
“Sakit!! Hati ini sungguh sakit. Hingga aku tak tau bagaimana caranya menjabarkan rasa sakit ini.”
“Hancur!! Bagai gelas kaca yang di lempar sekuat tenaga. Begitulah kiranya kondisiku sekarang.”
“Suami yang aku cinta, dengan begitu teganya mendua. Mengkhianati sumpah dan janjinya yang mengatakan akan selalu setia.”
Sepuluh menit… dua puluh menit… atau mungkin tiga puluh menit…
Entahlah… sudah cukup lama Rahma menangis hingga dia merasakan kepalanya sakit dan juga matanya terasa bengkak.
Dia sandarkan tubuhnya lalu memejamkan mata. Setelahnya dia menarik nafas dan membuangnya secara perlahan untuk mengurangi sesak di dada.
“Stop Rahma… stop!!Jangan menangis lagi.” Ucapnya pada diri sendiri. Dia usap dengan kasar air mata yang lagi-lagi mengalir tanpa permisi.
“Ya Allah, bantu aku untuk menahan rasa sakit ini sebentar saja.” Pintanya dalam hati.
Tekat Rahma sudah bulat untuk langsung menyelesaikan masalah rumah tangganya saat ini juga. Tak perlu menunggu suaminya itu pulang, bahkan lebih bagus karena dia tidak perlu repot memberikan bukti.
“Kamu bisa Rahma. Kamu harus kuat. Ada Kiara dan Maura disini, mereka tidak boleh melihatmu hancur. Apalagi hanya karena kedua manusia itu.”
Rahma membuka matanya dan mengarahkan pandangannya pada rumah itu. Seketika dan tak dapat di cegah, pikirannya terbayang apa saja yang kedua sejoli itu tengah lakukan di dalam sana.
“Stop!!” Lirihnya. Di usapnya kasar air mata yang kembali mengalir.
“Aku harus segera masuk dan memastikan semuanya. Agar aku juga bisa secepatnya pergi dari tempat ini.“
Rahma mengusap wajahnya menggunakan tisu, lalu memoleskan sedikit make up untuk menyamarkan jejak tangisannya.
“Kakak.. adek bangun nak.” Rahma terpaksa membangunkan kedua anaknya, karena tak mungkin meninggalkan mereka di dalam taxi.
Dia tuntun keduanya keluar dan menyuruh Kiara dan Maura duduk menunggu di bangku yang ada di taman bersama si sopir. Setelah memberi penjelasan pada keduanya Rahma pun berlalu.
“Bissmillahirramanirrahim…” Rahma dengan sekuat tenaga memaksakan kedua kakinya melangkah.
Sejujurnya, kedua kaki Rahma terasa lemas tak bertenaga, bagai tanpa tulang sehingga untuk sekedar berdiri tegak saja dia merasa harus berjuang sekuat tenaga.
Tapi dia harus segera menuntaskan semuanya. Tidak mungkin ia kembali pulang tanpa satu kepastian. Dan malah membebani pikirannya.
Rahma menekan bel yang ada di samping pintu, dan mengetuk daun pintu itu agar dia tak perlu lama menunggu.
“Huft!!” Dia menghela nafas kasar seraya memijit kecil tengkuknya yang terasa berat. Pintu belum juga terbuka, entah apa yang sedang di lakukan orang-orang di dalam rumah ini. Pikirnya.
\~*\~*\~*\~*\~
Ceklek…!!! Pintu kamar mandi terbuka. Hendra keluar hanya dengan menggunakan handuk yang menutupi bagian bawah tubuhnya saja.
“Bajunya udah aku siapin di atas kasur Mas.” Ucap perempuan muda yang menyambut kepulangan Hendra tadi.
“Iya.” Jawab pria itu seraya mengenakan pakaian yang telah di siapkan.
“Mau langsung makan?”
“Boleh.”
“Ya udah aku siapin dulu.” Perempuan muda itu berlalu pergi.
“Lia…” panggil Hendra pada perempuan muda itu.
“Iya Mas.” Dia menyembulkan kepalanya di balik pintu yang sedikit terbuka.
“Dimana Naira?”
