
Suara ******* itu semakin terdengar keras ditelinga Agam saat tangannya mengusap dan meremas perlahan kedua milik wanitanya, lalu usapan itu berpindah ke belakang untuk melepaskan pengait yang ada di punggung, dan dengan gerakan cepat menarik semuanya keatas hingga terlepas dan membuangnya secara asal. Hingga akhirnya dapat ia lihat tubuh bagian atas Baby yang polos terbaring pasrah dibawahnya.
Dan tanpa mau membuang waktu, Agam membuka kancing kemejanya, melepasnya dengan tergesa-gesa berikut dengan celana hingga tak tersisa apa pun ditubuhnya.
"Kenapa, hem?" Agam menarik tangan Baby yang tengah menutup kedua matanya.
"Tidak, aku hanya masih takut melihat itu." Baby dengan malu-malu melihat milik suaminya yang terlihat sudah siap seperti malam itu.
Agam tersenyum merasa gemas dengan tingkah Baby yang mengatakan takut tapi tetap melihatnya.
"Kak jangan!" Baby menahan tangan Agam yang hendak menurunkan rok yang dikenakannya.
"Baby kalau tidak dilepas—"
"Maksudku jangan lama-lama, cepat lepaskan!" Baby ikut membantu melepaskan rok yang dikenakannya, hingga membuat Agam bingung dengan kelakuan wanita itu.
Karena kemarin malam dan tadi pagi Baby masih terlihat takut untuk berhubungan intim dengannya, tapi kenapa sekarang wanita itu tidak menolak dan justru terlihat bersemangat. Namun semua kebingungan itu hilang seketika saat kedua matanya kini menatap pemandangan indah dan sexy, yang membuat jakun nya naik turun menelan saliva dengan susah payah. Apalagi kalau bukan melihat tubuh polos istrinya tanpa satu benang pun yang menempel di kulit putih halus itu.
"Kak tunggu!"
"Apalagi sayang?" tanya Agam yang saat ini sudah kembali menghimpit tubuh Baby, merasakan kulit tubuh mereka yang bersentuhan hingga menciptakan percikan-percikan panas bagi keduanya.
"Pelan-pelan," pinta Baby.
"As you wish," Agam mencium kembali bibir merah yang sudah menjadi candunya, menyesapnya dengan perlahan hingga lidah mereka saling membelit dan bertukar saliva. Tangannya tidak tinggal diam mengusap tubuh mungil itu hingga berakhir di bagian paling sensitif yang pernah ia masuki walau hanya sebentar.
"A..." Baby yang tidak bisa menahan rasa geli dan panas yang datang secara bersamaan saat Agam menyentuh tubuhnya, hanya bisa menyebut nama pria itu sembari mencengkram rambut suaminya dengan kencang. Cengkraman itu semakin kuat saat ia merasakan sakit di bagian intinya saat sesuatu mulai memasukinya. "A sakit," lirih Baby. Walaupun rasa sakit itu tidak sesakit tadi malam, tapi tetap saja bagi Baby itu terasa sakit.
"Tahan sayang," Agam mulai menyempurnakan penyatuan mereka dengan bergerak secara perlahan, membawa wanita yang dicintainya itu hanyut dalam gelombang kenikmatan yang tidak pernah mereka rasakan sebelumnya. Semakin cepat dan dalam ia bergerak semakin cepat pula deru napas Baby terdengar ditelinga nya. Sehingga erangan dan ******* memenuhi seluruh sudut kamar yang menjadi saksi bisu penyatuan cinta mereka.
Agam yang terus bergerak di atasnya, membuat Baby gelisah saat sesuatu dari dalam tubuhnya mendesak untuk keluar, dan rasa itu semakin kuat kala Agam bergerak cepat sampai ia melampiaskan rasa sakit bercampur nikmat itu dengan mencakar punggung suaminya.
Cukup lama mereka berdua saling menyatu menikmati surganya dunia, hingga akhirnya pelepasan itu mereka rasakan secara bersamaan dengan ambruknya tubuh Agam diatas tubuh Baby.
"A berat..." dengan napas yang naik turun serta dengan sisa kekuatan yang dimilikinya Baby berusaha mendorong tubuh Agam.
"Maaf," Agam menumpu kedua siku untuk menahan berat badannya tanpa turun dari atas tubuh Baby, ia ingin menatap dengan intens wajah istrinya yang terlihat sangat cantik saat kelelahan setelah mereka mengarungi kenikmatan surga dunia bersama-sama. Hingga rasanya ingin sekali Agam mengulangi percintaan mereka yang baru saja selesai.