Janda Dua Anak Di Pinang Bujang

Janda Dua Anak Di Pinang Bujang
Part 21


Senyum indah yang jarang terlihat di bibir Rahma beberapa waktu belakangan kini kembali terbit. Senyum indah itu melengkung kala matanya tak sengaja melihat kalender yang tergantung di tembok dapur rumahnya.


Bukan aneh, tapi kalender itu seolah mengingatkan kembali akan rencananya beberapa waktu ke depan. “Aku harus kasih tau mas Hendra sebelum dia pergi.” Ucapnya.


Setelah selesai dengan cucian piring kotornya, Rahma segera melangkah kembali menuju kamar. “Sudah selesai Ra?” Tanya Hendra langsung saat Rahma baru saja membuka pintu kamar.


“Iya mas. Kenapa?”


“Mas mau mandi Ra tolong.” Hendra beringsut kepinggir ranjang untuk turun.


“Sebentar aku siapin air hangatnya dulua.” Jawab Rahma seraya berlalu ke kamar mandi.


Tak lama dia kembali dan menuntun Hendra masuk ke dalam kamar mandi. “Kalau sudah panggil aku mas.” Ucapnya sebelum menutup pintu kamar mandi dan membiarkan Hendra membersihkan diri.


**


Jam menunjukan pukul delapan pagi, Rahma dan Hendra serta Kiara dan Maura duduk santai dihalaman belakang. Dua cangkir teh hangat tersaji di atas meja melengkapi kueh basah yang tersusun rapih di piring. Sedangkan kedua anak mereka memilih menikmati susu coklat.


“Mas…” Rahma memecah keheningan di antara mereka.


Hendra yang tengah menatap lurus ke halaman menoleh. “Iya…”


“Anak-anak sebentar lagi ujian habis itu mereka libur panjang. Dan kebetulan tanggalnya juga pas sama jadwalnya mas pulang, aku punya rencana buat pulang kampung. Gak apa-apa kamu disana pas weekend aja gak perlu cuti.” Ajak Rahma sekaligus menjelaskan rencananya.


Sejenak Hendra terdiam dan menimbang tapi akhirnya pria itu mengangguk setuju. “Boleh, nanti biar aku ambil cuti sehari atau dua hari biar gak terlalu capek.” Ucapnya.


Rahma mengangguk dan tersenyum. “Terima kasih.” Ucapnya merasa senang. Hendra pun balas dengan senyuman tak kalah lebar seraya menggenggam tangan Rahma yang ada di atas meja.


Waktu bergulir, matahari bersinar semakin terik. Cuaca yang hangat berganti menjadi panas menyengat kulit. Mereka memutuskan masuk dan melanjutkan bercengkrama diruang tengah.


Hendra merasa ponsel di saku celananya bergetar panjang menandakan adanya telpon masuk. “Halo, Assalamualaikum.” Hendra menjawab seraya mengucap salam.


“Waalaikumsalam… kamu sudah sehat?” Tanya seseorang disebrang sana, yang ternyata adalah ibu Ratna.


“Alhamdulillah sudah lebih baik bu.”


Terjadi percakapan lumayan lama diantara ibu dan anak itu. Sedangkan Rahma yang duduk di sebelah Hendra hanya diam dan menyimak saja. “Waalaikumsalam.”


Setelah beberapa menit Hendra akhirnya mengakhiri panggilan itu. “Ra..”


“Hm… iya.”


“Ibu sama bapak mau kesini.”


“Ya udah aku ke belakang dulu mau kasih tau bi Nah biar masak agak banyak.” Ujar Rahma seraya berlalu.


Drt…!!! Ponsel ditangan Hendra kembali bergetar. Ternyata pesan dari Lia yang menanyakan kabar pria itu. Dengan cepat Hendra membalas pesan itu dan kembali mengantongi ponselnya.


Tanpa disadari dari arah belakang, Rahma melihat gerak gerik Hendra. Sepertinya dia tau siapa yang barusan mengirim pesan. Dalam pikirannya terlintas satu permintaan yang akan dia utarakan ketika berdua nanti.


“Sudah?” Hendra mendongak menatap Rahma yang melangkah mendekat. Rahma hanya mengangguk.


\~*\~*\~*\~*\~


Di kediaman bu Ratna dan pak Agus…!!


