Janda Dua Anak Di Pinang Bujang

Janda Dua Anak Di Pinang Bujang
Part 16


Sepanjang malam Hendra menggendong Naira sambil berjalan-jalan kecil. Dari mulutnya terdengar nyanyian lirih agar sang anak tidur dengan lelap. Jujur dia sudah lelah dan ingin beristirahat.


“Mas… sini gantian biar aku yang gendong.” Ucap Lia mengulurkan tangan.


“Naira belum benar-benar tidur, kalau di pindah nanti rewel lagi. Mending kamu tidur duluan, tadi kan kamu sudah gendong Naira.”


“Ya udah. Nanti kalau ada apa-apa bangunin aku aja.”


“Iya.”


Efek dari imunisasi membuat badan Naira panas dan bayi itu menjadi rewel. Tidak mau ditidurkan di kasur dan maunya terus di gendong sambil berjalan. Dirasa sudah benar-benar lelap, Hendra mencoba meletakan Naira di samping Lia.


“Eungh… ehek…” baru saja badannya menyentuh kasur mulut bayi itu sudah kembali merengek.


Menghela nafas lelah, Hendra kembali menggendong Naira dan menimangnya. “Tidur nak, udah malem. Ayah juga udah ngantuk banget.” Lirihnya seraya menepuk kecil bokong Naira.


Berjalan mengelilingi kamar, mata Hendra tak sengaja menatap ponsel Lia yang ada di atas nakas. “Astagfirullah…” Hendra terdiam, terbersit dalam ingatannya kalau dia lupa belum mengabari Rahma dan kedua anaknya.


Dia celingukan dengan mata yang melihat seksama mencari keberadaan tas kerjanya. “Itu dia.” Gumamnya. Dia melangkah mendekat ke arah kursi yang berada di dekat jendela lalu tangannya merogoh tas tersebut untuk mencari keberadaan ponselnya.


Hendra lantas duduk begitu mendapatkan apa yang di carinya. “Rahma…” dengan lihai dia memeriksa beberapa panggilan tak terjawab serta pesan yang terabaikan dari istrinya.


“Sudah larut malam, sebaiknya besok saja.” Dia mengurungkan niat untuk menelepon Rahma.


“Sstt… hm…hm…” Hendra kembali menepuk-nepuk bokong Naira yang kembali merengek. Mencoba peruntungan, Hendra memejamkan mata yanh sudah terasa sangat berat dengan tangan yang terus menepuk-nepuk kecil Naira.


\~*\~*\~*\~*\~


Roda mobil berhenti di area parkir sekolah, Kiara dan Maura bergegas turun setelah sang bunda membukakan pintu. “Salim bun.” kiara menyambar tangan sang bunda dan menciumnya di ikuti Maura.


“Assalamualaikum…” ucap kedua anak itu.


“Jangan lari.” Cegah Rahma melihat kedua anaknya sudah mengambil ancang-ancang akan berlari.


“Udah telat bun.”


“Belum, masih ada waktu. Jangan lari, jalan aja. Bunda liatin dari sini.”


Dengan wajah pasrah Kiara dan Maura berjalan bergandengan tangan di iringi tatapan ibunya.


Bugh…!! Rahma kembali masuk kedalam mobil setelah melihat kedua anaknya benar-benar masuk kedalam sekolah. Dengan perlahan dia melajukan mobil meninggalkan area sekolah.


**


Rahma memberhentikan mobilnya karena lampu lalu lintas yang sedang berwarna merah, bertepatan dengan itu terdengar aluman nada dering dari ponsel Rahma, tertera nama “Mih” di layar benda canggih itu.


“Hallo, Assalamualaikum… Mih sehat.” Jawabnya seraya mengucap salam dan menanyakan kabar.


“Waalaikumsalam… Allhamdulillah sehat. Teteh sehat?”


“Alhamdulilah… teteh oge sehat. Aya naon mih?”


(teteh juga sehat. Ada apa mih?)


“Euweuh nanaon, ulah kitu telepon mun teu aya perlu?” Jawab sang ibu di sebrang telpon dengan sewot hingga membuat Rahma terkekeh.


“Nya lain kitu atuhh… tong ambekan ah.” Goda Rahma.


(Bukan begitu, jangan marah-marah)


Tin… tin…terdengar pengendara tak tau diri membunyikan klakson padahal lampu masih merah. “Teteh dimana?”


“Di jalan uih tos nganteurkeun budak sakola.”


(di jalan pulang baru nganter anak sekolah)


“Ih, atuh pareuman heula ah telpona, kedeui wae ari tos di bumi. palalaur…”


(Matikan dulu telponnya, nanti saja kalau sudah di rumah. Khawatir)


“Nya oke atuh, ke teteh telpon lamun tos dugi. Assalamualaikum…”


(iya, nanti teteh telpon kalau sudah sampai)


“Waalaikumsalam…”


Baru saja akan memasukan kembali ponselnya kedalam tas, panggilan baru sudah masuk. “Mas Hendra…” gumam Rahma.


Tin… tin…


Lampu sudah berwarna hijau, orang-orang tak sabaran kembali membunyikan klakson semakin kencang. “Ck… gak sabaran…” dumelnya kesal.


Dengan cepat dia mencampakan ponselnya pada jok samping dan melajukan mobilnya ke arah pulang. Setelah beberapa menit, akhirnya dia sampai dan langsung menjawab telpon dari suaminya karena ponsel itu terus berdering membuat wanita itu kesal sendiri.


“Assalamualaikum.”


“Waalaikumsalam, kamu darimana Ra? Habis ngapain? Kok telpon mas gak di jawab-jawab? Kamu marah sama mas?” Tanya Hendra bertubi-tubi dengan suara tinggi.


Rahma menghela nafas kasar seraya mengurut pelipisnya pelan. “Aku lagi di jalan mas, lagi nyetir. Kan kamu tau kalau ini waktunya aku antar anak-anak ke sekolah.” Jawabnya sedikit kesal.


“Iya.. iya.. mas minta maaf. Mas lupa. Tadi mas takut kalau kamu marah. Sekarang dimana? Sudah sampe rumah?” Dengan suara lembut.


“Sudah. Baru sampe.”


“Mas minta maaf semalam gak ngabarin kamu sama anak-anak. Naira demam habis di imunisasi, rewel maunya di gendong terus.” Jelas Hendra.


Rahma terdiam, tangan kanan yang bebas dengan kuat mencengkram stir mobil hingga jari dan telapaknya memutih. Entah kenapa Hendra harus menjelaskan alasan sebenarnya, kenapa dia tidak berbohong saja. Batin Rahma


“Iya gak apa-apa.” Jawab Rahma getir.


“Eum… terus.. ada lagi Ra…” kegugupan hendra membuat Rahma was-was.


“Maaf… kalau Naira belum sembuh, mas izin undur kepulangan mas ya Ra.. tolong jelasin sama Kiara dan Maura.…” ucapan Hendra terdengar pelan dan lembut tapi membuat hati Rahma sakit.


“Iya. Aku tutup dulu. Assalamualaikum.” Tanpa menunggu jawaban dia mematikan sambungan telpon.


Dia menelungkupkan wajahnya di atas stir dengan deraian air mata membasahi wajah. “Kenapa harus seperti ini. Kenapa di saat aku bertahan kamu malah berprilaku egois…” isaknya tersedu.