Love You A

Love You A
Part 89


"A..." Baby menjerit saat tiba-tiba saja tubuhnya dibawa berguling hingga membuatnya kini berada di atas tubuh Agam.


"Kalau seperti ini kau yang berat," Goda Agam sembari mengusap punggung istrinya dengan penuh kelembutan, punggung mulus yang kini dipenuhi oleh butiran keringat sisa percintaan mereka.


"Ish, kalau begitu cepat lepaskan!"


"Apa yang dilepaskan?" goda Agam.


"A..." Baby menggigit dada bidang suaminya dengan gemas, yang justru tanpa disadarinya telah memancing hasrat pria itu. "Kalau begitu aku saja," ia hendak turun dari tubuh Agam, namun pria itu justru mendekapnya semakin erat hingga Baby merasakan sesuatu yang masih ada di dalam dirinya kembali memenuhi bagian intinya.


"Aku menginginkan mu lagi," bisik Agam.


'Tidak A, aku lelah."


"Kau cukup diam seperti tadi," Agam membawa Baby kembali dibawah kuasanya, hingga wanita itu hanya bisa pasrah menerima semua yang dilakukannya.


*


*


Keesokan harinya.


"A kau mau kemana?" Baby mengusap kedua matanya, menatap pria yang semalam sudah memberikan rasa kenikmatan yang belum pernah ia rasakan sampai berulang kali hingga kelelahan dan tak mampu untuk bergerak sedikitpun.


"Oh..." Baby kembali memejamkan kedua matanya untuk beristirahat, karena tubuhnya lelah setelah percintaan panas mereka yang baru selesai saat subuh tadi.


"Kau istirahat dan jangan kemana-mana! Ingat nanti malam kita akan pergi ke Paris." Agam berjalan menghampiri istrinya lalu mengecup sekilas bibir yang sejak tadi menggodanya.


Baby tidak menjawab pertanyaan Agam karena rasa kantuk yang melanda dirinya, namun rasa kantuk itu menghilang saat ia mendengar suara pintu tertutup dan kilasan nama Cindy Bernade berputar di kepalanya.


"Tunggu dulu! Tadi A bilang ingin bertemu dengan Cindy?" gumamnya dengan kesadaran yang tiba-tiba penuh. "Aku harus ikut!" Baby yang tergesa-gesa ingin menyusul Agam hanya sempat melilitkan selimut ditubuh polosnya, ia terpaksa berlari meskipun lelah dan remuk masih dirasakan tubuhnya. "A tunggu!" Baby berteriak mengejar Agam yang sudah berada di ruang tengah, dan karena berjalan terburu-buru tanpa sadar kakinya menginjak selimut yang dikenakan hingga membuatnya terjatuh dengan sangat keras. "Aduh sakit..." teriaknya sembari mengeratkan pegangan pada selimut agar tidak lolos dari tubuhnya.


Agam yang mendengar suara teriakkan langsung menatap kebelakang. "Baby...!" Agam tak percaya dan begitu terkejut dengan apa yang dilihatnya, bukan terkejut karena melihat istrinya terjatuh di atas lantai, karena seingatnya wanita itu memang hobi terjatuh ketika berjalan. Tapi yang membuatnya terkejut adalah penampilan Baby yang hanya mengunakan selimut untuk menutupi tubuhnya. "Apa yang kau lakukan?" Agam menghampiri istrinya, dan tanpa banyak berkata menggendong tubuh mungil itu masuk ke dalam kamar mereka.


"A..."


"Diam!" Agam mendudukkan Baby ditepi ranjang, ia marah dengan apa yang diperbuat istrinya dengan keluar dari kamar hanya menggunakan selimut. Bagaimana kalau tadi ada pelayan pria atau pengawal pribadi mereka yang melihat penampilan Baby, Agam tidak bisa membayangkan kalau hal itu sampai terjadi.


"A jangan marah! Tadi aku hanya ingin menyusul mu dan lupa kalau—"


"Jangan bertindak konyol seperti ini lagi!" Agam menatap tajam wanitanya. "Sudah aku katakan berulang kali, tubuh ini hanya milikku dan hanya aku yang berhak menyentuh dan melihatnya! Kau mengerti?"


Baby hanya menjawab dengan anggukan kepala tanpa berani menatap Agam. "Maaf..." lirihnya.


Agam mengusap wajahnya dengan kasar karena tersadar sudah membuat Baby ketakutan. "Apa ada yang sakit?" Agam memeriksa kaki istrinya dengan teliti.