
Taman yang lumayan luas di belakang rumah menjadi tempat pilihan untuk bersantai di sore hari ini. Cuaca yang sedikit mendung tak menghalangi Rahma, Kiara, Maura dan tak lupa bi Nah untuk duduk santai di atas gelaran tikar sambil menikmati cemilan.
Sepiring gorengan di lengkapi minuman kesukaan masing-masing tersaji didepan mereka. Kiranya cukup untuk mengganjal perut sampai waktu makan malam nanti.
Setelah cukup kenyang, Kiara dan Maura beranjak dan bermain di area taman. Sesekali terdengar suara tawa dari keduanya menambah hangatnya suasana.
Bibir Rahma melengkung melihat kedua anaknya, dalam hati dia bersyukur masih bisa melihat tawa sang putri di tengah masalah yang melanda. Tapi sedetik kemudian senyum itu hilang tatkala otaknya tiba-tiba memikirkan tentang keputusan yang akan di ambilnya.
Akankah aku masih bisa memberikan tawa dan kebahagiaan pada mereka jika akhirnya aku harus berpisah dari mas Hendra. Batin Rahma gamang.
Sekarang sudah lebih dari satu bulan sejak kejadian yang menyakitkan itu. Sedikit demi sedikit Rahma mulai belajar berdamai dengan kenyataan.
Ada yang berubah dari suaminya, mulai dari perhatian, sikap dan jadwal kepulangan pria itu yang kini bertambah jadi dua kali dalam satu bulan. Bukannya senang, Rahma justru merasa itu menjadi satu beban.
Beban dimana dirinya di tuntut untuk berpura-pura terlihat bahagia dengan kedatangan Hendra. Berusaha bersikap biasa untuk menjaga perasaan mereka.
Rahma menghela nafas kasar membuat bi Nah yang duduk di sampingnya menoleh. Asisten rumah tangga yang sudah lama ikut Rahma itu menatap lekat sang majikan yang beberapa waktu belakangan ini terlihat berbeda.
Meskipun tak tau apa yang sebenarnya terjadi, tapi dalam hati dia berdo’a semoga apapun masalah yang sedang majikannya hadapi cepat selesai.
“Kakak… adek… udahan yuk mainnya. Udah mau maghrib nak.” Dari mesjid sayup suara lantunan ayat suci Al-Qur’an terdengar.
“Mandi lagi ya, liat sampe keringetan gini.” Di usapnya keringat yang menetes di pelipis sang anak.
“Ngaji gak bun hari ini?” Kiara bertanya seraya mengambil goreng pisang yang tersisa satu di piring.
“Adek mau… bagi boleh?” Maura menatap penuh harap.
“Boleh.” Kiara mengangguk dan memberikan bagian pisang goreng yang belum dia gigit. Perlakuan manis itu membuat Rahma tersenyum.
“Ngaji dong… kenapa emangnya?”
“Ya gak apa-apa… nanya aja bun masa gak boleh.” Jawabnya usil. Rahma mencebik di usili anak sulungnga itu sementara Maura dan bi Nan tertawa bahagia.
“Udah ah ayok.. bantu beresin ini dulu nak.” Mereka berdiri dan mengemasil barang-barang piknik mereka.
\~*\~*\~*\~*\~
Kenapa waktu seolah berputar lebih cepat di kala kita ingin menghindari sesuatu. Seperti jadwal kepulangan Hendra yang biasa dia nanti kini justru malah ingin Rahma hindari.
Jum’at sore, di kala matahari akan terbenam disaat orang-orang memilih masuk kedalam rumah karena waktu surup. Rahma, Kiara dan Maura justru berdiri tegak di teras rumah, mata mereka tak lepas dari gerbang yang sedang otomatis terbuka pelan.
Terlihat Hendra masuk dengan dua tas besar di tangannya. Bisa Rahma pastikan itu adalah oleh-oleh untuk dirinya dan juga kedua anaknya.
