
Baby yang saat ini sudah berada di dalam mobil, sesekali menatap pada Agam yang duduk di sampingnya tanpa berani untuk membuka suara setelah apa yang terjadi di hotel tadi. Sungguh ini pertama kalinya Baby melihat suaminya itu memukul orang, dan apakah ia terkejut? Jawabannya tentu saja terkejut, karena selama ini yang Baby tahu Agam adalah sosok pria tampan, baik, pendiam, sabar, dan tidak pernah marah pada orang lain.
Bahkan saat pria itu diperlakukan dengan semena-mena oleh Boy Arbeto, Agam hanya diam dan menerima tanpa membalas perbuatan kakaknya. Dan kalau diingat-ingat lagi suaminya itu selalu marah hanya pada satu orang yakni pada Baby Arbeto yang tidak lain dan tidak bukan adalah dirinya.
"Apa ada yang ingin kau sampaikan?" Agam bertanya tanpa menatap wanita yang ada disampingnya, ia tidak mempedulikan Baby yang sejak tadi mencuri-curi pandang kearahnya tanpa berani mengatakan apa pun.
Baby yang melamun langsung tersadar saat mendengar pertanyaan dari Agam. "Tidak ada," jawabnya dengan singkat seraya memberanikan diri menatap suaminya yang terlihat fokus pada layar ponsel.
Agam yang terkejut langsung mengalihkan tatapan matanya pada Baby, ia tidak menyangka dengan mudahnya wanita itu menjawab tidak ada. Bukankah seharusnya Baby mengatakan kata maaf karena sudah membiarkan tangan pria lain menyentuh pipinya, dan entah apa lagi yang disentuh oleh Sky saat dirinya tidak melihat kebersamaan mereka.
"Ke-kenapa melihatku seperti itu?" tanya Baby dengan gugup saat Agam menatapnya dengan tajam, wajah mereka yang saling berhadapan membuatnya bisa melihat dengan jelas kemarahan yang terpancar dari pria itu. "Ya Tuhan, kenapa aku merasa ada sesuatu yang akan terjadi," dengan perlahan Baby menjauh dari sisi Agam, namun secara tiba-tiba pinggangnya ditarik dengan kasar hingga membuat keduanya kini tak berjarak.
"Hukuman? Apa yang akan dilakukan A? Jangan-jangan dia akan memukul ku sama seperti yang dilakukannya pada Sky? Tapi rasanya tidak mungkin karena aku wanita, Agam tidak pernah kasar pada wanita apalagi aku istrinya. Tapi tunggu! Apa jangan-jangan hukumannya..." Baby menelan salivanya dengan susah payah saat mengingat kejadian tadi malam, dimana Agam mengambil sesuatu yang berharga darinya dan itu rasanya sangat sakit. Apalagi tadi suaminya itu berkata akan bersemangat menghukumnya, sudah dipastikan yang akan diperbuat Agam lebih dari sekedar memasukinya.
"Kak bukankah besok malam kita akan ke Paris? Apa tidak sebaiknya kita menginap di mansion utama, agar lebih mudah dan tidak membuang waktu?" Baby sengaja menawarkan untuk tinggal di mansion utama agar ia bisa terhindar dari hukuman Agam.
"No, karena tidak akan seru menghukum mu jika kita menginap di sana," Agam menarik satu sudut bibirnya, tanpa mengalihkan tatapan matanya pada layar ponsel.
"Tapi kak..." Baby tidak lagi melanjutkan perkataannya saat melihat lirikan tajam dan mematikan dari suaminya. "Mampus kau Baby Arbeto, bersiap saja menerima apa yang akan dilakukan Agam pada tubuh mu. Dan berharaplah apa yang dikatakan oleh orang-orang itu benar, bahwa bercinta untuk yang kedua kalinya tidak akan terasa sakit malah terasa nikmat. Tapi yang jadi pertanyaannya adalah, apakah yang akan mereka lakukan nanti bisa dikatakan yang kedua kali? Sementara yang pertama itu hanya masuk lalu keluar." Baby larut dengan pikirannya sampai tidak sadar mobil yang mereka tumpangi sudah sampai di kediaman keluarga Mateo.