
Rahma terbangun saat hari masih gelap, dimana orang-orang masih terlelap. Rasa bahagia dan semangat membuatnya sulit tertidur dengan lelap. Entah kenapa dia selalu seperti itu kalau akan bepergian jauh.
Dengan pelan dia turun dari tempat tidur dan melangkah menuju kamar mandi. Tak lama dengan wajah basah dia keluar, lalu menuju sudut kamar dan menggelar sajadah.
Di tengah heningnya malam, sejenak Rahma menengadahkan tangan pada yang maha kuasa memohon perlindungan dan kelancaran dalam perjalanan.
“Aamiin…!!!” Ucapnya seraya mengusap wajah, mohon agar do’anya di kabulkan.
Setelah membereskan mukena dan sajadah, dia mengambil ponsel di atas nakas. Ingin mengirim pesan dan menanyakan kepastian suaminya akan pulang atau tidak. Namun urung, takut mengganggu karena masih terlalu pagi.
Turun ke lantai bawah, ternyata ada bi Nah yang juga sudah bangun dan membersihkan dapur. “Bi Nah udah bangun juga ternyata.” Rahma melangkah menghampiri.
“Eh, iya bu.” Sedikit tersentak bi Nah tersenyum. Tanpa banyak tanya Rahma dengan cekatan membantu.
**
Rahma dan bi Nah tengah duduk lesehan di lantai, mengistirahatkan tubuh seraya mengeringkan peluh. Mereka baru saja selesai membersihkan rumah.
Cuaca pagi yang sejuk tak menghalangi mereka untuk menikmati segelas orange juice guna melepas dahaga. Di selingi obrolan kecil mereka menikmati udara pagi yang segar.
“Udah subuh bi, saya mandi dulu.” Rahma berdiri begitu mendengar suara orang mengaji dari speker mesjid.
“Biar bibi aja nanti sekalian bu.” Cegah bi Nah ketika Rahma hendak mengambil gelas mikiknya.
“Ok. Makasih ya bi.” Ucapnya kemudian berlalu.
**
Pagi menjelang, dari ufuk timur mulai terlihat bias cahaya kuning, pertanda sang matahari akan segera muncul dan memancarkan bias sinar hangatnya.
Mobil di garasi rumah sudah menyala, terlihat tumpukan koper serta dus besar yang memenuhi bagasi. Kiara dan Maura pun sudah duduk manis di kursi penumpang belakang dengan segala perbekalannya.
Sementara Rahma dan bi Nah tengah memastikan semua jendela dan pintu sudah terkunci sebelum mereka meninggalkan rumah. Setelah di rasa aman, keduanya masuk ke dalam mobil, dan mobil pun melaju meninggalkan rumah.
**
Berpuluh-puluh menit kemudian, mobil berhenti di depan stasiun kereta dan bi Nah pun turun. Dengan di bantu seorang porter, bi Nah menurunkan barang bawaannya.
“Ibu, Kakak, adek. Bibi pergi dulu ya. Semoga kita semua selamat sampai tujuan dan bisa bertemu kembali dua minggu lagi.” Ujar bi Nah berpamitan.
“Aamiin….!!” Serempak semuanya mengamini.
“Hati-hati ya bi, nanti kabar-kabarin saya.”
“Iya bu, ibu juga nyetirnya hati-hati.”
“Iya.”
Jika kalian bertanya soal dimana keberadaan Hendra? Pria itu tidak ada alias kembali membatalkan kepulangannya.
Satu jam sebelum berangkat :
Rahma berjalan mondar mandir di dalam kamar dengan ponsel di telinganya. Dia tengah berusaha menghubungi Hendra, tapi sudah beberapa kali panggilannya belum di jawab. Tak putus asa dia kembali mencoba.
“Hallo??” Rahma menghentikan langkah ketika akhirnya panggilannya terjawab.
“Mas kamu dimana?” Rahma mengerutkan kening ketika Hendra tak kunjung menjawab.
“Mas?” Rahma menjauhkan ponsel dari telinganya guna memastikan panggilan itu masih terhubung.
“Mas? Hallo?”
“Iya Hallo Ra.”
“Kamu dimana?”
“Maaf…”
“Oke cukup.” Rahma sudah tau kelanjutannya. Meski tak tau kali ini apa lagi alasannya. Tapi satu yang pasti, pria itu kembali mengingkari janjinya.
“Ra dengar dulu. Maaf, mas ada kerjaan mendadak jadi belum bisa pulang.” Jelas Hendra cepat seolah takut Rahma kembali menyela.
“Ra…??” Tak ada jawaban. “Ra, mas minta maaf.” Nada suaranya terdengar pasrah.
“Iya. Selamat bekerja dan selamat atas kenaikan jabatannya.”
Tut
Tanpa pamit bahkan mengucapkan salam, Rahma menutup telponnya.
**
Bila mengingat kembali, airmata Rahma langsung mendesak ingin keluar. Tapi sebisa mungkin dia tahan dan coba mengalihkan. Hari ini dia harus bahagia, tidak boleh ada airmata. Meskipun kecewa.
Kedua anaknya juga dengan mudah menerima alasan yang Rahma katakan jadi untuk apa dia harus berlarut-larut. Tapi…
Keinginan berpisah yang sudah berhasil di redam, kini kembali bergejolak di hati. Kebohongan yang lambat Rahma ketahui dan kekecewaan yang sering dia hadapi akhir-akhir ini mengikis semua rasa yang tertinggal di hati.
..."Ketika kita bertemu tragedi nyata dalam hidup, kita dapat bereaksi dengan dua cara—entah dengan kehilangan harapan dan jatuh ke dalam kebiasaan merusak diri sendiri, atau dengan menggunakan tantangan untuk menemukan kekuatan batin kita."...
...\~GOOGLE\~...