
"A, Baby, kalian mau kemana?" tanya Luna saat melihat anak dan menantunya berjalan bersama pelayan yang membawa koper.
"Kami akan menginap di Hotel Mom," jawab Agam sembari mendekat pada seluruh keluarganya yang tengah berkumpul.
"Kenapa mendadak sekali? Kenapa tidak melanjutkan menginap di sini?" Lily ikut bertanya karena bingung, kedua keponakannya justru lebih memilih menginap di hotel dari pada di mansion miliknya. Yang membuatnya lebih bingung lagi karena seingatnya besok seluruh keluarga yang tinggal di Jakarta akan pulang, karena acara pesta pernikahan Lea telah selesai beberapa jam yang lalu.
"Kami ingin pergi Honeymoon, Aunty." Jawab Baby dengan malu-malu.
Membuat Agam langsung menghela napasnya dengan panjang, karena jawaban polos Baby pasti akan membuat mereka jadi bahan ledekan seluruh keluarga yang sedang berkumpul. Dan benar saja, di detik berikutnya seluruh keluarga tertawa menggoda dirinya dan Baby.
Bahkan Boy Arbeto sampai tertawa terbahak-bahak, membuat Agam ingin sekali meninju wajah tampan tersebut yang berstatus sebagai sepupu sekaligus kakak iparnya. Tapi niat itu hanya ada di dalam hati, karena Agam menyadari ini lah resiko yang harus di terimanya karena menikah dengan sepupu sendiri.
"Kalian so sweet," Luna mengangkat jari jempolnya.
"Rupanya si kanebo kering kita sudah ketagihan." Sahut Boy dengan tawa dibibirnya.
"B...!" Luna menepuk bahu putranya. "Bukan ketagihan tapi kecanduan," timpalnya yang ikut tertawa.
"Mom itu artinya sama saja," ucap Boy sembari menghela napasnya dengan kasar.
"Ah masa? Menurut Mom beda, dari hurufnya saja tidak sama." Luna seperti biasa tidak mau kalah pada putranya.
"Tapi Mom—"
"Kami berangkat!" potong Agam dengan cepat, karena kalau tidak mereka akan menonton perdebatan antara ibu dan anak tersebut, yang dapat dipastikan akan berlangsung lama jika tidak ada yang mau mengalah.
"Mom tapi A —" belum sempat Baby meneruskan perkataannya, mulutnya lebih dulu dibungkam oleh tangan Agam.
"Aku selalu memakainya Mom, sekarang kami harus pergi." Dengan cepat Agam membawa Baby dari tempat tersebut, karena kalau tidak wanitanya itu akan membocorkan kalau selama ini dirinya tidak menggunakan pengaman.
"Tunggu A!" Mini menyusul putranya. "Berapa hari kalian honeymoon?"
"Dua hari Mom, kenapa?" tanya Agam.
"Kalau begitu Mom akan pulang ke Jakarta untuk mengantar Cleo, Mom takut dia melarikan diri."
Agam menganggukkan kepalanya lalu menatap adiknya. "Aku akan menyuruh Alex untuk mengawal Cleo kemanapun dia pergi," ucapnya karena tidak ingin membuat mom Mini khawatir.
"A aku ini sudah dewasa, tidak memerlukan seorang pengawal." Cleo tak terima jika di Jakarta nanti selalu di ikuti oleh pengawal.
"Kau yakin tidak mau?" Boy ikut bersuara. "Alex orang kepercayaan aku itu sangat tampan dan gagah."
"Really?" tanya Cleo dengan tatapan mata yang berbinar-binar.
"Ya, tapi aku tidak yakin kau bisa menaklukkannya." Boy memancing adik sepupunya itu, karena ia tahu seorang player sejati pasti akan merasa tertantang. Dan kenapa Boy bisa mengetahui itu semua? Karena dirinya dengan Cleo sama saja, hanya bedanya dia wanita sedangkan dirinya pria.
"Menarik," Cleo akhirnya setuju.
Melihat Cleo setuju di bawah pengawalan Alex, Agam pun mengajak Baby pergi dari mansion Richard setelah pamit pada seluruh keluarganya. Dan selama diperjalanan, Baby terus menanyakan kenapa dirinya berbohong tentang pengamanan, sementara ia tidak tahu harus menjawab apa. Karena sejujurnya Agam lupa untuk menggunakan pengaman di setiap percintaan mereka.