Love You A

Love You A
Part 83


"Ini," Sky mengusap wajahnya lalu tersenyum tipis. "Tidak apa-apa hanya luka kecil, jadi apa jawabanmu?" tanya Sky seraya menutupi kebenaran tentang luka yang didapatnya dari anggota Delta yang bernama Alex, yang tiba-tiba saja kemarin membawanya ke suatu tempat dan memukulnya tanpa memberi tahu apa kesalahannya. Tapi ia menduga ini ada kaitannya dengan Baby karena setahu dirinya tim Delta milik Boy Arbeto.


"Jawabanku?" Baby balik bertanya karena tidak mengerti dengan pertanyaan pria itu.


"Jawaban atas perasaan ku," Sky menarik tangan Baby lalu menggenggamnya. Ia sangat berharap gadis itu akan menerima cintanya, sehingga penantian dirinya selama ini dan luka di wajah dan tubuhnya tidak sia-sia.


Baby yang baru tersadar arah pembicaraan mereka menjadi bingung harus menjawab apa, karena ia merasa tidak tega menolak pria itu untuk yang kesekian kalinya. Tapi mau tidak mau Baby harus memberikan jawaban karena tidak mungkin ia menggantung perasaan cinta Sky, terlebih saat ini statusnya sudah menjadi istri dari seorang Agam Mateo yang tidak akan pernah bisa membalas perasaan tersebut.


"Sky sebelum menjawab pertanyaan mu, ada yang harus aku katakan terlebih dahulu."


Deg.


Entah mengapa perasaan Sky mengatakan apa yang akan dikatakan Baby akan membuatnya patah hati. Dan benar saja dugaannya, apa yang dikatakan gadis itu benar-benar membuat hatinya terluka, ia tidak menyangka kalau selama ini Baby berpura-pura lupa ingatan padahal sesungguhnya gadis itu mengingatnya, dan dari semua kenyataan itu yang membuatnya sangat terluka, yaitu status Baby yang ternyata sudah menikah dengan Agam Mateo.


Kini ia tahu kenapa dirinya dibawa oleh Alex dan dipukuli hingga babak belur, bukan karena Boy Arbeto yang tidak suka melihat kedekatannya dengan Baby, tapi karena Agam Mateo yang marah karena istrinya di dekati olehnya.


"Sky aku minta maaf karena tidak berkata jujur, dan aku minta maaf karena tidak bisa membalas perasaanmu." Ucap Baby dengan perasaan bersalahnya.


"Wow.. aku tidak tahu harus berkata apa," ujar Sky dengan jujur karena masih terkejut mengetahui kenyataan gadis yang ia cintai sudah menjadi milik pria lain.


"Maaf..." hanya kata itu yang bisa Baby sampaikan tanpa tahu harus mengatakan apa agar pria itu tidak sakit hati terhadapnya.


"Kau tidak perlu meminta maaf," Sky kembali menggenggam tangan Baby setelah tadi sempat ia lepaskan karena terkejut mendengar perkataan gadis itu. "Perasaan cinta tidak bisa kita paksakan, dan aku sadar cintaku ternyata tidak cukup kuat untuk menarik cintamu." Sky berusaha membesarkan hatinya untuk menerima kenyataan bahwa gadis yang dicintainya tidak akan pernah bisa jadi miliknya.


"Hei, kau tidak perlu bersedih seperti itu. Karena yang seharusnya bersedih itu adalah aku." Sky mengacak-acak rambut Baby dengan gemas. "Walaupun aku sudah kalah dari seorang Agam Mateo, tapi setidaknya aku pernah merasakan apa yang dimilikinya."


Baby mengerutkan keningnya dengan wajah yang berpikir. "Maksudmu?"


"Aku pernah merasakan bibir istrinya walaupun hanya sesaat," Sky mengerlingkan matanya.


"Sky," pekik Baby dengan semburat malu diwajahnya saat mengingat kejadian kecupan kilat antara dirinya dan pria itu.


Sky pun tertawa saat melihat wajah Baby yang terlihat malu, begitu menggemaskan dan sangat cantik hingga membuat ia menyesal tidak bertemu lebih awal dengan Baby sebelum gadis itu jatuh cinta pada Agam.


"Kita masih tetap berteman kan?" tanya Sky sembari mengusap pipi Baby dengan lembut.


"Tentu saja, dan aku mendoakan suatu saat nanti kau akan mendapatkan wanita yang begitu sempurna, baik hati, dan cantik. Tentu saja dengan usia yang tidak jauh darimu, tidak seperti kita yang berbeda beberapa tahun."


"Ya, aku harap akan mendapatkan wanita seperti itu walaupun aku tidak yakin bisa mencintainya sama seperti aku mencintaimu."


"Sky..."


"Aku hanya bercanda," Sky kembali tertawa untuk menutupi luka di hatinya.


Baby dan Sky pun melanjutkan kembali perbincangan mereka tanpa mengungkit perasaan di dalamnya. Dan tanpa mereka berdua sadari sejak tadi ada seseorang yang menatap kebersamaan mereka dengan hati yang terbakar oleh api kecemburuan, terlebih saat melihat pipi wanitanya disentuh oleh pria itu. Rasanya ingin sekali ia menghajar pria itu habis-habisan dan memporak-porandakan sekitarnya jika tidak mengingat saat ini dirinya sedang bersama kliennya.