“Nanti disana jangan bahas hal yang macam-macam bu.” Ucap pak Agus mengingatkan sang istri.


“Maksud bapak bahas yang macam-macam gimana?” Alis bu Ratna menukik mendengar perkataan sang suami.


“Ya jangan membahas tentang hal rumah tangga dan tentang kehidupan mereka. Apalagi sampai keceplosan menanyakan kabar cucu ibu yang lainnya.” Pak Agus yang paham betul sifat istrinya itu hanya khawatir kalau sang istri membahas hal sensitif tentang rumah tangga anaknya, apalagi hubungan istri dan menantunya belum berjalan baik semenjak kejadian tempo hari.


“Memangnya ibu ini anak kecil apa, sampai bapak harus berkata seperti ibu.” Cebik bu Ratna.


“Bapak hanya mengingatkan.”


Tak terasa mobil yang ditumpangi keduanya sudah sampai dikediaman Hendra. Mereka pun bergegas turun setelah mobil terparkir rapih. Pintu utama sudah terlihat terbuka, Rahma berdiri diambang pintu untuk menyambut mertuanya.


“Assalamualaikum…” salam keduanya.


“Waalaikumsalam…” jawab Rahma seraya menyalimi tangan keduanya.


“Masuk pak.. bu.. mas Hendra sama anak-anak ada diruang tengah.”


Pak Agus dan bu Ratna melangkah masuk di ikuti Rahma yang menutup pintu terlebih dulu. Sedangkan sopir mertuanya memilih melipir melewati jalan samping menuju dapur dan menunggu disana.


“Pak.. bu.. sehat?” Hendra bangkit dari duduknya dan mencium tangan kedua orangtuanya takzim di ikuti Kiara dan Maura.


“Alhamdulillah sehat. Kamu sudah baikan?” Tanya pak Agus seraya mendudukan tubuhnya.


“Alhamdulillah pak sudah baikan.”


“Alhamdulillah..” angguk pak Agus. Kini perhatiannya teralihkan pada Kiara dan Maura.


“Kiara sama Maura gimana sekolahnya nak? Sudah mau ujian ya?” Tanyanya seraya mengusap lembut rambut kedua cucunya.


“Iya kakek.” Jawab Kiara singkat. Pak Agus hanya tersenyum atas sikap canggung cucunya.


Hubungan Kiara dan Maura dengan kakek nenek mereka memang tak akrab. Mungkin karena jarang bertemu dan komunikasi. Jadi kalau bertemu hawanya itu canggung. Dengan pak Agus masih mending, tidak separah dengan bu Ratna.


Nenek satu itu, sudah jarang bertemu dan mengobrol dengan kedua cucunya dan apabila bertemu suka langsung menasihati tanpa mau berbasa basi dulu. Membuat Kiara dan Maura tak nyaman, dan cenderung menghindarinya.


Tak lama Rahma datang bersama bi Nah dengan nampan berisi minuman dan cemilan. “Silahkan pak.. bu.. di cicipi.” Ucapnya seraya kembali duduk di samping Hendra.


Tak banyak obrolan yang keluar dari mulut Rahma, hanya sekedar berbasa basi dan sesekali menimpali obrolan antara orangtua dan anak itu. sementara Kiara dan Maura sudah lebih dulu mengundurkan diri dari ruangan itu sedari tadi.


Lumayan lama juga mereka mengobrol, hingga waktu makan siang datang. “Pak.. bu.. Rahma permisi ke dapur sebentar mau cek masakan, siapa tau bi Nah sudah selesai.” Ucapnya.


“Loh, bukan kamu yang masak?” Bu Ratna menegakan duduknya dan mendongak menatap Rahma.


“Bukan bu.”


“Mau Rahma atau bukan yang masak, gak ada bedanya bu, sama saja. Yang penting bisa di makan.” Sela pak Agus sebelum istrinya kembali membuka mulut.”


Rahma tersenyum dan berlalu. Sementara bu Ratna melirik tak senang pada suaminya. “Dimasakin salah, gak di masakin juga salah.” Dumel Rahma sepanjang langkah.


Pasalnya bu Ratna selalu kurang sreg dengan rasa masakannya dan selalu saja ada yang di protes orangtua itu. Maka dari itu Rahma meminta bi Nah yang memasak. Lagipula mulai sekarang dia akan bersikap masa bodo dan tak akan menjadi menantu penurut seperti dulu.