
"Kak aku hanya ingin buang air kecil, kenapa pakaianku dilepas?" Baby menahan lengan Agam yang hendak membuka pakaiannya.
Sungguh ia tidak menyangka suaminya itu akan menggendong dirinya sampai ke dalam bathroom ketika ia berkata sakit di bagian intinya. Dan kini Agam justru tidak mau keluar dari bathroom dengan alasan ingin membantunya.
"Kita sekalian mandi."
"Eh, tapi—" Baby tidak bisa meneruskan perkataannya saat pria itu menarik paksa pakaiannya hingga tidak ada satu helai benang pun menempel ditubuhnya. "Ya ampun, aku malu sekali." Ia menutup bagian atas dan bawah dengan kedua tangannya.
"Kenapa harus malu? Semalam aku sudah melihat dan sedikit merasakan tubuhmu."
"Oh my God, kenapa bisa aku mempunyai suami seperti itu." Gumamnya dalam hati yang tidak habis pikir pada Agam yang bisa berkata hal vulgar dengan raut wajah datar tanpa ekspresi apa pun. Dan kini tanpa rasa malu sedikitpun suaminya itu membuka seluruh pakaiannya, membuat Baby terkejut hingga membalik tubuhnya.
"Mau sampai kapan kau berdiri di sana!" Agam menarik istrinya dan membawa wanita itu ke dalam bathtub, merendam tubuh mereka berdua dengan air hangat yang belum sepenuhnya terisi, membuat Agam bisa melihat dengan jelas punggung mulus Baby yang tepat berada di depannya.
Kalau saja ia tidak ingat hari ini ada pertemuan penting dikantornya, sudah dapat dipastikan saat ini juga Agam akan mencumbu istrinya itu. Walaupun sebenarnya bisa saja ia lakukan percintaan panas itu dengan cepat, namun tidak Agam lakukan karena bagi pria itu percintaan pertama harus dilakukan dengan lembut, dengan durasi yang lama dan ditempat yang tepat.
"Kak kita hanya mandi saja kan? Tidak melakukan itu," tanya Baby saat merasakan punggungnya mulai di bersihkan oleh Agam.
"Hem," Agam menjawab dengan singkat. "Hari ini kita pulang."
Mendengar perkataan Agam reflek Baby membalik tubuhnya, menatap pria itu dengan wajah yang terkejut. "Aku baru menginap semalam, A. Eh maksudku kak." Baby merutuki kebodohannya yang memanggil Agam tanpa ada sebutan kak di depannya.
Agam tidak menjawab pertanyaan Baby, ia menatap kedua mata wanitanya dengan intens. "Tempat kita di mansion Mateo, bukan di mansion Arbeto." Jawab Agam setelah terdiam cukup lama.
"Tapi kak,"
"Kenapa wajah A terlihat marah?" gumam Baby dalam hati, lalu memutuskan untuk membilas tubuhnya agar bisa menyusul Agam.
*
*
Dan disinilah mereka berdua saat ini, di ruang makan bersama dengan Boy Arbeto dan Tita Anggara. Mereka berempat menikmati sarapan dengan tenang tanpa ada satu pun yang bersuara. Bahkan setelah sarapan itu selesai ke-empat nya tidak juga ada yang membuka suara, sampai pada akhirnya Boy Arbeto memberitahu besok malam mereka akan pergi ke Paris untuk menghadiri pernikahan Lea Richard.
"Kenapa mendadak sekali?" tanya Tita dan Baby hampir bersamaan.
"Entahlah," Boy mengangkat kedua bahunya. "Aku saja mendapatkan kabar itu tadi pagi."
"Dengan siapa Lea menikah?" sahut Agam.
Mendengar suara Agam sontak membuat Baby tersenyum, karena pria itu akhirnya bersuara setelah cukup lama diam semenjak keluar dari bathroom.
"Dengan Bara Klopper."
"Apa?" pekik Baby dan Tita bersamaan.
Lalu keduanya beranjak dari tempat makan dengan terburu-buru karena ingin menghubungi Lea, untuk menanyakan apa benar wanita itu akan menikah dengan Bara yang nota bene pria yang sudah mempunyai istri. Dan setelah menghubungi sepupunya itu, baik Baby dan juga Tita saling berpandangan dan menghela napas mereka dengan berat setelah mengetahui kebenaran dibalik pernikahan tersebut.