Janda Dua Anak Di Pinang Bujang

Janda Dua Anak Di Pinang Bujang
Part 24


Matahari pagi baru saja menyinari bumi, tapi Rahma, Kiara, Maura dan juga bi Nah sudah terlihat bersiap dengan kaos berwarna senada. Setelah memastikan semua pintu dan jendela terkunci, ke-empat orang itu segera berlalu pergi.


Sesuai rencana yang sudah Rahma rancang, hari ini mereka akan pergi mengunjungi banyak tempat. Hal yang pertama yang harus di lakukan tentu saja adalah sarapan. Otak tidak akan berjalan dengan benar kalau perut belum di isi.


Rahma menghentikan mobilnya di ujung jalan komplek, dimana deretan gerobak para penjual sarapan berada. Turun dari mobil, mereka melangkah menghampiri para penjual sarapan yang berbeda. Setelahnya, dengan membawa sepiring sarapan di tangan, mereka kembali berkumpul di meja yang sama.


“Mampir ke pasar sebentar ya bu.” Ucap bi Nah seraya mendorong piringnya ke tengah meja.


Wanita itu menjelaskan ada yang ingin di beli untuk persediaan di rumah beberapa hari ke depan sampai mereka pergi. Rahma yang sedang mengunyah sarapannya hanya menganguk dan membentuk simbol ok dengan tangannya.


**


Sudah beberapa jam mereka berkeliling, masuk dari satu toko ke toko yang lain. Kantong-kantong belanjaan hampir memenuhi bagasi, tapi masih ada satu tempat yang belum Rahma sambangi. Tenang, ini yang tetakhir.


Kegiatan ini bukan pemborosan sebenarnya. Toh selagi Rahma punya uang kenapa tidak. Lagipula bukan hanya kepada ibu dan adiknya saja dia harus memberi, keluarga yang lain juga harus dapat walau tak seberapa.


Ibu Rahma adalah anak kelima dari sebelas bersaudara, dan yang pasti kesemua saudara ibunya sudah menjadi nenek. Jadi bayangkan… seberapa banyak Rahma harus membeli oleh-oleh.


“Mba Rahma…”


Tengah asik memilih, Rahma di kejutkan oleh tepukan di pundaknya dari arah belakangnya.


“Eh iya..” spontan Rahma menoleh. Terlihat seorang wanita yang mungkin umurnya tak jauh di atas Rahma.


“Belanja banyak banget mba..” lanjut wanita itu dengan ramah.


“Eh… iya…” Jawab Rahma masih meneliti dan mengingat-ingat siapa wanita di depannya ini.


“Mba.. Alia bukan?” Setelah beberapa detik akhirnya Rahma berhasil mengingat, perempuan itu adalah istri dari teman kerja suaminya.


Alia mengangguk. “Iya mba.. udah lama loh kita gak ketemu semenjak suaminya mba Rahma pindah tugas.”


“Iya, maklum saya jarang keluar. Paling nganter anak sekolah sama belanja aja.” Rahma memberi alasan. Padahal memang dia kurang sreg saja.


Percakapan ringan antara keduanya berlangsung cukup lama dan di dominasi oleh Alia. Hingga tiba-tiba…


“Selamat ya mba Rahma, suaminya sudah naik jabatan. Ya walaupun saya telat ngucapinnya karena sudah lama tapi gak apa-apa.” Ujar Alia tersenyum dengan menepuk pelan lengan Rahma.


Rahma mematung. Ucapan selamat dari Alia tidak membuatnya bahagia tapi justru bertanya-tanya. “O.. oh iya makasih loh mba Alia.” Jawab Rahma dengan senyum terpaksa.


Walaupun tak tau menau soal “kenaikan” itu, tapi tak mungkin Rahma mengungkapkannya pada Alia.


“Bunda…”


“Iya nak. Sebentar… mba Alia maaf ya saya duluan masih ada yang perlu saya cari.” Rahma sungguh berterima kasih pada Kiara, anak itu datang pada saat yang tepat. Pasalnya Rahma takut tak bisa berbohong dan berbasa basi lebih jauh lagi.


“Iya, gak apa-apa mba. Silahkan.”


Rahma tersenyum dan segera berlalu. Selera belanjanya sudah buyar, tak ada lagi hasrat untuk berlama-lama di tempat itu. Dengan cepat dia mengajak anak-anak serta bi Nah untuk pulang.


Di dalam mobil Rahma hanya diam. Pandangannya lurus menatap jalan, berusaha untuk fokus di tengah pikirannya yang melayang.


Sesampainya di rumah dia langsung membersihkan diri, dengan cukup lama dia berdiri dibawah guyuran air hingga kepalanya terasa dingin.


“Naik jabatan? Sudah lama? Kapan?” Pertanyaan itu terus berputar berulang kali di benaknya.


Setelah mandi Rahma kembali turun ke bawah, dia memilih menyibukan diri dengan barang belanjaannya. Membagi rata semua oleh-oleh untuk keluarganya. Tak lama bi Nah dan kedua anaknya terlihat berjalan menghampiri.


“Mau masak apa bu buat nanti malam?” Tanya bi Nah.


“Gak usah masak bi, capek. Pesen aja nanti.” Jawab Rahma, lalu meminta Kiara dan Maura untuk memesan makanan lewat aplikasi.


Menyibukan diri bukan berarti Rahma bisa melupakan begitu saja pertanyaan dalam benaknya. Entah kenapa dia merasa dejavu…


Beberapa bulan yang lalu, di saat dia merasa bahagia karena akan bertemu suaminya, dia harus menerima kenyataan pahit tentang pernikahan suaminya.


Sekarang!! Disaat dia bahagia karena akan bertemu keluarganya, dia harus kembali merasa sakit karena mengetahui kebohongan suaminya.


Rahma menghela nafas kasar. Matanya terasa panas dan kepalanya terasa berat. Dia tak tau harus berbuat apa. Langsung bertanya atau menunggu suaminya bicara. Tapi tampaknya sulit. Kalau dia mau, dia bisa berterus terang dari awal, tapi apa?


Lagi.. dan lagi.. Rahma menghela nafas kasar.


“Disaat aku mencoba bertahan.. disaat aku mencoba berdamai dengan keadaan.. disaat aku memcoba menerima semuanya.. kenapa aku harus kembali mengetahui kebohonganmu yang lain mas..” ratap Rahma dalam hati.