
Dua bulan kemudian.
"A diamlah!" Baby melepaskan tangan Agam yang sudah menjalar kemana-mana, sedangkan dirinya tengah sibuk menulis naskah cerita yang sempat tertunda karena melahirkan dan menjaga twin.
Ya, menjaga bayi kembarnya yang ternyata harus di rawat di ruang NICU. Dan baru bisa keluar setelah dua Minggu lebih berada di ruangan tersebut. Sehingga dua bulan ini konsentrasinya terkuras habis untuk kedua bayi mereka.
"Aku menginginkanmu," Agam tidak peduli pada penolakan yang dilakukan Baby, karena sudah tidak bisa menahan lagi untuk menyentuh istrinya itu. Karena selama dua bulan ini Agam harus berpuasa mengingat bagaimana kondisi twin, dan Baby yang sibuk mengurus bayi kembar mereka secara langsung.
Awalnya Agam tidak keberatan semua perhatian Baby tercurahkan pada twin, dia pun merasa bahagia dan bangga istrinya yang manja, dan masih berusia muda itu begitu bertanggungjawab pada bayi kembar mereka. Tapi semakin lama, Agam merasa semakin tersisihkan. Dan berujung pada rasa cemburu di hatinya, karena perhatian Baby semua tertuju pada twin.
"A.. aku sibuk," Baby membalik tubuhnya, menatap kedua mata Agam yang terlihat sudah dipenuhi oleh kabut gairah.
"Sayang aku sangat menginginkanmu." Agam menarik tengkuk Baby, melu-mat bibir yang ada dihadapannya dengan sangat menuntut. "Adam dan Hawa sudah tidur, jadi kita punya waktu." Rayu nya setelah melepaskan tautan bibir mereka.
"Aku belum siap," Baby mendorong dada bidang Agam, lalu berdiri dari tempat duduknya berjalan menuju ranjang.
"Sampai kapan kau akan siap? Ini sudah dua bulan. Apa kau tidak kasihan padaku?" Agam menghela napasnya dengan kasar, tanpa berniat menyusul Baby yang tengah duduk di atas ranjang.
"Aku tidak tahu, tapi yang jelas aku belum siap." Baby menundukkan kepalanya.
"Apa yang membuatmu belum siap?" tanya Agam pada akhirnya.
"Aku takut hamil lagi," jawab Baby dengan jujur dan memberanikan diri untuk menatap Agam.
"Ya ampun Baby, kau menolak ku selama ini karena takut hamil?" tanya Agam tak percaya.
"Aku akan bermain aman, jadi kau tidak perlu takut." Agam mengusap wajah Baby dengan sangat lembut.
"Ck, dulu kau bilang bermain aman. Tapi lihat! Aku justru hamil dan melahirkan twin," Gerutu Baby dengan bibir mengerucut.
"Jadi kau menyesal sudah melahirkan twin?" Agam menatap tajam istrinya.
"Bukan seperti itu A, tapi kau kan tahu aku masih ingin bersenang-senang dulu. Bukan berarti aku menyesal memiliki twin, justru aku bersyukur memiliki putra dan putri yang tampan dan cantik." Baby mencubit pipi suaminya dengan gemas.
"Tampan dan cantik, tapi sayangnya wajah putra kita tidak mirip denganku dan putri kita tidak mirip denganmu. Tidak ada satu pun yang mirip kita?" ucap Agam sambil membayangkan bentuk wajah twin. Tadinya Agam berharap semakin mereka besar akan terlihat mirip dirinya dan juga Baby, tapi harapannya itu mulai kandas saat melihat twin yang justru mirip adik dan adik iparnya.
"Benar juga, kenapa Hawa justru mirip Cleo? Aku benci sekali pada adikmu itu, tapi kenapa wajah putri kita mirip dia." Sahut Baby dengan kesal.
"Dan kenapa Adam mirip Kenan? Apa kau juga membencinya?" tanya Agam dengan menyelidik.
"Ish.. kalau itu justru kebalikannya, aku begitu menyukai wajah Kenan yang begitu mirip dengan Kakek Kenzo." Ucap Baby keceplosan.
"What? Jadi kau menyukainya?" tanya Agam tak terima.
"Eh, bukan begitu A." Baby mundur secara perlahan. "Maksudku, aku menyukai Kakek Kenzo, makanya putra kita—"
"Jangan berbohong!" Agam mendorong tubuh istrinya hingga terlentang di atas tempat tidur, dan dengan cepat menghimpit tubuh mungil itu. "Adam aku yang membuatnya, tapi putra kita justru mirip Kenan hanya karena kau menyukainya. Seharusnya kau itu menyukai ku!" ucap Agam dengan emosi.
Baby hanya diam saja tidak berani menjawab perkataan Agam, karena dia tidak ingin keceplosan lagi untuk yang kesekian kalinya.