Janda Dua Anak Di Pinang Bujang

Janda Dua Anak Di Pinang Bujang
Part 14


Bandar udara… satu tempat yang bisa di bilang tidak pernah sepi. Ada yang datang dan ada juga yang pergi. Ketika langit biru perlahan berubah warna menjadi jingga, tiba waktunya Rahma dan kedua anaknya melepas kepergian Hendra.


Pemandangan Kiara dan Maura yang harus berpisah dengan ayah mereka menyentil hati Rahma. Kedua anaknya itu memeluk erat Hendra, mencium kedua pipinya serta berpesan agar sang ayah segera kembali pulang.


“Ayah hati-hati di jalan ya ayah, pulangnya jangan lama-lama…” ucap Maura.


“Iya ayah, semoga ayah selamat sampai tujuan.” Sambung Kiara. Keduanya sekali lagi memeluk sang ayah.


Dengan erat Hendra membalas pelukan sang anak. “Iya nak. Makasih ya. Kakak sama adek jangan nakal harus nurut sama bunda.”


“Iya ayah…” jawab keduanya kompak.


“Mas pergi dulu, nyetirnya hati-hati.” Hendra beralih pada sang istri.


Rahma mengangguk dan meraih tangan pria itu kemudian menciumnya. “Iya.” Jawabnya singkat.


Hendra membalikan badan dan perlahan melangkah menjauh meninggalkan anak dan istrinya. Sesekali pria itu melambaikan tangan sebagai salam perpisahan.


“Dadah ayahh…” Kiara dan Maura terus melambaikan tangan walau sang ayah sudah berjalan menjauh. Sebelum masuk kedalam area Bandara Hendra sekali lagi membalikan badan dan membalas lambaian tangan anak-anaknya.


Di saat-saat seperti ini, Rahma hanya bisa pasrah pada keadaan. Sakit hati terasa bertambah kala harus di hadapkan pada kenyataan kalau kepergian sang suami bukan sekedar karena pekerjaan.


Menghela nafas panjang berusaha mengurangi sesak dalam dada. Rahma menuntun kedua anaknya kembali masuk kedalam mobil dan meninggalkan pelataran Bandara.


Roda mobil yang terus berputar di jalanan beraspal akhirnya mengantarkan mereka tiba di rumah. Badan yang lelah membuat kedua anaknya langsung terlelap tak lama setelah selesai mandi.


Kini gantian Rahma yang membersihkan diri. Di bawah guyuran air shower dia berdiri, pikirannya kembali teringat momen antara suami dan kedua anaknya tadi.


Perpisahan tadi masih bisa di senyumi kedua putrinya karena tau sang ayah tak akan pergi lama dan akan kembali pulang. Tapi jika Rahma memilih perceraian, tentu perpisahan akan terasa jelas berbeda bagi keduanya. Entah berapa lama sekali mereka akan berjumpa sang ayah.


Air mata Rahma mengalir di sela-sela guyuran air, isakan lirih mulai terdengar dari mulutnya. Dalam kebingungan yang melanda, akhirnya Rahma memilih menekan ego yang ada.


Mencoba bertahan demi sang anak dengan memberi kesempatan pada suaminya. Tapi dalam hati tak ada niatan sedikitpun untuk membicarakan hal itu pada Hendra.


\~*\~*\~*\~*\~


“Bagaimana mas? Apa mba Rahma sudah mau memaafkanmu?” Lia mengubah posisinya menjadi berbaring menghadap Hendra.


“Belum.” Jawab Hendra seraya menghela nafas.


Lama keduanya terdiam, fokus dengan pikiran masing-masing. Memikirkan bagaimana cara agar masalah ini cepat mendapatkan penyelesaian. “Mas…”


“Sudahlah Lia, untuk saat ini biarkan semuanya berjalan dengan semestinya. Jangan terlalu memaksa, aku akan tetap berusaha dan berjuang sampai kapanpun.” Hendra memutuskan menyudahi percakapan itu.


“Aku tidur duluan.” Lanjutnya seraya membalikan badan memunggungi Lia.


Kedua alis Lia mengkerut heran, dia heran dengan sikap Hendra. Selama menikah baru kali ini suaminya itu tidur dengan membelakanginya. Tapi dirinya memilih diam dan turut memejamkan mata.


Merasa Lia sudah terlelap, Hendra beranjak turun dari ranjang dan melangkah keluar. Otak yang terus berpikir meski mata terpejam membuatnya lelah. Di bukanya pintu kamar sang anak, terlihat Naira yang tidur lelap di ranjang bayinya.


“Maafin ayah ya nak…” di belainya lembut pipi sang anak. Muncul perasaan bersalah melihat wajah polos Naira, karena harus sedikit mengabaikan anak bungsunya itu.


Fokus pikirannya tengah berada pada Rahma dan kedua anaknya yang lain, hingga dia tak bisa mengajak bermain atau berinteraksi dengan balitanya ini.


“Apa yang harus ayah lakukan Nai? Kalau ayah di haruskan memilih, mana yang seharusnya ayah pilih? Bunda Rahma atau mamah kamu Lia?” Curhat Hendra di tengah heningnya malam.


Dia tak tau harus bercerita pada siapa demi mendapatkan sedikit pencerahan atau bahkan mungkin nasihat tentang apa yang harus dia lakukan. Bercerita pada teman? Tidak mungkin, karena Hendra tidak menginginkan mereka tau tentang pernikahan keduanya. Pada orangtuanya? Juga tak mungkin. mereka pasti akan menjawab “keputusan apapun yang kamu ambil, selagi kamu bahagia bapak dan ibu pasti dukung.”


Cukup lama Hendra berdiam diri di kamar sang anak sebelum memutuskan kembali masuk kedalam kamarnya. Menaiki kasur dengan pelan agar tak menggangu Lia, dia pun kembali merebahkan tubuh dan mencoba memejamkan mata.


“Tidur satu kamar? Tidur satu ranjang?”


Matanya baru tertutup, tapi ucapan Rahma tiba-tiba saja terlintas dipikirannya. Bahkan mimik wajah dan nada suaranya pun jelas terbayang.


Hendra menoleh ke arah samping. “Maaf Lia.” Ucapnya pelan lalu berbalik memunggungi istrinya itu.