Inilah satu hal dari lainnya yang berubah dari Hendra. Selalunya setiap kali pulang pria itu memang akan selalu membawa oleh-oleh untuk mereka. Terlebih Kiara dan Maura. Tapi sekarang, barang yang didapat Rahma pun tak kalah banyak.
Rahma curiga perubahan suaminya itu di karenakan ibu mertuanya. Pasalnya semua perubahan itu terjadi tepat setelah Rahma berdebat dengan mertuanya tempo hari.
Tapi masa bodo. Rahma tak perduli. Sakit hatinya tak mungkin langsung sembuh hanya karena perubahan suaminya. Rahma menghela nafas melihat pria itu kini sudah berdiri di depannya.
“Assalamualaikum…”
“Waalaikumsalam…” kiara dan Maura berjingkrak senang. Mereka mencium tangan sang ayah bergantian dan langsung merentangkan tangan ke arah Hendra untuk berpelukan.
“Ayo masuk dulu dek, di dalam aja nanti bukanya.” Rahma menghentikan Maura yang hendak membuka satu tas Hendra.
“Iya bunda.” Angguk Maura dengan cengiran lucunya.
“Apa kabar Ra?” Hendra melangkah maju ke arah sang istri.
“Baik.” Jawabnya dan mencium tangan suaminya singkat membuat Hendra tersenyum miris.
“Ya udah ayok masuk, udah maghrib.” Hendra menggiring kedua anaknya masuk sambil menenteng tas.
Hendra bergegas membersihkan diri begitu mendengar kumandang adzan, lalu menunaikan ibadah wajib bersama keluarga kecilnya.
“Ayok ayah, kita buka oleh-olehnya.” Maura berjalan sambil menarik tangan Hendra.
“Makan dulu dek, nanti kalau udah buka oleh-oleh malah keasikan.” Sela Rahma.
“Yahhh bunda…” protes Maura. Tapi tak urung menurut juga.
Hendra, Kiara dan Maura duduk tertib di kursi masing-masing, menunggu Rahma yang akan melayani mereka bergantian.
“Mau makan pake apa mas?”
“Ayam goreng sama capcai.” Inilah salah satu sifat Rahma yang Hendra sukai, semarah apapun istrinya itu masih tetap akan melayaninya walau dengan wajah dingin.
Menjalani ritual makan malam dengan sepi dan cepat karena kedua bocah ingin segera membuka oleh-oleh dari sang ayah. Dan disinilah mereka sekarang, di ruang tengah dengan jejeran berbagai macam oleh-oleh.
“Wah…. Banyak banget ayah…” Kiara berseru senang.
“Makasih ayah….” Ujar keduanya memeluk sang ayah.
“Ini untuk kamu Ra.” Hendra menyodorkan beberapa baju, tas dan parfum.
“Jangan boros mas. Ini kan aku masih punya semua.” Ujarnya seraya menerima.
“Gak apa-apa. Kebetulan aku dapat bonus.” Senyumnya.
“Iya makasih.” Rahma mengangguk tak ingin memperpanjang.
Saking asiknya membuka dan memilih oleh-oleh membuat Kiara dan Maura enggan tidur padahal sudah jamnya mereka tidur hingga membuat Rahma mengulang perkataanya beberapa kali.
“Kakak, adek ayo tidur. Besok lagi pilih oleh-olehnya. Besok kan kalian libur. Ayo cepat.” Tegasnya tanpa mau di bantah lagi.
Mendengar suara ibunya yang sudah berbeda kedua bocah itu segera beranjak dan berpamitan pada kedua orang tuanya.
“Jangan lupa bersih-bersih. Gosok gigi.” Ucap Rahma.
“Iya bunda.”
Di tinggal kedua anaknya membuat suasana menjadi kaku. Hingga membuat Rahma akhirnya memilih beranjak. “Beresinnya besok aja.” Ujar Rahma sebelum berlalu meninggalkan Hendra.
Sementara pria itu hanya bisa menghela nafas karena di tinggalkan sendiri. “Sabar… sabar…” ucapnya mengelus dada dab beranjak mengikuti Rahma.