
Flashback On
Selama bekerja di salah satu instansi pemerintahan, baru kali ini Hendra mendapat tugas dan harus menetap di luar kota untuk beberapa lama.
Terhitung sudah satu tahun lamanya dia tinggal berjauhan dengan istri dan kedua anaknya. Niat hati ingin membawa keluarganya ikut, tapi apa daya kondisi tidak memungkinkan.
Kedua anaknya sudah bersekolah dan rasanya kasihan apabila mereka harus berpindah-pindah sekolah dan beradaptasi dengan lingkungan barunya.
Menghabiskan waktu dengan telponan atau bercengkrama lewat video call setiap hari Hendra lakukan bersama istri dan kedua anaknya untuk mengusir rasa sepi kala harus berdiam seorang diri di rumah setelah pulang bekerja.
Pagi ini Hendra pergi bekerja seperti biasanya. Mobil kantor yang dia kendarai melaju dengan santai di tengah kemacetan kota.
Beberapa menit berjibaku di jalanan, akhirnya dia sampai di gedung perkantorannya. Setelah memarkirkan mobil di pelataran depan gedung, dia melangkah masuk sambil sesekali tersenyum dan menyapa rekannya yang kebetulan berpapasan.
“Hei Ndra.” Sapa sebuah suara dari arah belakang yang membuat Hendra menoleh.
“Hei, tumben. Biasanya nunggu mepet baru datang.” Usil Hendra pada si penyapa yang ternyata rekan kerjanya bernama Rian. Yang hanya di balas kekehan kecil oleh Rian.
“Nanti malam lo harus ikut. Jangan sampai gak. Masa udah satu tahun disini gak pernah ikutan nongkrong.” Ajakan berupa paksaan itu membuat Hendra berpikir sejenak untuk menjawab.
Ajakan keluar untuk sekedar “nongkrong” sebenarnya bukan hanya kali ini saja dia dapatkan. Melainkan sudah sejak awal kepindahannya, dan Hendra selalu menolak. Tapi sepertinya tidak ada kata menyerah dari rekan kerjanya itu.
Tak enak selalu mangkir ketika di ajak, akhirnya Hendra pun menyanggupi untuk datang.
“Nah, gitu kan enak.” Rian menepuk punggung Hendra sedikit keras. Sementara Hendra hanya tersenyum kecil.
“Ya udah, gua duluan. Nanti gua kabarin.” Hendra pun mengangguk.
Sekedar informasi. Rian adalah rekan kerja Hendra. Umur yang sebaya dan juga sama-sama berasal dari Jakarta membuat keduanya cepat akrab. Di tambah kondisi yang harus tinggal berjauhan dengan keluarga membuat mereka seperti menemukan teman senasib dan sepenanggungan.
Membuka pintu ruangan kerjanya, mata Hendra langsung terpatri pada setumpuk berkas di atas meja yang seolah melambai untuk segera di selesaikan.
Tok tok
Baru saja pintu tertutup, sudah ada yang mengetuk. “Iya.” Hendra kembali membuka pintu. Ternyata pak Tris, OB kantor mengantar kopi yang di pesan Hendra sebelum naik ke ruangannya tadi.
“Pagi pak. Mau ngantar kopi.” Ucapnya seraya tersenyum ramah.
“Pagi pak Tris. Tolong taro di meja aja pak. Makasih ya.”
“Sama-sama. Saya permisi pak.”
“Iya.” Dan pintu pun kembali di tutup.
Dengan santai Hendra duduk dan menikmati secangkir kopi sebelum memulai harinya yang sibuk.
\~*\~*\~*\~*\~
Jam sudah menunjukan pukul tujuh malam, ketika Hendra berjalan keluar rumah. Setelah mengunci pagar, dia masuk dan langsung memacu mobilnya dengan kecepatan sedang.
Ponsel di saku celananya terus bergetar, bisa di pastikan kalau itu adalah Rian. Apa sebegitu senangnya pria itu hingga dia tak berhenti menghubungi Hendra dan mengingatkan soal acara malam ini.
