Love You A

Love You A
Part 50


"Tapi Luna —"


"Aku tidak akan menceraikan Baby." Potong Agam dengan sangat tegas. Entah mengapa ia mengambil keputusan seperti itu, tapi yang jelas Agam merasa tidak terima Aunty Luna bersikap semaunya. Yang pertama meminta dirinya menikah dengan Baby, dan yang kedua ia di minta menceraikan gadis itu.


Sementara itu Luna yang mendengar keputusan Agam, rasanya ingin sekali berteriak dengan penuh bahagia bila perlu melakukan koprol sekalipun.


"Setidaknya sampai Baby benar-benar sembuh, setelah itu aku akan mengambil keputusan." Lanjut Agam.


Membuat kebahagiaan yang baru saja di rasakan Luna menghilang seketika. "Oh my God, baru saja aku merasa bahagia dia tidak menceraikan putriku. Tapi tadi dia bilang apa? Sampai putriku benar-benar sembuh?" umpat Luna dalam hati, kalau saja ia tidak ingat menantunya itu adalah keponakannya sudah ia tendang pria itu keluar dari rumah sakit. "Baiklah jika itu keputusanmu A, tapi ingat jangan pernah menyesalinya!"


Agam hanya diam tidak menyahuti perkataan Aunty Luna, karena saat ini ia tengah menimang-nimang apa keputusan yang diambilnya itu sudah benar.


*


*


Keesokkan harinya.


"Mom kenapa dia masih ada di ruangan ku?" bisik Baby pada mommy nya, karena merasa bingung melihat Agam yang belum juga pulang sejak kemarin. Bukankah seharusnya pria itu tidak menginap di ruangannya, mengingat sepupunya itu baru saja menikah.


Ya, Baby sudah mengingat kenapa dirinya bisa berada di rumah sakit dengan luka dibeberapa tubuhnya, terutama kepalanya yang masih terasa sakit. Ia ingat dengan jelas mobilnya menabrak pembatas jalan saat hendak menghadiri pernikahan pria itu.


"Ish, tentu saja Baby ingat dia itu Agam Mateo sepupuku, tapi kenapa dia masih ada di sini? Kenapa dia tidak pulang?"


Luna hanya diam menatap pada putrinya dengan kening yang berkerut. "Kau tidak suka jika A ada di sini?"


"Bukan tidak suka Mom tapi aneh saja, bukankah dia sudah menikah? Apa istrinya tidak mencari Kak A? Dan aku juga merasa tidak nyaman, karena sejak kemarin Kak A terus menatapku dengan tajam."


"Kak A?" Luna kembali bingung, sejak kapan putrinya itu memanggil Agam Mateo dengan sebutan kakak. "Baby dia itu A, biasanya kau akan senang berada di dekatnya. Tapi kenapa sekarang kau merasa tidak nyaman?"


"Kenapa aku harus senang?" Baby menjawab pertanyaan Mom Luna dengan sebuah pertanyaan.


"Ck, sepertinya ada yang tidak beres dengan otak putriku. Tadi dia bilang merasa tidak nyaman dengan keberadaan A? Sejak kapan Baby yang nota bene begitu mencintai A dan selalu mengejar pria itu kini merasa tidak nyaman berada di dekat Agam Mateo."


Luna yang merasa bingung memutuskan membisikkan sesuatu di telinga putrinya.


"What? Aku mencintai kak A? Mom jangan bercanda, mana mungkin aku mencintai sepupuku sendiri." Jawab Baby dengan berbisik.


Sontak jawaban Baby membuat Luna terkejut, ia sekarang semakin yakin otak putrinya itu masih terganggu karena kecelakaan beberapa hari yang lalu, sampai gadis itu tidak mengingat dengan perasaannya sendiri.


"Baby sayang kau di sini dan jangan turun dari ranjang! Mom dan A ingin menemui dokter dulu." Setelah mengucapkan hal itu Luna menarik tangan keponakannya untuk keluar dari ruang rawat putrinya.