Janda Dua Anak Di Pinang Bujang

Janda Dua Anak Di Pinang Bujang
Part 19


Hendra meletakan ponselnya di atas meja kaca di depannya setelah mengirim pesan pada Rahma bahwa dirinya tak bisa pulang hari ini. Demam Naira tak kunjung sembuh meski sudah sedikit menurun.


Takut terjadi apa-apa, rencananya dia akan membawa Naira kembali ke Dokter untuk di periksa. “Makan dulu mas. Sini biar gantian aku yang gendong.” Lia datang dan mengambil alih Naira dari dekapan Hendra.


Tanpa banyak bicara Hendra melangkah menuju meja makan dan melahap makan siangnya dengan tenang.


“Mas jadi pulang ke Jakarta?” Lia mendekat dengan Naira di gendongannya.


“Gak. Aku udah bilang sama Rahma kalau hari ini gak pulang karena Naira masih demam.”


“Mba Rahma sama anak-anak pasti kecewa mas. Maaf ya mas.” Ucap Lia dengan wajah menyesal.


“Kenapa minta maaf. Naira anakku juga, jadi sudah sewajarnya aku melakukan ini.” Ujar Hendra sedikit tak suka dengan kata-kata Lia.


“Iya mas.” Dengan senyum Lia mengangguk.


“Aku senang kamu berubah mas.” Dalam hati Lia bersyukur atas perubahan suaminya karena permasalahan ini. Jika biasanya Hendra lebih mementingkan Rahma dan kedua anaknya, kini pria itu lebih bisa bersikap adil.


Setelah menyelesaikan makan siangnya, Hendra kembali menggendong Naira dan membiarkan Lia untuk memakan makan siangnya.


**


Di sinari teriknya matahari, mobil yang di kendarai Hendra meluncur membelah jalanan kota. Hanya butuh waktu beberapa menit saja untuk mereka sampai di rumah sakit.


Setelah mobil terparkir, mereka turun lalu melangkah masuk. Lia menghampiri suster jaga sedangkan Hendra duduk di kursi tunggu dengan Naira. Bokongnya baru saja menyentuh kursi, tapi Naira sudah merengek. Mungkin bayi itu merasa tak nyaman karena ramai orang.


“Sstt… Naira, gak apa-apa nak.” Hendra menepuk bokong kecil Naira agat bayi itu tenang. Tak lama Lia datang dan mengelus punggung Naira lembut hingga bayi itu sedikit tenang.


“Duduk disana aja.” Hendra melangkah di ikuti Lia.


“Ibu Nita…” terdengar satu nama yang familiar di telinga Hendra hingga membuat dia menoleh.


“Mas…” panggilan Lia membuat Hendra yang belum sempat melihat jelas wanita itu mengalihkan pandangannya.


“Ha? Apa?”


“Kamu kenapa?”


“Gak apa-apa.”


\~*\~*\~*\~*\~


Ting…!! Denting suara lift yang terbuka membuyarkan lamunan Nita. Dengan cepat dia melangkah masuk dan berdiri di sisi pojok. “Nit…”


“Ha? Eh pak Rian, maaf pak.”


“Kenapa? Bukannya tadi izin sakit kok masuk lagi?” Melihat gelagat tak baik Rian inisiatif bertanya. Takut terjadi apa-apa.


“Eh… iya pak. Soalnya kerjaan masih banyak takut gak ke kejar buat hari senin nanti.” Jelasnya. Yang membuat Rian membulatkan mulut ber-oh tanpa suara.


“Hm?” Rian mengalihkan pandangan dari ponsel di tangannya.


“Saya boleh tanya?” Ragu Nita.


“Apa?”


“Em, pak Hendra disini tinggal sama keluarganya atau…”


“Kenapa? Bukannya kamu tau kalau keluarganya di Jakarta.” Heran Rian.


“Gak apa-apa sih pak cuma tanya aja, siapa tau sekarang sudah tinggal disini keluarganya.” Ringis Nita.


Rian hanya tersenyum tanpa bicara apapun lagi membuat Nita kembali terpikir siapa wanita yang bersama atasannya tadi. Atau jangan-jangan…


Flashback On :


Rumah Sakit Swasta…!!!


Jejeran kursi besi di lobi tampak penuh terisi oleh pasien dan anggota keluarga pasien yang menunggu giliran pemeriksaan.


Salah satunya adalah sepasang suami iatri yang memilih duduk di bagian ujung dan sedikit terhalang pilar. “Masih sakit?” Tanya si laki-laki.


“Masih. Tapi agak mendingan.”jawab si perempuan dengan suara lemah. Dia memejamkan mata seraya menyandarkan kepalanya pada pundak si lelaki.


Perempuan bernama Nita itu sedang menunggu antrian untuk di periksa. Penyakit maag-nya kambuh dan tak bisa di tahan saat makan siang di kantor tadi.


Dari arah pintu rumah sakit sepasang suami istri lainnya nampak melangkah masuk dengan seorang bayi yang berada di dekapan si lelaki. Si istri nampak menuju loket antrian sedangkan si laki-laki duduk di deretan kursi depan.


Suara tangis bayi membuat Nita membuka mata. Dia melirik ke arah depan. Seorang laki-laki tampak berusaha meredakan tangis si bayi dengan baju hangat di gendongannya itu. Tak lama seorang perempuan terlihat menghampiri dan mengelus punggung si bayi.


“Kasian…” gumam Nita merasa iba. Sedikit tenang, si laki-laki berbalik dan kembali duduk di ikuti si wanita.


Nita tiba-tiba menegakan kepalanya, mata wanita itu melotot setelah melihat dengan jelas laki-laki yang menggendong bayi tadi.


“Pak Hendra.” Gumamnya shock.


“Yank kamu kenapa?” Heran sang suami.


“Ha? Gak…” ringis Nita. “Gak apa-apa yank.”


Nita kembali menyandarkan kepalanya. Keningnya mengerut seolah sedang memikirkan hal rumit. “Tuh cewek siapa ya? Setau aku pak Hendra disini tinggal sendiri. Tapi… kayak pernah liat tuh cewek tapi dimana.”


Nita menggeleng pelan mencoba menghilangkan pikiran negatif di otaknya. Tapi pandangannya tak lepas dari sepasang manusia itu. Rasa penasarannya tak bisa di tahan.


Tak lama nama Nita di panggil suster jaga, membuat wanita harus rela meninggalkan dua orang yang membuatnya penasaran itu. Dan kala Nita melangkah menuju ruang Dokter, Hendra sempat melirik sejenak tapi kemudian teralihkan oleh panggilan Lia.


Flashback Off :