Beberapa menit kemudian mobil Hendra sudah terparkir rapi di depan sebuah food court. Ya!! Bukan café atau semacamnya. Tempat “nongkrong” favorit Rian adalah sebuah food court. Tempat ini hanya buka dari sore hingga dini hari.
Melangkah masuk sambil celingukan mencari Rian. Akhirnya Hendra melihat lambaian tangan temannya itu.
Kening Hendra mengkerut melihat Rian yang tak sendiri. Di meja bundar dengan enam kursi itu ternyata ada beberapa rekan kerjanya yang lain. Hendra kenal, tapi tidak begitu dekat.
Cerita punya cerita ternyata kebetulan Rian bertemu mereka di tempat parkir dan akhirnya memilih bergabung. Tak lama satu persatu hidangan yang di pesan pun tiba, mereka menikmatinya dengan khidmat sambil mengobrol ria.
Semakin malam tempat makan itu bukannya sepi tapi justru semakin ramai dan semakin meriah. Tersedianya panggung musik sebagai hiburan, menambah bising suasana.
Hendra sendiri yang awalnya datang karena terpaksa, kini nampak mulai menikmati suasana. Bahkan dia mulai berani mencoba meneguk minuman ber al-kohol seperti yang lainnya.
Sebenarnya kadar al-kohol di minuman itu tak begitu tinggi. Tapi bagi Hendra yang tak biasa sudah bisa membuat kepalanya keleyengan.
“Udah, stop!! Lo udah mabo’k.” Rian mengambil gelas dari tangan Hendra dan menjauhkannya.
Di antara ke enam orang itu, yang masih bisa di bilang sadar dan bisa di ajak komunikasi dengan benar hanya Rian dan Lia.
“Ck, payah.” Rian menggelengkan kepala melihat teman-temannya mabok berat.
Tak punya pilihan, Rian membagi tugas dengan Lia untuk mengantar teman-temannya. “Li, gak apa-apakan lo tolongin gua anterin Hendra balik. Rumah lo kan searah sama dia jadi lebih gampang. Lo bawa aja mobilnya balik ntar gua yang jelasin ke dia.” Lia tersenyum dan mengangguk.
Di bantu karyawan tempat itu, Rian dan Lia membawa teman mereka satu persatu ke dalam mobil Rian. Dan meninggalkan mobil temannya itu disana.
“Hati-hati.” Rian berpesan pada Lia yang mulai menjalankan mobil Hendra keluar area parkir.
Di perjalanan dengan sekuat tenaga Lia berusaha fokus. Walau sudah biasa minum, tapi tetap saja dia teler juga. Sesampainya di rumah Hendra, dengan susah payah Lia membawa pria itu masuk.
Brug…!!! Karena berat Lia menjatuhkan tubuh Hendra dengan sedikit kasar pada sofa ruang tengah.
Efek alkohol yang semakin kuat membuat Lia ikut merebahkan diri di sofa, rasanya dia tak sanggup kalau harus menyetir pulang.
Satu dua jam terlewati. Hendra dengan alkohol ternyata kombinasi yang sangat buruk. Pria itu tiba-tiba bangun dan meracau, menyadari ada orang selain dirinya pria itu tersenyum sumringah.
Mungkin efek al-kohol dan juga efek berjauhan dengan istri. Hendra mengira yang terbaring di sebelahnya ada Rahma. Spontan dia menerjang perempuan itu begitu saja.
Lia membuka matanya ketika merasakan ada sesuatu yang berat menimpa tubuhnya. Dia terkejut melihat Hendra yang sudah memeluknya erat dan berusaha menciumnya.
Tapi anehnya perempuan itu tak menolak dan malah menyambut ciuman Hendra. Hawa panas dan hawa naf’su bersatu membawa kedua anak manusia itu jatuh dalam lubang dosa.
Hingga dua bulan kemudian, Lia datang menemuinya dan mengatakan kalau dirinya hamil akibat perbuatan mereka malam itu.
Flashback off