“Oh,, ya udah.”
“Jangan di ganggu.” Tegasnya, dia tau Hendra pasti akan menggoda atau menjahili Naura sampai terbangun.
“Iya, iya, cuma mau liat doang.” Hendra melengos dan berlalu menuju kamar Naura.
Padahal dia pulang cepat karena Naura, tapi dia malah tidur. “Cantik… hei… bangun sayang.” Hendra tersenyum sambil terus bergumam lirih.
Di ciuminya pipi Naira hingga dia bergeliat. “Haha… kesel ya.” Hendra tertawa kecil melihat Naira yang terlihat terganggu.
Tak lama ia pun memilih turun dan membiarkan Naira tidur dengan tenang. Terlihat Lia yang sedang duduk menunggunya di meja makan. Melihat Hendra turun, dengan sigap dia mengambil piring.
“Mau lauk apa Mas?” Tanyanya setelah mengisi nasi di atas piring.
“Pake ikan sama sayur saja.” Jawabnya sambil menarik kursi. Keduanya pun makan dalam keadaan hening.
Setelah selesai mereka beranjak dan duduk santai di ruang tengah. “Mba, tolong di beresin ya.” Titah Lia sebelum berlalu pada asisten rumah tangganya.
“Iya bu.”
Di ruang tengah, Hendra sudah lebih dulu duduk dan menyalakan televisi. Lantas Lia pun duduk di sebelah Hendra dan asik dengan ponselnya. Tak lama terdengar bel rumah berbunyi. Bersamaan dengan itu terdengar pula suara tangis Naira dari balik monitor kecil yang terletak di meja yang ada di samping Hendra.
“Biar aku yang buka, mas tolong liat Naira.” Lia dan Hendra beranjak berbarengan.
Tok… tok…
“Iya… sebentar…” Jawab Lia sambil mempercepat langkahnya.
Ketika pintu terbuka terlihat seorang wanita yang tengah berdiri dengan posisi membelakangi.
“Cari siapa ya Mba.”
Pertanyaan yang Lia lontarkan membuat wanita itu berbalik dan menghadap ke arahnya seraya berkata. “Bisa tolong panggilkan sodara Hendra.”
Deg…!!! Lia tersentak, hingga tak sadar melangkah mundur mana kala wanita itu berbalik. Matanya terbelakak menatap wajah wanita itu.
Dari raut wajahnya yang begitu terkejut saat melihat dirinya, Rahma yakin jika perempuan itu telah mengetahui siapa dirinya.
Lagi-lagi dia mendapat kejutan, dia kira perempuan di hadapannya ini tak tau kalau telah jadi istri kedua, tapi rupanya ia telah salah mengira.
Lia hanya bisa terdiam memandang Rahma, tubuhnya terasa kaku dan lidahnya terasa kelu. Ia tak menyangka akan bertemu dengan Rahma secepat ini. Sekarang ia tak tau harus bagaimana.
“Lia…” Terdengar suara Hendra memanggil. “Ada siapa? Kenapa lama sekali?” Sambungnya.
Rahma mencengkram erat tali tas yang berada di genggamannya. Mendengar suara Hendra membuat emosinya meluap, tapi dia harus tetap tenang.
“Ada siapa?” Ulang Hendra karena tak kunjung mendapat jawaban.
Rahma sedikit mengubah posisinya menjadi menyamping dan memalingkan wajah. Walau ia sudah berusaha, tapi ternyata sulit. Air matanya tetap saja mendesak ingin keluar.
Tak lama Rahma kembali meluruskan posisinya dan bersamaan dengan itu terdengar suara Hendra yang terkejut.
“RAHMA.” Ucapnya dengan nada kaget. Sementara Rahma hanya memandang Hendra dengan sorot mata terluka.
Air mata terlihat jelas menggenang di mata indahnya, menyaksikan pria yang berstatus suminya begitu tega memberikan luka yang tak ada obatnya.
Dan bagai tak ada habisnya, kini luka di hati Rahma semakin menganga tatkala melihat Hendra tengah menggendong bayi mungil di dekapannya.
Hancur sudah semuanya…!!