
Setelah sampai di mansion Mateo, Baby segera masuk ke dalam kamarnya tanpa mempedulikan Cleo yang menyapa saat berpapasan ketika keluar dari mobil. Dia juga tidak mempedulikan Agam yang sejak tadi memanggil namanya dengan setengah berteriak.
Saat sudah di dalam kamar Baby naik ke atas ranjang dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut, berharap Agam masuk ke dalam kamar untuk membujuknya. Tapi setelah lama menunggu hingga hampir sepuluh menit, dia tidak mendengar suara pintu yang dibuka dari luar. Karena merasa penasaran, Baby membuka selimutnya untuk memastikan apa benar Agam tidak menyusulnya masuk ke dalam kamar.
"Di mana dia?" Baby turun dari atas ranjang, berjalan keluar dari kamar untuk mengetahui dimana keberadaan Agam. Hingga langkah kakinya membawa Baby ke ruang tengah di mana suami, dan adik iparnya berada. Dan bukan hanya ada mereka berdua, di ruangan tersebut juga ada Alex yang terlihat menundukkan kepala.
"Mereka kenapa?" Baby yang merasa penasaran dengan apa yang dibicarakan oleh ketiganya, memilih bersembunyi di balik dinding untuk mendengar pembicaraan mereka. Dan jika kalian bertanya kenapa dirinya tidak ikut bergabung saja? Jawabannya hanya satu kata yaitu, marah. Karena Baby masih marah pada Agam hingga menahan keinginannya untuk bergabung bersama mereka.
"Aku tidak mau menikah! Apalagi dengan Kenan!"
Terdengar suara Cleo yang begitu keras sampai terdengar jelas di telinganya. "Oh, nama pria yang dijodohkan dengan Cleo itu Kenan?" gumam Baby dalam hati.
"Kau tidak punya pilihan! Meskipun menolak Kenan, maka Dad dan Mommy akan menjodohkanmu dengan pria lain yang belum tentu lebih baik dari Kenan."
Kini terdengar suara Agam yang berbicara dengan tegas. "Jadi mereka sedang berdebat masalah perjodohan Cleo." Baby terus mendengarkan perbincangan mereka, dan segera berjalan kembali ke dalam kamarnya saat perbicangan mereka hampir selesai.
Baby kembali naik ke atas ranjang, menutup seluruh tubuhnya dengan selimut dengan harap-harap cemas. Dan jantungnya kini berdetak dengan cepat saat mendengar suara pintu yang dibuka dari luar, serta langkah kaki yang mendekat kearahnya.
Deg.
Baby semakin mengeratkan selimutnya saat mendengar suara Agam.
"Bangunlah!" Agam hendak menarik selimut yang menutupi tubuh Baby, namun terhenti saat melihat wanitanya sudah lebih dulu membuka selimut.
"Ck, kau itu benar-benar tidak bisa bersikap romantis!" gerutu Baby dengan wajah yang kesal. "Seharusnya kau itu langsung masuk ke dalam kamar! Merayu dan membujukku agar tidak marah, tapi kau justru..."
"Memangnya kau sedang marah?" potong Agam dengan datar sembari membuka dasi dan kancing kemejanya.
"Ya ampun, dia masih tanya memangnya aku sedang marah?" ketus Baby dengan wajah yang semakin kesal dan ingin menarik selimutnya kembali, namun tidak bisa karena selimut itu justru sudah lebih dulu di tarik Agam .
"Aku tahu kau marah." sahut Agam sembari mengacak-acak rambut Baby dengan gemas.
"Bagus kalau kau tahu," ujar Baby tanpa berani menatap suaminya. Karena saat ini Agam sudah bertelanjang dada, dan sedang membuka ikat pinggang celananya. Sudah dapat dipastikan bukan, sebentar lagi akan ada pemandangan yang membuat air liur nya menetes. Bahkan saat ini saja Baby sudah menelan salivanya dengan susah payah saat membayangkan roti sobek di perut Agam, dengan otot dibagian lengan dan dada bidang pria itu yang terlihat kekar. Sungguh sangat menggoda iman bukan? Bayangkan betapa hangatnya tubuh kita jika dipeluk oleh tubuh kekar milik Agam Mateo.