Janda Dua Anak Di Pinang Bujang

Janda Dua Anak Di Pinang Bujang
Part 23


Sudah beberapa hari ini awan hitam tampak menggelayuti langit ibukota. Membuat sebagian orang memilih berada di dalam rumah daripada beraktivitas diluar. Begitupun Rahma, cuaca sejuk memang lebih enak bergelung di bawah selimut. Tapi tidak mungkin, dia masih harus mengurus anak-anak dan mengantar mereka ke sekolah.


Tapi untunglah hari ini hari terakhir mereka ujian. Setelahnya bisa sedikit santai sampai menunggu pembagian rapot tiba. Rencananya setelah Kiara dan Maura pulang sekolah Rahma akan mengajak mereka mampir ke sebuah toko untuk mencicil oleh-oleh yang akan mereka bawa pulang kampung nanti.


“Jangan lupa Bissmilah… semoga ujiannya lancar.” Ujar Rahma yang di amini kedua anaknya.


Rahma memberhentikan mobilnya, seperti biasa dia segera keluar dan membantu kedua anaknya turun. “Do’ain kakak ya bunda.” Ucap Kiara seraya mencium tangan ibunya.


“Adek juga ya bunda, do’ain biar nilainya bagus.” Ucap Maura.


“Pasti sayang… pasti bunda do’ain kakak sama adek supaya ujiannya lancar, kakak sama adek bisa jawab semua soalnya dan dapet nilai bagus. Aamiin…” Dengan lembut Rahma mencium kepala Kiara dan Maura bergantian, kemudian anak-anak itu melangkah masuk ke gedung sekolah.


Baru saja Rahma menyalakan mesin mobilnya, rintik-rintik hujan turun membasahi bumi. “Hujan…!! Lebih baik menunggu disini saja kalau begitu.” Ucapnya dan kembali mematikan mesin mobil.


\~*\~*\~*\~*\~


Hendra berjalan dengan tegak menyusuri lorong kantor menuju ruangannya. Di depan sana sudah ada Nita yang datang lebih dulu. “Selamat pagi pak.” Ucap Nita sedikit menundukan kepalanya.


“Pagi. Lima menit lagi ke dalam ya Nit.” Ujar Hendra seraya masuk kedalam ruangannya. Nita pun mengangguk.


“Baik pak.”


Sambil menunggu, sekalian Nita mempersiapkan semua berkas yang harus di periksa atasannya itu. Setelahnya dia mengambil satu buku kecil di sudut meja.


Tok…tok…


“Pak…” Nita melangkah masuk setelah mengetuk pintu.


“Banyak Nit?” Tanya Hendra dengan pandangan mengarah pada berkas di tangan Nita.


“Lumayan pak.” Nita meletakan berkas yang di bawanya di depan Hendra. Lantas setelah itu dia membuka buku kecil yang di bawanya.


“Jam 10 nanti bapak ada rapat sama pak Rudi dan pak Aris di lantai atas pak.” Ujar Nita.


“Oh iya, nanti tolong print berkas ya Nit. Nanti saya kirim ke email kamu.”


“Baik pak.”


“Itu aja gak ada yang lain?”


“Untuk hari ini itu saja pak.”


“Ok. Oh iya, rencananya minggu depan saya mau ambil cuti sehari atau dua hari, nanti tolong di urus ya Nit.”


“Baik pak.” Nita langsung mencatat semuanya dalam catatan kecil yang di bawa tadi.


“Itu saja. Kamu boleh keluar.”


“Baik pak. Saya permisi.” Nita pun berlalu keluar.


“Cuti…?? Kemana?” Batin Nita bertanya. Sejak tak sengaja melihat Hendra dengan seorang wanita dan bayi di gendongannya waktu itu, rasa penasaran bercampur curiga masih bersarang di benaknya hingga kini. Membuatnya kadang terlalu ambil pusing dengan kehidupan pribadi sang atasan.


“Astagfirullah… sadar Nit… kenapa juga harus kamu pikirin dia mau kemana. Ya Allah maaf… maaf pak. Kenapa aku jadi suka ngurusin hidup gini sih…” ocehnya pelan pada diri sendiri dengan sesekali kepalan tangannya mendarat di kening.


Nging…!!! “Ashh….” Ringis Hendra saat tiba-tiba saja telinganya berdenging kencang.


“Ada yang ngomongin atau apa nih.” Ujar Hendra seraya menggosok telinga bagian kanan yang berdenging tadi. Setelah reda, Hendra pun kembali fokus bekerja.


Tok.. tok..


Nita muncul dari balik pintu dengan satu map di tangannya. “Maaf pak. Ini berkas yang tadi bapak kirim sudah saya cetak.”


“Ok. Makasih Nit. Oh iya.. nanti ingatin saya lagi soal rapat sama pak Rudi.” Pinta Hendra sebelum Nita kembali pergi.


“Baik pak.”


Waktu terus begulir. Detik jadi menit dan menit menjadi jam. Tak terasa waktu berlalu, kini matahari sudah pas berada di atas kepala. Waktunya untuk para karyawan keluar kandang dan mengisi ulang persediaan.


Begitupun Hendra. Pria itu memilih berjalan keluar kantor menuju salah satu rumah makan langganannya daripada makan di kantin seperti yang lain. “Mba… biasa ya.” Ucapnya seraya berjalan menuju kursi paling sisi.


Sementara si penjual yang sudah akrab dengan Hendra dan mengerti apa pesanan pria itu segera menyiapkannya. “Silahkan mas.” Tak sampai menunggu lama pesanan pun tersaji.


“Makasih mba.”


“Sama-sama.”


Hendra pun mulai menyendok sesuap demi sesuap hingga tak ada sebutir nasi pun tersisa. Di raihnya gelas berisi es jeruk di depannya lalu di sedot nikmat. “Alhamdulillah…” ucapnya dengan di iringi sendawa kecil.


Drt…drt… ponsel di kantong celana terasa bergetar. Dengan cepat Hendra meletakan gelasnya dan mengangkat telpon masuk itu.


“Hallo… Assalamualaikum.”


“Waalaikumsalam…”


Sudut bibir Hendra tertarik dan menghasilkan senyum. Terdengar suara Rahma dan kedua anaknya di sebrang sana. “Lagi pada ngapain ini? Suara berisik.” Tanyanya.


“Lagi makan di luar ayah… ayah udah makan belum?” Suara Maura terdengar lantang menjawab dan kembali bertanya.


“Sudah dek. Baru selesai makan. Adek makan apa?”


Di sebrang sana lagi-lagi Maura dengan lantang menjawab pertanyaan sang ayah. Dengan senang hati Hendra menghabiskan jam istirahat siangnya dengan bertukar cerita bersama keluarga. Terutama kedua anaknya.


Hingga tak terasa jam masuk kantor telah tiba. “Sudah dulu ya nak, ayah harus kerja lagi.” Ucap Hendra.


“Iya ayah…”


“Eh mas tunggu…” cegah Rahma saat Hendra hendak menutup panggilan itu.


“Iya Ra.. ada apa?”


“Aku mau minta tolong beliin sesuatu buat di bawa pulang nanti. Gak banyak kok.” Jelasnya.


“Ok, kamu WA mas apa aja yang mau di beli ya…”


“Ok, makasih ya mas.” Setelahnya sambungan telpon pun terputus.