
"Luna aku benar-benar sangat menyesal," Mini merasa tidak enak hati karena kesedihan Baby disebabkan oleh rasa cintanya pada Agam.
"Kau tidak perlu menyesali apa pun, lupakan saja semua yang aku katakan tadi." Luna ikut merasa tidak enak hati karena sudah merusak kebahagian Mini di hari pernikahan Agam. "Wah, putramu sangat tampan!" Luna menatap keponakannya yang tengah berjalan masuk ke dalam ballroom. Agam terlihat tampan dan gagah dengan setelan jas berwarna putih yang dikenakannya, bahkan pria itu terlihat seperti seorang pangeran meski di wajah tampannya tidak ada senyuman sedikitpun. "Kalau Baby ada disini, dia pasti akan menjerit dengan gila karena ketampanan putramu itu." Canda Luna dengan tertawa.
Mini pun ikut tertawa sambil menatap kearah putranya dan Cindy, yang saat ini tengah berjalan menuju tempat yang sudah di sediakan untuk pembacaan akad nikah.
Setelah kedua mempelai duduk di tempat mereka, seluruh keluarga dan tamu yang hadir pun ikut duduk untuk menyaksikan acara tersebut. Tidak terkecuali dengan Luna dan Mini, mereka pun langsung duduk ditempat yang sudah disediakan.
Drt.. drt.
Luna yang tengah harap-harap cemas menyaksikan Agam yang akan mengucapkan ijab kabul, terpaksa mengambil ponselnya yang sejak tadi bergetar di dalam clutch.
"Siapa sih?" Luna menatap nama yang tertera di layar ponselnya, lalu mengangkat panggilan tersebut saat tahu yang menghubunginya adalah putrinya.
"Mom apa acaranya sudah dimulai?" tanya Baby yang saat ini tengah mengendarai mobilnya.
"Baru di mulai, kau dimana sayang?" bisik Luna karena situasi di dalam ruangan terasa khidmat.
"Di jalan Mom, sekitar sepuluh menit lagi aku sampai." Baby mengendari kendaraannya dengan kencang agar cepat sampai, karena tidak ingin membuat Agam kecewa dirinya tidak menyaksikan acara penting tersebut.
"Baby hati-hati jangan mengebut!" entah mengapa perasaan Luna kembali tidak enak, ia merasa ada sesuatu yang akan terjadi tapi entah apa.
"Ya mom, aku ah...."
"Baby.. halo..." pekik Luna dengan sangat cemas.
Dafa yang duduk di samping Luna langsung menatap istrinya saat mendengar wanita itu memanggil nama putrinya dengan sedikit keras. "Ada apa sayang?"
Luna tidak menjawab pertanyaan Dafa, ia terus memanggil nama putrinya dengan lebih kencang. "Baby are you okay?" Luna mulai menangis saat tidak mendengar jawaban dari putrinya. Ia kembali memanggil nama Baby tanpa peduli seluruh tamu undangan menatapnya, bahkan acara ijab kabul terpaksa berhenti saat Luna berdiri dari tempat duduknya.
"Ada apa sayang? Ada apa dengan putri kita?" Dafa yang mulai cemas menarik ponsel Luna dan memanggil nama putrinya, namun tidak ada jawaban dari ponsel tersebut. "Kau mau kemana sayang?" Dafa menarik tangan Luna saat melihat istrinya hendak keluar dari ballroom.
"Aku harus pergi, aku harus melihat keadaan Baby, tadi dia—"
"Mom Baby kenapa?" tanya Boy dengan raut wajah yang khawatir.
"Tadi adikmu sedang mengendarai mobil, lalu tiba-tiba dia berteriak dan sambungan ponsel terputus." Luna yang bingung dan sangat cemas memilih pergi dari tempat tersebut, ia sangat takut putrinya mengalami sesuatu yang buruk.
Dafa sendiri ikut meninggalkan ballroom tersebut setelah melihat kecemasan di wajah Luna.
"Tunggu B!" David menahan langkah keponakannya. "Ada apa? Kenapa Mom dan Dad mu pergi?"
"Baby sepertinya mengalami kecelakaan, maaf uncle aku harus pergi." Boy bersama Tita menyusul kedua orang tuanya.
"Ada apa Dad?" tanya Agam yang sempat mendengar nama Baby di sebut-sebut, dan tiba-tiba saja seluruh keluarga besar Arbeto meninggalkan ballroom.