
Setelah berbincang sebentar bersama putrinya, Luna dan Dafa memutuskan untuk keluar dari dalam ruangan. Meninggalkan Baby bersama dengan Agam yang kini berstatus sebagai suami dari putri mereka.
Ehem.
Agam berdeham dengan keras untuk mencairkan situasi diantara mereka yang terasa kaku. Perlu di garis bawahi terasa kaku! Padahal sebelumnya mereka tidak pernah berada di situasi seperti itu, karena biasanya Baby yang periang dan banyak bicara akan memulai pembicaraan mereka, dengan segala tingkah konyolnya hanya untuk menarik perhatiannya.
Tapi kini semua terasa berbeda, karena gadis itu hanya diam saja menatap dirinya dengan tatapan mata yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata.
"Kau membutuhkan sesuatu?" tanya Agam, setelah mereka terdiam cukup lama.
"Tidak," jawab Baby dengan singkat. "Kak A keluarlah! Aku ingin beristirahat."
Seketika itu juga Agam mengerutkan keningnya dengan wajah yang terkejut. "Apa aku tidak salah dengar? Baby mengusirku! Dan tadi dia bilang apa? Kak A? Sejak kapan dia memanggilku dengan sangat sopan." Gumam Agam dalam hati.
"Kak keluarlah! Aku ingin tidur karena kepalaku terasa berat." Baby mengulangi perkataanya, karena melihat sepupunya itu hanya diam saja.
Mendengar permintaan Baby yang mengusirnya sebanyak dua kali, membuat Agam mau tidak mau keluar dari ruang rawat gadis itu dengan sejuta kebingungan di benaknya. Seperti bagaimana bisa Baby tersadar dari komanya setelah mereka menikah, ditambah dengan berubahnya sikap gadis itu, serta tatapan mata Baby yang terasa berbeda dari biasanya.
Setelah keluar dari dalam ruangan, Agam segera duduk bersama Aunty Luna dan Uncle Dafa yang kini berubah status menjadi mertuanya. Ingin sekali Agam menceritakan semua perubahan sikap Baby pada mertuanya itu, tapi niat tersebut ia urungkan mengingat mungkin saja Baby masih bingung dengan apa yang terjadi. Apalagi gadis itu masih belum ingat kenapa bisa berada di rumah sakit.
"Aku, aku hanya—" Agam tidak bisa melanjutkan perkataannya, karena bagaimana mungkin ia berbicara yang sebenarnya. Bahwa Baby tersadar saat dirinya mengatakan akan menceraikan gadis itu jika tidak juga bangun dari komanya.
"Sudahlah kau tidak perlu bertanya apa yang membuat Baby tersadar, yang penting saat ini kondisi putri kita sudah membaik." Sahut Dafa.
"Kau benar sayang." Ujar Luna.
Agam pun akhirnya bisa bernapas dengan lega, karena tidak harus menjelaskan yang sebenarnya. Namun rasa lega itu langsung menghilang saat Aunty Luna kembali berbicara.
"Sekarang kau bisa bercerai dengan putriku, karena dia sudah sadar."
"What?" entah mengapa Agam merasa tidak terima dengan perkataan Aunty Luna, padahal seharusnya ia bahagia bisa terbebas dari ikatan pernikahan yang konyol itu. Menikah dengan sepupunya sendiri dengan keadaan gadis itu yang tidak sadarkan diri.
"Sayang kau ini bicara apa? Mereka baru menikah belum ada satu jam, dan kau menyuruh mereka untuk bercerai?" Dafa tidak mengerti dengan jalan pikiran istrinya.
"Dafa aku hanya ingin yang terbaik untuk semuanya bukan hanya untuk putri kita. Kau tidak kasihan melihat A hidup bersama dengan orang yang tidak dia cintai? Sebelum semuanya terlambat dan Baby mengetahui kalau sudah dinikahkan dengan A, lebih baik A menceraikan Baby secepatnya. Lagi pula pernikahan mereka hanya sah di mata Agama jadi lebih mudah bagi A untuk membatalkan pernikahan tersebut." Jelas Luna panjang lebar.