
Pagi hari di tengah riuhnya hiruk pikuknya kemacetan ibukota. Latar suara klakson kendaraan terdengar saling bersahutan, serta bau asap kendaraan yang menusuk hidung adalah hal biasa.
Karena di kejar waktu, tak sedikit kendaraan roda dua atau roda empat yang saling salip agar tak terlambat sampai di tujuan.
Rahma sebagai salah satu dari kumpulan pengguna jalan itu lebih memilih sabar dan mengalah daripada terjadi hal yang tak di inginkan.
Di temani lagu-lagu pilihan yang di putar di salah satu station radio, Rahma terus melajukan mobil hingga sampai di sebuah rumah dengan gaya tradisional.
Ragu yang menggelayuti hati membuat Rahma menunggu di dalam mobil beberapa menit sebelum akhirnya turun.
“Huft!! Bissmillah…” Di ketuknya pintu kayu berwarna coklat itu sembari mengucap salam.
“Waalaikumsallam…”
Seorang wanita paruh baya muncul dari balik pintu. “Neng Rahma.” Ucapnya tersenyum ramah.
“Bapak sama ibu ada mbok?”
“Ada, masuk.. masuk neng. Sebentar saya panggilkan sekalian bikin minum.” Si mbok membuka pintu lebih lebar.
“Iya, makasih mbok.”
Si mbok pun berlalu, dan Rahma memilih duduk di sofa single ruang tamu. Tak lama terdengar suara langkah kaki mendekat. Si mbok kembali dengan nampan di tangan di ikuti sepasang suami istri di belakangnya.
“Silahkan di minum neng.”
“Makasih mbok.” Si mbok berlalu setelah menyajikan tiga cangkir teh hangat di meja.
“Rahma.”
Sepasang suami istri itu tak lain adalah mertua Rahma yang bernama Ratna dan Agus.
”pak… bu…” Rahma mencium tangan keduanya.
“Tumben…” ucap Ratna kala melihat Rahma datang seorang diri, lantas mendudukan diri di sebelah suaminya.
“Iya..” Rahma tersenyum tipis mendengarnya.
Memang benar. Tumben!!! Biasanya dia memang datang berkunjung sebulan sekali, itu pun bersama suami dan kedua anaknya. Dan ini belum saatnya.
Bukan karena Rahma sombong atau tak mau berusaha menjalin kedekatan dengan mertuanya. Tapi karena dia merasa kurang di terima oleh keduanya. Terutama sang ibu mertua.
Dulu, awal menikah. Rahma kira karena belum terlalu dekat dan jarang berjumpa, makanya kedua mertuanya itu sedikit acuh tak acuh. Tapi makin lama dia tahu, kalau dirinya menantu yang kurang di harapkan.
Dari strata sosial, Rahma dan Hendra memang jauh berbeda. Rahma orang biasa yang harus bekerja keras untuk bertahan hidup, sedangkan Hendra, anak tunggal yang tak pernah di biarkan hidup susah.
“Bapak sama ibu sehat?” Rahma coba mencairkan suasana.
“Alhamdulillah baik. Ada apa? Apa ada hal penting yang mau di bicarakan sehingga kamu tumben-tumbenan datang sendiri.” Sindir Ratna halus.
“Iya. Ada hal penting yang mau Rahma bicarakan.” Jawab Rahma tenang tak mau terpancing.
“Soal apa?”
“Soal pernikahan diam-diam mas Hendra.” Rahma menarik nafas dan meloloskannya kasar.
Ekhem..!! Mertua Rahma berdehem, mereka saling melirik dengan raut wajah yang berubah tegang. Terkejut mungkin, dan bertanya-tanya bagaimana Rahma bisa tau rahasia yang mereka jaga.
“Maksud kamu apa Rahma?” Pak Agus yang sedari tadi diam menyimak kini bersuara. Bapak mertua Rahma itu masih berpura-pura tak mengerti.
“Maaf pak, bapak dan ibu tidak usah menutupi lagi. Rahma sudah tau semuanya.”
“Baguslah kalau kamu sudah tau.” Dengan santai bu Ratna menyesap teh hangatnya untuk sekedar mengusir rasa kaget.
Rahma tersenyum miris mendengar ucapan mertuanya. Hati yang sedang patah di tambah ucapan mertua yang santai namun nyelekit membuat emosi yang di pendam Rahma membuncah.
“Kenapa bapak dan ibu tidak memberitau Rahma tentang pernikahan itu?”
“Kalau kami memberitau, apa kamu yakin akan mengizinkan Hendra menikah lagi?” Ucap pak Agus dengan suara beratnya. “Lagipula kami juga terpaksa melakukannya.” Lanjut pria paruh baya itu.
“Tapi Rahma berhak tau.” Tegasnya.
“Sudahlah Rahma. Hendra melakukan itu demi kamu dan anak-anakmu juga. Orangtua perempuan itu mengancam akan melaporkan Hendra kalau Hendra tidak mau bertanggung jawab. Coba kamu pikir kalau itu sampai terjadi, karir Hendra sudah pasti akan hancur. Sekarang kamu terima saja, semua sudah terjadi yang penting Hendra bisa berlaku adil pada kalian.” Bu Ratna berkata panjang lebar.
Dalam hati Rahma benar-benar merutuki mertuanya itu. Gampang sekali dia berbicara. Coba rasakan sendiri. Dumel Rahma dalam hati.
“Berbicara jujur dan mengakui kesalahannya saja anak ibu tidak berani, apalagi harus berbuat adil.” Dengus Rahma. Kesopanan yang berusaha dia jaga perlahan sirna.
“Kalau bukan saya yang memergoki, entah sampai kapan saya akan di bohongi. Saya bukan wanita mulia yang bisa berbesar hati berbagi suami. Lebih baik berpisah daripada harus hidup di madu.” Ujar Rahma menggebu.
“RAHMA!!” Sentak bu Ratna. “Ngomong apa kamu?”
“Kenapa? Salah saya minta pisah? Lagipula untuk apa saya bertahan di dalam pernikahan yang sudah tak sejalan.”
“Jangan gegabah. Anak-anakmu mau kamu kasih makan pake apa kalau kamu minta pisah? Kamu itu hanya ibu rumah tangga Rahma. Kamu lupa selama ini kehidupan kamu bergantung pada Hendra.”
“Ya bapaknya lah yang kasih makan.” Tukas Rahma yang entah kenapa membuat bu Ratna naik pitam.
“TERUS!!”