
Waktu menunjukan pukul tiga dini hari, tapi Rahma sudah berkutat di dapur setelah sebelumnya shalat malam lebih dulu. Obrolannya dengan Hendra semalam membuat dirinya tak nyenyak tidur, hampir satu jam sekali dia terbangun.
Suara berisik dari dapur membuat bi Nah yang kamarnya bersebelahan dengan dapur terbangun. Dengan mata yang belum sepenuhnya terbuka dia duduk di pinggir ranjang. Mata tuanya mengerjap pelan seraya melihat jam yang tergantung di atas pintu.
“Jam 3…” gumamnya. “Siapa yang masak malem-malem gini?” Lanjutnya.
Penasaran, bi Nah pun beranjak. Dengan pelan dia membuka pintu kamar. Dalam hati bi Nah sedikit takut, bukan takut hantu tapi lebih takut kalau ternyata itu adalah maling. “Tapi, masa ada maling numpang masak?” Gumamnya. Otak yang belum sepenuhnya sadar membuat bi Nah menjadi ngaco.
**
Suara sutil yang beradu dengan kuali terdengar begitu nyaring padahal Rahma sudah berusaha sepelan mungkin. Tapi suasana malam yang hening membuat suara sekecil apapun akan terdengar lebih nyaring.
Tangan Rahma terulur meraih sendok untuk mencicipi rasa masakannya. Baru saja sendok berisi masakan itu akan memasuki mulut terdengar suara yang membuat Rahma berjengit kaget, membuat sendok itu terjatuh.
“Bu!!”
Trang…
Bunyi sendok yang membentur lantai menimbulkan bunyi yang cukup nyaring. “Astagfirullah… bi!!!” Serunya seraya mengelus dada.
“Maaf bu.” Bi Nah meringis, tangannya menggaruk kepala yang tak gatal.
Rahma menghirup nafas dan membuangnya pelan. “Saya yang harusnya minta maaf karena sudah ganggu istirahat bi Nah.“
“Gak apa-apa bu. Mau saya bantu?”
“Gak usah. Bi Nah istirahat lagi aja.”
Tapi Bi Nah yang merasa tak enak akhirnya ngeyel untuk tetap membantu. Lagipula kalau pun kembali ke kamar dia tak akan bisa kembali terlelap.
Beberapa menu hidangan akhirnya rampung di masak. Bertepatan dengan terdengar kumandang suara adzan. Rahma dan bi Nah bergegas kembali ke kamar masing-masing.
**
Teriknya sinar matahari tak menyurutkan semangat Kiara dan Maura untuk menaiki semua wahana permainan yang mereka inginkan.
Rasa lelah terkalahkan oleh rasa senang, padahal keringat sudah bercucuran hingga membuat baju basah. “Kakak sama adek gak cape?” Tanya Rahma.
“Gak bun.” Kedua kompak menggeleng.
“Makan dulu ya nanti baru main lagi.”
Rahma menggiring keduanya masuk kedalam salah satu gerai makan untuk mengisi perut. “Mas yang pesan, kamu sama anak-anak cari tempat duduk saja.” Ujar Hendra.
Setelah satu jam, Rahma dan Hendra kembali ikut menjajal satu persatu permainan untuk menemani Kiara dan Maura.
Sebenarnya ini jalan-jalan dadakan atas permintaan Kiara dan Maura. Setelah subuh tadi keduanya merengek ingin pergi ke wahana bermain, padahal rencananya Hendra akan mengajak mereka untuk mengunjungi kakek dan neneknya baru besok sebelum Hendra kembali pergi mereka akan menyempatkan pergi ke kebun binatang. Tapi ya sudah, anaknya mau begitu ya di turuti saja asal masih wajar. Hari sudah beranjak sore, Rahma memaksa kedua anaknya pulang walau mereka enggan.
Kemacetan jalanan di akhir pekan membuat keluarga itu sampai rumah dalam keadaan langit yang sudah gelap. Dengan gesit mereka membersihkan diri karena perut sudah kembali minta di isi.
“Bi… bi Nah…”
“Iya bu…” sahut bi Nah dari arah dapur.
“Bibi udah makan?”
“Belum bu. Ini baru mau.”
“Ya udah kalau gitu makan bareng disini aja, tadi saya beli lauk banyak.”
“Gak usah bu saya…”
Rahma meletakan telunjuk di depan bibir meminta bi Nah tak membantah. “Gak apa-apa kita makan bareng.”
Bi Nah mengangguk. Walaupun sering makan satu meja dengan Rahma tapi jika ada majikan laki-lakinya bi Nah segan dan sungkan. Bukan karena galak atau apa, tapi memang tak sedekat dan seramah majikan perempuannya. “Kalau begitu saya ambil piring sebentar bu.”
“Iya, makasih ya bi.”
Setelah makan malam mereka berkumpul di ruang tengah seraya menonton tv. Menunggu makanan yang masuk agar di cerna dengan baik oleh si usus. “Bunda…” Kiara yang tadinya duduk lesehan di karpet beranjak menaiki sofa dan duduk di samping ibunya.
“Iya nak, kenapa?” Rahma melingkarkan tangannya memeluk si sulung.
“Malam ini boleh tidur bareng sama ayah sama bunda ya?” Pintanya manja.
“Kenapa kak?” Bukan Rahma, melainkan Hendra yang menjawab.
“Boleh, adek juga?” Rahma mengiyakan dan mengabaikan perkataan suaminya.
“Iya…” Maura menjawab lemah karena kantuk yang sudah mulai menguasai.
“Ya udah ayo bersih-bersih. Liat adek udah mulai tepar.” Rahma beranjak dan menggendong Maura naik ke atas di ikuti Kiara.
“Ayo ayah…” Hendra yang terdiam karena di acuhkan istrinya beranjak mengikuti karena tarikan di lengannya.
Menghela nafas pasrah Hendra mulai menaiki tangga satu persatu dengan pelan. Niatnya mendekati Rahma untuk membujuk wanita itu harus pupus karena kedua anaknya.