Love You A

Love You A
Bab 38


Setelah kejadian hari itu dimana Baby memutuskan untuk melupakan cinta pertamanya, ia pun mulai menjalankan keputusan tersebut dengan cara tidak lagi bertemu dengan Agam dan menghubungi ponsel pria itu lagi.


Baby bahkan tidak keluar dari kamarnya saat Agam datang ke mansion utama, dan Baby dengan besar hati menemani Cindy untuk mencoba gaun pengantin yang akan dikenakan wanita itu saat menikah dengan Agam nanti.


Dan hari-hari berikutnya yang dijalani Baby hanyalah bekerja di perusahaan keluarganya dan juga kuliah, dan setiap malamnya akan ia isi dengan tangisan saat keinginannya untuk bertemu dan berbicara dengan Agam begitu membuncah di dadanya. Apalagi malam ini adalah malam yang berat baginya, karena besok pagi pria yang sangat ia cintai itu akan menikah dengan wanita lain.


"Aku tak menyangka akhirnya akan seperti ini." Baby menatap foto Agam yang selalu menghiasi wallpaper ponselnya. "Ternyata benar apa yang dikatakan oleh banyak orang, kalau cinta pertama itu pasti selalu gagal." Baby terus menatap foto Agam, ia teringat saat mengambil foto tersebut dan diusir dari dalam kamar sepupunya itu. "Aku merindukanmu A." air mata yang sejak tadi ditahannya kini kembali mengalir di kedua pipinya.


Di saat hatinya sedang bersedih Baby mendengar suara pintu kamarnya yang diketuk dari luar.


"Boleh aku masuk?" tanya Tita dari balik pintu.


"Masuklah kak." Baby mengusap air matanya dengan kasar.


"Hei apa aku mengganggumu?" Tita duduk di atas tempat tidur, dimana adik iparnya itu sedang bersandar di headboard.


"Tidak," jawab Baby dengan singkat.


"Are you okay?" Tita bisa melihat jejak air mata di kedua pipi gadis itu.


Baby hanya diam tidak menjawab pertanyaan kakak iparnya.


"Aku baik-baik saja kak, jadi untuk apa aku menangis?" Baby mengatakan hal tersebut dengan air mata yang kembali jatuh di kedua pipinya. "Aku tidak boleh menangis kak, aku tidak boleh menangis." ucap Baby dengan isak tangis dibibirnya.


Melihat Baby yang menangis, Tita langsung memeluk gadis itu dengan erat. "Tidak apa-apa Baby, keluarkan semua kesedihanmu."


"Aku mencintainya kak, sangat mencintainya. Tapi dia—" Baby tidak bisa meneruskan perkataannya, dan memilih untuk menenggelamkan kesedihannya di dalam pelukan Tita.


Selama lima belas menit Baby menangis, dan Tita dengan setia menemani adik iparnya itu hingga tenang kembali.


"Kau sudah merasa lega?" tanya Tita saat melihat Baby sudah tidak menangis lagi.


Baby menjawab dengan anggukan kepala.


"Dengar Baby kau masih muda sama sepertiku, jadi lupakanlah A! Masa depanmu masih panjang dan kau masih bisa bertemu dengan pria lain yang lebih baik dan lebih tampan dari A. Jangan sepertiku yang harus terjebak dengan kakakmu yang aneh itu." Bisik Tita sembari tertawa.


"Kak kau jangan mengatakan kak B aneh, bukankah sesama orang aneh dilarang saling menghina." Balas Baby dengan tersenyum meski dipaksakan.


"Sesama orang aneh? Maksudmu aku juga aneh?" tanya Tita tidak terima, yang hanya dijawab anggukan kepala dan tawa Baby.


Bukannya marah karena dikatakan aneh oleh adik iparnya, Tita justru ikut tertawa saat melihat Baby sudah kembali tertawa. Karena sudah berhari-hari gadis itu lebih banyak diam, dan selalu menghindar di saat mereka tengah berkumpul.