
“TERUS!!”
Suara pak Agus yang berat menggelegar di ruang tamu rumah itu membuat Rahma dan bu Ratna terlonjak kaget.
“Ayo teruskan.” Pak Agus menatap dengan tajam istri dan menantunya sehingga membuat kedua orang itu terdiam. “Kenapa diam? Hm..?”
“Apa masalahnya akan selesai dengan perdebatan kalian?”
“Jawab!!” Tanya pak Agus kesal. Kedua wanita itu menggeleng.
“Lantas?” Pak Agus menghela nafas kasar. “Sudah. Tak ada gunanya kalian berdebat seperti tadi.”
“Rahma, sekarang kamu sudah tau semuanya. Maafkan kami karena sudah membohongimu. Ini semua permintaan Hendra, dia tidak ingin sampai kamu tau. Karena kalau sampai kamu tau, ya itu tadi… kamu minta berpisah. Dan dia tidak mau itu.” Lanjutnya.
“Hendra sudah menjelaskan semuanya?” Tanya pak Agus lagi.
Rahma mengangguk. “Sudah pak.” Pak Agus mengangguk.
“Kalau Hendra sudah menjelaskan dan kamu tetap dengan keputusanmu untuk berpisah. Bapak dan ibu tidak akan ikut campur. Itu pernikahan kalian, yang menjalani kalian dan semuanya terserah kalian.” Tukas pak Agus menutup perkataannya.
“Tapi pak…” Pak Agus mengangkat telapak tangan meminta agar istrinya berhenti bicara.
“Baik, terima kasih pak. Kalau begitu saya permisi. Assalamualaikum…” walaupun di landa kesal Rahma tetap mencium tangan kedua mertuanya sebelum pergi.
“Waalaikumsalam…”
“Bapak ini gimana sih.” Bu Ratna langsung mencak-mencak begitu mobil Rahma menjauh.
“Kenapa harus ngomong kayak tadi. Pisah. Pisah. Udah jelas anak kita itu menikaj diam-diam karena dia gak mau kalau Rahma sampe minta cerai. Bagaimana kalau nanti dia malah marah sama kita, gimana sih bapak ini. Ibu tuh gak mau kalau nanti Hendra sampe stress mikirin bakal pisan sama istrinya.” Dumel bu Ratna.
“Mau dia marah kek, mau dia stress kek. Bapak gak perduli. Bapak itu sudah tua bu, capek kalau harus terus ngikutin kemauan kalian. Lagipula dia sudah dewasa, sudah punya keluarga. Harusnya mikir kalau mau ngelakuin apa-apa. Udah dua kali nikah kok ya gak bener-bener.” Semburnya seraya berlalu pergi meninggalkan bu Ratna sendiri.
“Huh…” dengus bu Ratna. Tapi dalam hati dia ikut membenarkan perkataan suaminya.
“Hendra juga. Ceroboh!! Perempuan suka mabuk-mabukan kok di jadikan istri. Sudah jelas masih mending si Rahma kalau begitu. Ck..!!” Gerutu bu Ratna. Dia kesal lantaran ulah anak semata wayangnya.
\~*\~*\~*\~*\~
Drt… drt…
Hendra yang sedang fokus bekerja teralihkan oleh suara getar ponselnya. Tertera nama Ibu memanggil di layar, lalu di usapnya layar ponsel itu untuk menjawab. “Hallo… Assalamualaikum.” Ucapnya
“Waalaikumsalam… kamu sibuk?” Dari sebrang telpon sang ibu bertanya.
“Gak juga sih bu. Kenapa?”
“Rahma datang kerumah.”
“Rahma kerumah?” Tanya Hendra dengan nada suara sedikit heran.
“Terus sekarang Rahmanya mana?”
“Sudah pulang, baru aja dia pergi.”
“Owh… memangnya ada apa bu?” Jujur Hendra was-was istrinya itu datang dalam keadaan hati tak baik, takutnya dia bicara melantur. Apalagi jika sudah bertemu dengan ibunya.
“Dia bilang sudah tau tentang pernikahanmu. Kok bisa sih kamu sampe ketahuan gitu? Bilangnya suruh jaga rahasia, lah kamu sendiri juga yang kasih tau.” Ujar bu Ratna dengan nada tinggi.
“Ck… bukan gitu bu. Bukan aku yang kasih tau. Rahma datang kesini gak bilang-bilang. Aku gak sadar dia ikutin aku makanya dia tau semua.” Hendra berdecak kesal.
“Itulah. Lagi-lagi kamu itu ceroboh. Kamu…”
“Ibu kok jadi marah-marah gak jelas gini sih. Udahlah aku capek, aku tutup…”
“Hendra tunggu.”
“Apalagi bu? Aku lagi kerja, nanti aja ibu telpon lagi.”
“Anak ini ya, ibu belum selesai ngomong. Masih ada hal penting yang belum ibu sampein.”
“Ya udah apa?” Hendra menghela nafas malas.
“Rahma minta pisah.”
Hanya tiga kata…
Tapi mampu membuat raga Hendra seperti kehilangan sukma. Terdiam kaku beberapa saat hingga akhirnya dia kembali bersuara dengan rahang mengetat.
“Ibu ngomong apa sama Rahma? Atau jangan-jangan ide pisah itu dari ibu?” Tukasnya langsung.
“Kok ibu? Maksud kamu apa? Ibu gak ada ya nyuruh Rahma buat pisah sama kamu. Jangan kurang ajar kamu sama ibu.” Marah bu Ratna.
Hendra sudah pasti tau bagaimana hubungan mertua dan menantu itu. Rahma tak akan berbicara seperti itu kalau bukan karena ibunya. Pasti ada perkataan yang memancing emosi istrinya itu.
“Atau ada perkataan ibu yang buat Rahma emosi, makanya Rahma sampe ngomong pisah segala. Udahlah bu, aku tau. Masalahnya Rahma gak ada omongan kayak gitu sama aku sebelumnya, kalaupun bener… harusnya Rahma ngomong ke aku dulu bukannya sama ibu langsung. Aku tau gimana Rahma bu.“ Ujar Hendra panjang.
“Ya udah, aku tutup ya bu. Assalamualaikum….” Tanpa menunggu jawaban ibunya Hendra menutup sambungan telpon secara sepihak.
“Pisah?” Hendra tertawa miris. “Gak. Gak mau. Aku gak mau pisah Ra.” Kepalanya menggeleng kuat.
“Aku akan berusaha dapetin maaf kamu. Aku juga akan berusaha sembuhin sakit hati kamu. Pokoknya aku akan pertahanin rumah tangga kita Ra.” Ucapnya semakin mencengkram erat ponsel di tangannya.
Brak…!!
Hendra membanting ponsel itu ke atas meja kerja. “Argghhh…!!!” Emosi di hati membuatnya tak lagi perduli jika ponselnya itu tak lagi berfungsi.