin tidur di kamar tamu saja, dari pada mati di tanganmu." Baby hendak melepaskan diri dari Agam saat menyadari pelukan pria itu yang melonggar.
"Kau tidak boleh pergi kemanapun!" Agam kembali mengeratkan pelukannya, dan dengan gerakan cepat menggendong tubuh mungil itu lalu membawanya ke atas ranjang. Ia ingin secepatnya mengulang kembali kejadian tadi siang, dengan membuat Baby menjadi miliknya seutuhnya setelah ia menyadari gadis yang sudah berstatus sebagai istrinya itu sudah mencuri hatinya. Entah sejak kapan ia pun tidak tahu pasti hatinya telah diisi oleh gadis yang bernama Baby Arbeto.