
Kaca besar di sisi ruangan menampilkan pemandangan jalanan kota yang terlihat penuh dengan untaian kendaraan. Di sorot cahaya teriknya matahari Hendra berdiri mematung sedari tadi. Hatinya tengah bimbang, dia bingung harus bagaimana.
Harusnya sore nanti dia pulang ke Jakarta dan meneruskan perjalanan esok pagi menuju kampung halaman Rahma seperti yang sudah di rencanakan. Tapi….
Flashback jam 3 dinihari…!!!
Dering ponsel terdengar nyaring, mengusik tidur lelap Hendra dan juga Lia. Dengan setengah sadar dan mata yang belum sepenuhnya terbuka, Lia meraih ponselnya di atas nakas dan langsung menjawab panggilan itu tanpa melihat siapa penelepon lebih dulu.
“Hallo…” ucapnya dengan suara serak.
Terdengar suara orang berbicara sambil menangis dari sebrang telpon. “Hallo… iya kenapa dek. Ngomong dulu yang bener jangan sambil nangis.” Ujar Lia pada orang itu yang ternyata adalah adiknya.
Di sebrang sana adik Lia mencoba menghentikan tangisnya. “Kak… mamah kak… mamah hiks.. jatuh di kamar mandi.. hiks.. mamah pingsan. Sekarang aku sama papah lagi di rumah sakitt… hiks.” Jelasnya dengan sesekali terisak lirih.
Ucapan sang adik membuat kantuk di pelupuk mata Lia seketika menghilang. “Terus sekarang keadaan mamah gimana?” Dengan cepat Lia bangun dan duduk di sisi ranjang.
“Mamah masih di periksa, aku belum tau gimana keadaannya. Hiks…”
“Ya sudah, nanti kakak coba cari tiket. Kalau dapat kakak pulang hari ini. Kamu harus tenang jangan nangis terus. Kasihan papa nanti tambah kepikiran, kalau ada apa-apa telpon kakak. Terus nanti kalau mamah sudah sadar jangan lupa kasih tau.” Ucapnya lalu menutup sambungan telpon.
Setelah itu dia langsung membuka salah satu aplikasi di ponselnya untuk mencari tiket.
“Kenapa?” Hendra beringsut mendekati Lia membuat perempuan itu sedikit tersentak.
“Ha? Mas bangun? Maaf, aku ganggu.” Ucapnya.
“Kenapa?” Karena tak mendapat jawaban Hendra kembali bertanya.
“Mamah jatuh di kamar mandi, sudah di bawa kerumah sakit, sekarang masih di tangani Dokter. Aku mau ajak Naira pulang buat jenguk mamah gak apa-apa kan mas?” Jelas Lia dengan raut wajah khawatir.
“Aku lagi cari tiket, kalau dapet, hari ini aku pulang.” Jelas Lia lagi seraya menunjukan apa yang tertera di layar ponselnya.
Hendra tak langsung menjawab, ada rasa khawatir di hati jika membiarkan Lia pergi apalagi membawa Naira dalam keadaan kalut seperti ini.
Tapi kalau dia mengantar Lia, lali bagaimana dengan janjinya pada Rahma? Apa yang harus dia lakukan?
Flashback Off :
Hari yang di nanti akhirnya sudah di depan mata, tak sabar rasanya menunggu hari esok tiba. Sudah terbayang bagaimana seru dan bahagianya bisa bertemu keluarga yang sudah lama tak jumpa.
Rahma kembali mengecek satu persatu barang yang akan di bawa, rasa gundah di hati tak mengurangi rasa bahagianya. “Ok sudah lengkap.” Ucapnya.
“Tinggal menunggu mas Hendra pulang.” Di liriknya jam yang menempel di dinding. “Jam dua.” Masih lama, karena biasanya Hendra akan datang saat maghrib tiba. Rahma pun beranjak dan berniat turun ke lantai bawah.
Kring…!!!
Dering ponsel terdengar, membuat Rahma kembali menarik tangannya yang sudah memegang handle pintu. “Panjang umurnya..” ucap Rahma setelah melihat kalau ternyata Hendra lah yang menelpon.
“Hallo mas, Assalamualaikum…”
“Waalaikumsalam, Ra…”
“Iya, kenapa mas?”
“Maaf…” hati Rahma mulai tak enak ketika Hendra mengawali ucapannya dengan kata maaf. “Kenapa?”
“Maaf, mas gak jadi pulang hari ini. Mamahnya Lia dalam keadaan kritis, mas gak tega kalau biarin dia pulang hanya dengan Naira dalam keadaan kalut. Mas khawatir. Maaf, mas janji akan pulang besok pagi-pagi sekali.”
Penjelasan Hendra bagai lebah yang bergerombol di telinganya. Beedenging, berisik dan membuat telinganya sakit.
“Oke.”
Tak ada kata lain yang keluar dari mulut Rahma. Dia bisa apa kalau Hendra sudah memutuskan tidak jadi pulang hari ini, marah-marah? Merengek? Tidak. Dia tidak akan melakukan hal itu.
“Kamu marah?” Tanya Hendra was-was.
“Tidak.” Memang benar, Rahma tidak marah. Dia hanya kecewa.
“Aku tutup. Assalamualaikum.” Tanpa menunggu jawaban, Rahma menutup telpon itu.
Dalam hati Rahma bertanya, akankah besok Hendra benar-benar akan pulang? Ataukah akan ada alasan lain yang membuat dia akhirnya kembali kecewa?
“Semoga saja tidak ada kebohongan yang lainnya.” Lirih Rahma. Entah kenapa dia sangsi atas alasan Hendra membatalkan kepulangannya.