Janda Dua Anak Di Pinang Bujang

Janda Dua Anak Di Pinang Bujang
Part 08


PENGKHIANATAN!! Satu kata yang paling Rahma benci. Dalam hal apapun, apalagi dalam ikatan suci pernikahan.


Untuk sekedar memaafkan kesalahan Hendra mungkin Rahma masih bisa melakukannya walau butuh waktu, tapi untuk melupakan? rasa-rasanya dia takan mampu.


Seminggu telah berlalu sejak kepulangan Hendra ke Jakarta waktu itu. Dan dalam waktu sepekan itu, setiap malam Rahma selalu merenung dan berpikir keputusan apa yang akan di ambil untuk nasib pernikahan mereka.


Langit kelabu tanpa bintang menjadi pemandangan malamnya kali ini, duduk termenung di balkon kamar seorang diri dengan secangkir kopi yang belakangan menjadi minuman favoritnya.


Ingin rasanya berbagi cerita dan bertukar pikiran agar mendapat masukan, tapi dia enyahkan. Waktunya belum tepat. Pikir Rahma.


Suara getar ponsel di atas meja kecil di depannya tak ia hiraukan. Terpampang nama sang suami- Hendra di layar. Sudah seharian ini Rahma sengaja menghindar dengan tak mengangkat atau membaca pesan dari pria itu.


Dari awal dia mengetahui perbuatan curang Hendra, sebenarnya Rahma sudah mengambil satu keputusan yaitu PERCERAIAN.


Tapi itu bukan perkara mudah, banyak hal yang harus dia pertimbangkan. Terutama tentang dampak buruk yang akan di terima kedua anaknya.


Jauh beberapa kilometer dari Jakarta, Hendra menggeram kesal karena sudah seharian ini panggilan telpon dan pesan-pesannya tak ada satu pun yang di jawab.


Dengan sedikit keras dia meletakan ponselnya ke atas meja. “Arrgghh..!!!” Tangannya terkepal memukul angin.


Ceklek..!! Pintu ruang kerjanya terbuka membuat Hendra menolehkan kepalanya. Terlihat Lia yang masuk membawa nampan berisi teh.


“Mba Rahma masih belum mau angkat telponnya?”


Setelah meletakan secangkir teh hangat di depan Hendra, Lia lantas duduk di kursi yang ada di sebrang meja.


Hendra menggeleng. “Belum.”


“Apa… boleh kalau aku saja yang coba hubungi mba Rahma?”


Mendengar itu, Hendra yang niatnya akan meminum teh sontak meletakannya kembali dan memandang tajam Lia. “JANGAN!!” Tegasnya. Membuat Lia sedikit tersentak.


“Jangan pernah coba-coba untuk menghubungi Rahma.” Lanjutnya.


Bentakan dan tatapan tajam Hendra membuat Lia terkejut. Lia menundukan kepalanya untuk menghindari bertatapan mata dengan suaminya.


Selama mereka menikah baru kali ini Lia mendapat perlakuan tak mengenakan seperti ini. Bahkan ketika dia mengatakan tentang kehamilannya dulu, Hendra hanya bicara seperlunya tanpa meninggikan suara di iringi tatapan tajam seperti tadi.


“Maaf.”


Melihat Lia yang terdiam sambil menunduk membuat Hendra merasa bersalah.


”iya, gak apa-apa mas.”


Hendra menghela nafas dan mengangguk. “Tapi, kamu harus ingat ucapanku tadi Lia. Jangan sampai melanggarnya.”


“Biarkan aku saja yang menyelesaikan masalah ini. Kamu jangan ikut campur.”


Lia mengangguk patuh. “Iya mas. Lia paham.”


“Masih ada yang mau kamu katakan?” Tanya Hendra.


Pasalnya, ekspresi wajah Lia seolah mengatakan kalau wanita itu ingin mengatakan sesuatu tapi ragu.


“Eum…” Lia bergumam sambil menggaruk alisnya, sekelibat dia melirik Hendra. Memastikan bahwa suaminya itu tidak akan kembali emosi jika mendengar perkataannya.


“Maaf mas. Apa gak sebaiknya kamu memberikan waktu pada mba Rahma.”


Hendra menatap Lia seraya mengerutkan kedua alis matanya seolah bertanya apa maksud perkatan Lia.


“Maksudku. Lebih baik mas jangan menghubungi mba Rahma dulu untuk beberapa hari. Dan kalau ingin mengobrol dengan anak-anak mas bisa menelpon lewat telpon rumah.” Ucapnya menjelaskan.


“Aku tak bermaksud apa-apa. Hanya berpikir mungkin mba Rahma perlu banyak waktu untuk menghadapi semuanya.” Tak ingin di tuduh macam-macam Lia kembali menjelaskan.


Akhirnya Hendra pun mengangguk setuju. “Mungkin Lia benar, aku harus memberi lebih banyak waktu pada Rahma. Semoga saja dengan begitu hubunganku dan Rahma bisa kembali membaik.” Pikirnya.


“Maafkan aku mas, mba… karena egoku kalian harus merasakan sakit.” Lia menatap sendu Hendra.


Sejujurnya Lia sangat ingin menyuarakan kejujuran da mengucapkan kata maaf pada Hendra dan Rahma. Walaupun dia tau, sejuta kata maaf yang keluar dari mulutnya tak akan bisa membalikan keadaan seperti sedia kala.


Ketertarikan Lia sejak pertama bertemu Hendra lambat laun justru berubah menjadi rasa cinta. Dia sudah menahan dan berusaha membuang perasaan terlarang itu. Tapi apa daya, justru rasa itu tumbuh subur tanpa bisa dia cegah.


Adanya kesempatan membuat Lia bertindak nekat. Keadaan Hendra yang dalam pengaruh al-kohol dengan licik dia manfaatkan.


Dia tak memperdulikan akibat dari perbuatannya yang kini justru membawa luka bagi semua orang.


“Maaf.” Lagi. Lia hanya bisa mengucapkan dalam hati. Keberaniannya belum cukup untuk mengakui segala perbuatannya.


Dirinya takut akan akibat yang harus dia dan anaknya tanggung jika Hendra sampai mengetahui kalau masalah ini terjadi karena ulahnya.


Dia pasti mengakuinya, tapi mungkin nanti. Dan tidak untuk sekarang.