
"Bagaimana? Sekarang kau sudah percaya?" tanya Mars yang berjalan menghampiri sepupunya yang tampak diam di tempatnya.
Agam tidak menjawab perkataan Mars, pandangan matanya terus menatap kearah Baby dengan perasaan campur aduk di hatinya antara sedih dan bingung menjadi satu.
"Mobilnya menabrak pembatas jalan, dan saat di bawa ke rumah sakit keadaannya sudah tidak sadarkan diri sampai dengan saat ini." Jelas Mars panjang lebar. "Dan saat aku menghubungimu beberapa menit yang lalu, jantung Baby berhenti berdetak. Itu sebabnya semua orang yang ada di luar masih shock dan menangis."
"Jantungnya berhenti berdetak? Maksudmu Baby—" Agam tidak dapat meneruskan perkataannya.
"Ya dia hampir dinyatakan meninggal, tapi untung saja dokter masih bisa menyelamatkannya." Mars menepuk pundak Agam lalu berjalan keluar ruangan, membiarkan sepupunya untuk melihat keadaan Baby.
Sementara itu Agam yang masih terpaku ditempatnya, hanya mampu menggenggam tangan Baby tanpa satu katapun. Jujur ia masih terkejut dan bingung dengan kejadian yang dialaminya, terlebih saat melihat keadaan gadis yang selalu membuatnya kesal kini hanya diam berbaring tak berdaya.
"Baby..." lirih Agam dengan rasa sesak yang ada di dalam dadanya, tanpa sadar air mata menetes di kedua sudut matanya. Air mata yang tak pernah ia keluarkan saat dirinya jatuh terpuruk seperti apa pun, bahkan saat adiknya sedang sakit sekalipun. "Apa ini?" Agam mengusap air matanya lalu turun mengusap dadanya yang terasa sesak. Karena tidak ingin berlama-lama di situasi yang tidak pernah ia rasakan, Agam pun memilih keluar dari ruangan begitu saja.
Dan saat ia sudah di luar ruangan, Agam melihat kesedihan di mata seluruh keluarga besar Arbeto dan Graham. Ia memilih duduk diam diantara para sepupunya, dengan sejuta tanya tentang perasaan sesak dan sedih yang tengah ia rasakan dihatinya.
"A kenapa kau ada disini? Bagaimana dengan pernikahanmu?" tanya Dafa saat menyadari keponakannya sudah keluar dari ruang perawatan Baby.
"Aku—" belum sempat menjawab pertanyaan uncle Dafa, ia melihat kedua orang tua dan ketiga adiknya berjalan ke arahnya.
"Putriku masih belum sadarkan diri." Jawab Luna yang kembali menangis.
Sedangkan David memilih menepuk bahu Dafa, untuk memberikan dukungan pada sepupunya itu yang terlihat sangat bersedih.
"Bagaimana kronologi kejadiannya?" tanya David.
Dafa pun menceritakan apa yang dikatakan oleh saksi mata dan juga pihak rumah sakit yang menangani Baby setelah kecelakaan itu terjadi.
Agam yang duduk diantara mereka mendengarkan semua perkataan Uncle Dafa, sembari meremas kedua tangannya dengan wajah yang gelisah. Ia merasa sangat bersalah karena secara tidak langsung sudah membuat Baby kecelakaan. Dan jauh di lubuk hatinya yang terdalam, ia merasa takut Baby pergi begitu saja dari sisinya.
Karena hal itu pulalah yang membuat Agam tidak ingin pergi jauh dari ruangan Baby, ia terus berada di sana selama beberapa hari ini tanpa peduli pandangan aneh keluarga besar mereka tertuju padanya.
"A pulanglah dulu! Banyak yang harus kau urus setelah kekacauan tiga hari yang lalu." Ucap Luna pada keponakannya yang terus berada di sisi Baby, dan hanya keluar di saat pria itu berganti pakaian. Keponakannya itu berubah menjadi lebih dingin dan terlihat sangat tertekan.
"Baby belum sadar, jadi..." Agam tidak meneruskan perkataannya.
"A Aunty tahu kau pasti merasa bersalah atas keadaan Baby, karena dia kecelakaan di saat menghadiri pernikahanmu. Tapi tolong jangan seperti ini," Luna mengusap air matanya yang kembali terjatuh mengingat sudah tiga hari putrinya masih belum sadarkan diri. "Baby pasti sedih melihat orang yang dicintainya menyiksa dirinya sendiri karena rasa bersalah."