
Rahma dan kedua anaknya sedang dalam perjalanan menuju kantor Hendra, setelah sebelumnya terlebih dulu mampir di gerai makanan cepat saji untuk mengisi perut sekaligus membeli cemilan.
Pemandangan kota dan hiruk pikuk pengguna jalan tak mampu mengalihkan pikiran Rahma, wanita itu memang menatap keluar jendela, tapi tatapan matanya kosong karena otaknya sibuk mencari jawaban atas segala pertanyaan dalam benaknya.
Kejanggalan yang baru saja di temuinya membuat pikiran wanita itu berkelana, memikirkan segala alasan kenapa sekiranya Hendra meninggalkan rumah itu tanpa memberitahunya.
Apakah mungkin karena dia tak ikut tinggal disini, jadi suaminya itu tak berbicara apa-apa. Kalau misalnya benar pindah atau mendapat rumah dinas baru, alasan apa yang membuat suaminya itu tak memberitahu.
“Maaf, mau turun dimana Bu?” Perkataan si sopir membuyarkan lamunan Rahma.
“Oh, iya Pak.” Rahma mengusap wajahnya. “Eum… masuk saja Pak. Saya turun di dalam.”
Mobil pun perlahan berbelok dan memasuki sebuah gedung perkantoran. Bertepatan dengan itu, beberapa meter di depan, terlihat Hendra berjalan keluar dengan langkah tergesa dan dengan cepat masuk kedalam mobil. “Mas Hendra.” Gumam Rahma.
Ada perasaan lega di hati Rahma melihat suaminya dalam keadaan baik-baik saja. “Tapi… bukannya ini masih belum jam pulang? Terus mau kemana Mas Hendra? Apa ada pekerjaan di luar?”
“Tolong ikuti mobil di depan itu pak.”
“Baik bu.”
Rahma sudah mencoba menghubungi Hendra saat mereka makan tadi, mengesampingkan bahwa kedatangannya kesini untuk memberi kejutan, tapi sayang… ternyata ponsel pria itu tak aktif.
Sekarang, di saat dia sudah berada di tempat kerja suaminya, dia malah melihat pria itu pergi di jam kantor dengan terburu-buru. Untung saja dirinya datang tepat waktu, walaupun kini hanya bisa mengikutinya seperti seorang mata-mata.
Rahma melirik pada kursi di sampingnya, senyum tipis terukir di bibirnya. “Kecapekan apa kekenyangan nak…” ternyata kedua anak itu sudah berkelana ke alam mimpi, lalu di usapnya kepala Kiara dan Maura dengan lembut.
Menit demi menit berlalu, Rahma masih setia mengikuti Hendra dalam diam. Bahkan saat pria itu mampir ke sebuah rumah makan dia memilih menunggu di dalam mobil. Tak lama dia kembali keluar dengan kantong plastik besar ditangannya.
Perjalanan terus berlanjut, mobil Hendra melaju ke arah berlawanan dengan rumah yang di datanginya tadi. Seolah membenarkan kalau pria itu memang sudah pindah.
Beberapa menit berlalu, kening Rahma berkerut heran melihat mobil yang di kendarai Hendra memasuki sebuah komplek perumahan yang bisa di katakan mewah. “Apakah mungkin rumah mewah ini di berikan pihak kantor sebagai fasilitas?” Gumamnya lirih.
Apalagi ketika Hendra menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah berlantai 2 dengan gaya minimalis.
“Mungkin itu rumah rekan kerja Mas Hendra. Aku tunggu disini dulu saja sebentar” masih mencoba untuk berpikir positif, akhirnya Rahma meminta si sopir berhenti di sebrang rumah yang untungnya merupakan taman komplek.
“Tunggu disini sebentar gak apa-apa kan Pak.” Tanyanya pada si sopir taxi.
“Tidak apa-apa Bu. Tapi maaf, saya tunggu di luar ya Bu. Mau merokok.” Pamitnya dengan wajah sungkan. Yang lantas di angguki Rahma.
Sementara itu Hendra turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah dengan membawa plastik berisi makanan dan tas kerja di kedua tangannya.
Baru saja kakinya menapak di atas lantai teras, pintu rumah sudah terlebih dulu terbuka. Perempuan muda dan cantik memakai dress selutut tampak muncul dari balik pintu. Bibirnya menyunggingkan senyum lebar menyambut kedatangan Hendra.
“Mas kok udah pulang?” Tanyanya sambil berjalan menghampiri Hendra dan memeluknya singkat.
“Iya.” Jawab Hendra singkat.
“Sini aku bantu bawa.” Dia mengambil alih plastik berisi makanan yang tadi dipesannya.
“Ya udah, ayok masuk.” Perempuan itu memeluk mesra lengan Hendra dan mengajaknya masuk.
Sepasang manusia itu melenggang masuk ke dalam rumah dengan di selingi obrolan kecil. Mereka sama sekali tak menyadari kalau ada sepasang mata yang menatap aksi keduanya dengan penuh luka.
Di balik kaca jendela sebuah taxi, Rahma menyaksikan semuanya. Wanita itu hanya bisa mematung, sepersekian detik rasanya tubuh wanita itu bagai kehilangan sukma. Hanya bisa terdiam kaku dengan mata yang membola dan air mata yang berlomba membanjiri wajahnya.
Setelah pintu rumah tertutup sempurna, tangis Rahma pecah seketika. Dia berusaha sekuat tenaga menahan isak tangisnya agar tak mengeluarkan suara.
Dia bekap mulutnya dengan erat menggunakan kedua tangan.
Dalam hati ia bertanya kenapa suaminya begitu tega padanya. Dosa apa yang telah dia lakukan sehingga harus merasakan sakitnya di duakan.