Janda Dua Anak Di Pinang Bujang

Janda Dua Anak Di Pinang Bujang
Part 22


Burung besi yang membawa Hendra kembali ke perantauan akhirnya mendarat dengan selamat. Bersama penumpang lainnya Hendra berjalan menuju gate kedatangan, tak jauh dari pintu keluar terlihat Lia berdiri di dekat pilar besar dengan Naira di gendongannya.


“Mas…” Lia mencium tangan Hendra dan merangkulnya sebentar.


“Nyetir sendiri?” Tanya Hendra.


“Gak, naik taxi.” Lia tau suaminya tak suka kalau dia membawa mobil sendiri dengan Naira bersamanya. Entah kenapa, mungkin karena Naira masih bayi jadi Hendra was-was.


Hendra mengambil alih Naira dari gendongan Lia, lalu berjalan menuju antrian taxi bandara. “Ayo.” Ajaknya pada Lia.


Ocehan Naira yang belum jelas terdengar sepanjang jalan. Hendra dengan senang hati menimpali dan mengajak bicara bayi perempuan itu.


“Kangen ayah ya Nai, ngoceh terus kamu. Tadi sama mama diem aja.” Ujar Lia mencolek pipi anaknya.


“Iyalah, kangen ya Nak… kangen banget sama ayah.” Ujar Hendra seraya menciumi Naira hingga membuat bayi itu tertawa.


Berpuluh-puluh menit kemudian, mereka akhirnya tiba dirumah. “Terima kasih pak.” Hendra turun seraya membayar ongkos sesuai dengan angka yang tertera.


Di dalam rumah, Hendra kembali menyerahkan Naira pada Lia karena dia ingin membersihkan diri. “Sama mamah dulu nak…” ujar Lia saat Naira merengek kala terlepas dari gendongan sang ayah.


“Gak apa-apa mas mandi aja.” Lia mencegah saat Hendra akan kembali menggendong Naira.


Dengan cepat Hendra menaiki tangga menuju lantai atas dan masuk ke kamar. Menyimpan tas di atas nakas, dia pun bergegas mandi. Sepuluh menit kemudian pria itu muncul dari balik pintu kamar mandi dengan wajah segar.


“Lupa.” Tiba-tiba dia berkata seraya menepuk kening. “Aku belum kasih kabar sama Rahma kalau sudah sampai.” Lanjutnya. Dengan segera dia mengambil ponsel di dalam tas hendak menelpon istrinya, tapi dalam ingatannya terlintas perkataan Rahma pada malam sebelumnya.


“Mas… aku minta, tolong sebisa mungkin kamu jangan berhubungan dengan “dia” kalau di sampingku apalagi anak-anak. Maaf, bukannya menghalangi. Tapi aku tidak suka. Kalau kamu sedang sendiri, tidak apa-apa. Karena bagaimanapun dia juga perlu tau kabarmu. Begitupun saat kamu sedang bersamanya. Hubungi aku dan anak-anak saat kamu sendiri.”


Hendra terdiam sejenak sebelum akhirnya memilih mengirim pesan dan memberitahukan kalau dirinya sudah sampai dengan selamat. Tak lama masuk pesan balasan dari Rahma, setelahnya Hendra pun turun.


\~*\~*\~*\~*\~


Selepas shalat isya, para penghuni rumah kembali berkumpul dan duduk anteng di ruang tengah dengan kesibukannya masing-masing. Kiara dan Maura duduk di atas karpet dengan buku pelajaran di depannya. Konon, Maura lupa kalau ada tugas yang belum di kerjakan jadi meminta bantuan sang kakak.


Bi Nah, wanita itu tengah khusyuk duduk tak jauh dari tv yang menyala. Sinetron kegemaran emak-emak di Indonesia menjadi tontonannya malam ini.


Sedangkan Rahma duduk di sofa ujung sambil telponan dengan sang ibu di kampung. Bercerita ngalor ngidul, dari yang lucu hingga serius. Dan juga tak lupa berkabar kalau kemungkinan dirinya akan pulang.


“Mih, mun jadi ke teteh bade uih mun budak libur sakola.” Ujar Rahma memberitau.


“Alhamdulillah, sareung Hendra?”


(sama Hendra)


“Enya, mun jadi eta oge. Ke di wartosan deui mun tos caket.”


(iya, itu juga kalau jadi. Nanti di kasih tau lagi kalau sudah dekat)


“Enya atuh.”


(iya)


“Tapi teteh mah moal lila di lembur mih, urang ulin weh kitu kamana tah.”


(Tapi kakak gak akan lama di kampung. Kita main kemana gitu..)


“Muhun, sok weh bade di ajak kamana wae ge da mih mah saukur mimilu hungkul.”


(iya, mau di ajak kemana juga ayo karena mih cuma bisa ikut)


“Di ajak ka panghulu hoyong teu?” Goda Rahma pada sang ibu.


(di ajak ke penghulu mau gak)


“Heh, pek weh teteh.” Jawab bu Imas kesal yang justru membuat Rahma tertawa.


(sana aja kamu)


Merasa sudah puas mengobrol, Rahma berpamitan karena jam juga sudah menunjukan waktu untuk kedua anaknya tidur. “Nya ntos atuh, tos weungi. Ke teteh telpon deui.” Ujar Rahma lalu menutup sambungan telpon setelah sebelumnya mengucap salam.


“Kakak… adek… ayok tidur nak.” Beranjak dari duduknya, Rahma menggiring kedua anaknya naik ke lantai atas untuk tidur.


Sementara bi Nah masih setia dengan sinetron kesukaannya. “Duluan ya bi…” ucap Rahma seraya berlalu.


“Iya bu.” Jawab bi Nah tanpa melihat majikannya yang tersenyum seraya menggelengkan kepala melihat kelakuan wanita paruh baya itu.