Janda Dua Anak Di Pinang Bujang

Janda Dua Anak Di Pinang Bujang
Part 15


... "Aku tahu hatiku tidak akan pernah sama, tetapi aku mengatakan pada diriku sendiri bahwa aku akan baik-baik saja." - Sara Evans...


Mencoba berdamai degan keadaan nyatanya tak semudah membalikan telapak tangan. Mencoba bertahan dan menerima takdir dengan lapang dada juga bukan perkara mudah.


Satu bulan berlalu… perubahan mulai terlihat pada Rahma terutama pada fisik wanita itu. Badan yang berisi kini perlahan mulai kehilangan bobotnya. Mata yang biasa berbinar cerah kini terlihat sayu. Kebiasaan bercengkrama dengan bi Nah kala mengurus rumah perlahan sirna. Wanita itu lebih terlihat pendiam dan banyak melamun.


“Sudah siap semua nak? Ada yang ketinggalan gak?” Seperti biasa, Rahma memulai hari dengan memasak, mengurus anak dan mengantarkan mereka menuntut ilmu.


“Udah semua bun.”


“Oke, let’s go…” setelah memastikan kedua anaknya duduk dengan benar Rahma mulai menjalankan mobilnya.


Tiga puluh menit bermacet-macet ria, akhirnya mereka sampai juga. “Semangat ya sekolahnya.” Rahma membuka pintu mobil serta sedikit merapihkan seragam Kiara dan Maura.


“Semangat!!” Kiara dan Maura mengacungkan telapak tangan ke udara yang di sambut tawa ibunya.


“Ya udah masuk sana, jangan lupa baca apa..??”


“Bissmillah….” Kompak keduanya.


“Assalamualaikum bunda.” Kedua anak itu berpamitan dan mencium tangan Rahma.


“Waalaikumsalam…”


Setelah kedua anaknya tak terlihat Rahma kembali masuk ke dalam mobil. Sambil menunggu jam pulang sekolah, rencananya Rahma akan belanja ke supermarket.


“Assalamualaikum bi…” Rahma menelpon bi Nah untuk mencatat barang dan kebutuhan apa saja yang harus di beli.


“Saya mau ke supermarket, tolong di catat apa aja yang mau di beli bi. Nanti kirim ke saya ya.” Pintanya.


“Oke, makasih bi. Assalamualaikum…” ucapnya menutup telpon.


\~*\~*\~*\~*\~


Jam sudah menunjukan pukul setengah delapan pagi, tapi cuaca yang mendung menghalangi mentari memancarkan sinarnya pagi ini. Hendra sudah rapih dengan seragam kantornya, pria itu sedang menimang Naira sebelum pergi bekerja.


Cup… Hendra mencium pipi dan menghirup wangi bayi perempuan itu. “Eemm… wanginya anak ayah…”


Berulang kali wajah yang di tumbuhi bulu itu menempel pada pipi Naira, membuat bayi itu tergelak dengan tangannya yang meronta-ronta.


“Nanti sore jangan lupa mas.” Ucap Lia mengingatkan jadwal imunisasi Naira.


“Iya, jam tiga kan.”


“Iya, nanti aku langsung pergi atau tunggu mas jemput?”


“Aku jemput.” Jawabnya seraya mengalihkan Nira pada gendongan Lia.


“Ok.”


“Ya udah, aku pergi.”


“Iya hati-hati.” Lia mencium tangan suaminya.


“Assalamualaikum…”


“Waalaikumsalam…”


\~*\~*\~*\~*\~


“Udah bun…”


“Satu lagi bunda…”


Jawaban berbeda terdengar. Kedua anak itu tengah tengkurap di atas karpet ruang dan mengerjakan PR masing-masing.


“Mau di bantu dek?” Rahma mendekati Maura setelah meletakan nampan di atas meja.


“Gak usah bunda, makasih. Ini tinggal hitung hasilnya aja.” Jawab Maura yang masih fokus pada PRnya.


“Oke.” Rahma memutar tubuhnya dan duduk di atas sofa.


“Selesai.” Maura tersenyum lebar.


“Bilang apa..?”


“Alhamdulilah…”


Rahma tersenyum dan menyuruh kedua anaknya meminum jus yang tadi dia bawa. “Minum jus nya dulu nak, mumpung masih dingin.”


“Makasih bunda.”


“Sama-sama nak.”


“Bunda, ayah belum telpon?” Tanya Kiara seraya mengusap bibir basahnya.


Rahma sejenak terdiam, kepalanya lalu menoleh ke arah jam dinding. “Jam tujuh…” gumamnya.


“Mungkin ayah lagi sibuk kak, tunggu sebentar lagi ya.” Ujarnya.


“Biasanya jam segini mas Hendra sudah telpon. Apa mungkin dia masih ada urusan.” Pikir Rahma. Tak urung dia juga jadi bertanya-tanya.


Di tunggu hingga beberapa lama, Hendra tak juga ada menelpon. Kiara dan Maura sudah berulang kali bertanya dan akhirnya Rahma mencoba untuk menghubungi lebih dulu. Takutnya ada apa-apa dengan suaminya itu.


Terdengar nada yang menandakan kalau ponsel Hendra aktif tapi pria itu tak menjawab panggilan Rahma. Masih penasaran, Rahma mencoba mengirim pesan dan setelah beberapa lama pesan itu pun tak ada balasan.


Kerutan di dahi Rahma terlihat, wanita itu masih memikirkan ada apa dengan suaminya. “Gimana bun?”


Suara Kiara menyadarkan Rahma. “Gak di angkat kak, mungkin ayah lagi sibuk banget. Besok kita coba lagi ya, sekarang kita shalat dulu yuk.” Ujar Rahma mencoba memberi pengertian. Walau dengan wajah tak puas, Kiara tetap mengangguk.


Setelah shalat, kedua anaknya memutuskan untuk tidur bersam di kamar sang ibu. Dengan posisi Rahma di tengah di apit oleh Kiara dan Maura di sisi kiri dan kanan.


“Bunda kurusan ya?” Kiara yang tidur sambil memeluk Rahma merasa tubuh sang ibu lebih kecil dari biasanya.


Rahma mematung mendengar hal itu. Dia sengaja menyembunyikan perubahannya dengan selalu memakai baju longgar hingga memakai make up tebal.


“Ah masa sih…? Mungkin karena akhir-akhir ini bunda makannya sedikit kak. Jadi kurusan deh..” ujar Rahma beralasan.


“Jangan diet bunda.” Celetuk Maura.


“Gak dek, bunda gak diet.” Kekeh Rahma. “Udah tidur ayok, udah malem. Nanti bangun subuhnya susah lagi.” Lanjut wanita itu.


Dengkuran halus akhirnya terdengar setelah beberapa menit. Rahma membuka mata dan mengecup kening kedua anaknya pelan. “Maaf ya nak. Maaf karena ternyata bunda bukan wanita yang kuat. Tapi bunda akan tetap berusaha memberikan yang terbaik buat kalian.” Bisiknya lirih.


“Hati dan pikiranku lebih sulit untuk menerima dan menjalani pernikahan ini setelah tau kalau aku di duakan. Bahkan ketika aku memilih berpisah rasanya tak sesulit ini, dimana hati da pikiran lebih dapat menerima dan mencoba berdamai dengan semuanya.” Batin Rahma.


“Tapi selama ada kalian, bunda akan baik-baik saja. Bunda yakin Allah pasti menyiapkan jalan yang terbaik untuk kita semua.” Ucapnya kembali mengecup kening kedua putrinya. Di menghela nafas panjang seraya memejamkan mata dan memcoba tidur.