
Rahma duduk termangu di undakan teras setelah mengirim pesan pada ibunya dan menjelaskan bahwa dia ada urusan mendadak jadi tak bisa menelpon. Matanya menatap jauh kedepan, otaknya berkecamuk. Dalam hati mempertanyakan, apakah keputusannya untuk bertahan sudah tepat?
“Aku bertahan demi anak-anak. Tapi semua akan percuma jika pada akhirnya mereka di abaikan juga.”
Senyum sinis tersungging di bibirnya kala teringat perkataan Hendra tadi. “Maaf… kalau Naira belum sembuh, mas izin undur kepulangan mas ya Ra.. tolong jelasin sama Kiara dan Maura.…”
“Jadi aku harus jelasin ke mereka kalau bapaknya gak bisa pulang karena harus ngurus anaknya yang lain yang lagi sakit. Gitu!! Gila ya.” Kekeh Rahma sinis. Mulutnya sudah gatal ingin mengeluarkan kata-kata kasar pada suaminya itu.
Puk!! Sebuah tepukan di bahu di ikuti sebuah suara membuat Rahma terkejut dan spontan menggeser duduknya. “Bu…”
“Astagfirullah… bi Nah.” Rahma melotot kaget seraya mengelus dada untuk meredakan jantungnya yang berdetak kencang.
“Maaf bu.” Ringis bi Nah.
“Bibi ngapain?”
“Nih… lagi nyapu.” Tangannya terangkat menunjukan sapu lidi di tangannya.
“Oh…” Rahma mengangguk.
“Ibu sakit? Atau ibu lagi ada masalah? Maaf saya lancang.” Ucapnya.
“Ha? Emang kenapa bi. Saya gak apa-apa kok.” Jawab Rahma memcoba tenang.
“Saya liat ibu daritadi ngelamun, terus ngomong sama ketawa sendiri.” Jelas bi Nah.
“Ooo… itu… itu tadi saya lagi keinget sesuatu makanya ketawa. Kalau gitu saya masuk duluan ya, mau istirahat sebentar.” Rahma memilih berlalu.
Bi Nah hanya bisa menatap Rahma yang melenggang pergi meninggalkannya dengan pandangan iba. Wanita paruh baya itu tau sang majikan sedang berusaha menutupi sesuatu.
\~*\~*\~*\~*\~
Suara gemerisik daun yang saling bergesekan tertiup angin seolah menimbulkan irama yang menenangkan. Di depan sebuah rumah bergaya kuno, terdapat pohon jambu air lengkap dengan amben di bawahnya. Terlihat wanita paruh baya sedang duduk menikmati semilirnya angin sambil sesekali menjawab sapaan para tetangga yang melintas.
“Mih…” seorang perempuan muda terlihat keluar dari dalam rumah.
“Kah…”
“Saurna bade nelepon si eteh?” Perempuan muda yang tak lain anak keduanya bernama Riri itu bertanya sambil mendudukan bokongnya di samping sang ibu.
(katanya mau telpon eteh/kakak)
“Pan entos, tapi sakeudap. Tadi si etehna nuju di jalan. Terus tadi bade nelepon balik tapi teu janteun soalna keur aya perlu ceunah.” Jelasnya.
(kan udah, tapo sebentar. Tadi si kakaknya lagi di jalan. Terus tadi mau telpon balik tapi gak jadi soalnya lagi ada urusan)
“Oohh… nya entos atuh. Ri sareung si a’a bade ka toko heula.”
(ya udah, Riri sama a’a(panggilan suami) mau ke toko dulu)
“Ati-ati.” Riri mengangguk dan mencium tangan ibunya sebelum beranjak.
Tak lama terlihat suami Riri bernama Hanif muncul dari arah samping rumaj dengan menuntun sepedah motor. “Pamit ka toko mih…” ucapnya juga tak lupa mencium tangan sang mertua.
“Ati-ati mawa motorna Nip.”
(hati-hati bawa motornya Hanif)
(iya mih)
“Assalamualaikum…” keduanya mengucap salam sebelum benar-benar berlalu.
“Waalaikumsalam…”
\~*\~*\~*\~*\~
Suara hentakan sandal yang beradu dengan lantai terdengar keras dan cepat, terlihat Rahma menuruni tangga dengan tergesa-gesa. Bi Nah yang sedang beristirahat sambil menonton tv, seketika menoleh.
“Bi Nah…”
“Iya bu.”
“Bi saya pergi dulu.”
“Loh bu, kan belum jam pulang sekolah.” Bi Nah beranjak dari duduknya dan berjalan menghampiri Rahma.
“Gak. Saya mau keluar ada urusan baru nanti jemput anak-anak. Oh ya, saya sama anak-anak gak makan siang dirumah ya bi.”
“Iya bu.”
“Bibi ada yang mau di beli gak?”
“Gak ada bu, makasih.”
“Burger mau?”
“Oalah bu.. bu… ya mau.” Jawabnya membuat Rahma tertawa.
“Yang biasa?”
“Iya, makasih ibu.”
“Udah ah, meuni sok manis gitu ih…” gidik Rahma tertawa kecil. “Saya pergi. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Masih ada waktu sebelum jam pulang sekolah. Rahma membelokan mobilnya memasuki kawasan dengan deretan ruko-ruko dan memberhentikan mobilnya di depan sebuah ruko dengan cat berwarna abu-abu.
“Bener ini kan alamatnya?” Gumam Rahma. “Bentar, bentar cek lagi.” Lanjutnya sembari membuka ponsel dan mengeceknya.
“Bener.” Ucapnya lalu membuka pintu mobil.
“Permisi… selamat pagi.” sapanya seraya melangkah masuk.
“Selamat pagi, ada yang bisa di bantu ibu?” Jawab seorang wanita dari balik meja.
Rahma menjawab dengan memperkenalkan namanya dan menjelaskan tujuannya. “Baik ibu Rahma, silahkan duduk dulu ya ibu. Di tunggu sebentar.”
“Baik. Terima kasih mba.” Rahma mendudukan bokongnya pada sofa di sudut ruangan setelah wanita itu berlalu.
Rahma mengedarkan pandangannya, terlihat beberapa orang yang hampir ke semuanya wanita tengah duduk menunggu sama sepertinya. Timbul rasa gugup dalam hatinya, tapi coba dia atasi. “Huft… mudah-mudahan semuanya lancar sampai akhir nanti.” Gumamnya.