
Akhirnya hari yang di nantikan kedua anaknya tiba. Tapi tidak dengan Rahma. Wajah sedih kedua anaknya bila tau kalau sang ayah tak pulang tak ingin Rahma saksikan.
Sore hari ini harusnya Hendra pulang seperti biasa, tapi siang ini Rahma mendapat pesan kalau pria itu mengundurnya seperti perkataannya hari kemarin. “HUH….” Rahma menghela nafas kasar. Dadanya tiba-tiba terasa sesak dan matanya mulai memanas.
“Ih,, kenapa jadi cengeng gini sih.” Gerutunya seraya mengusap kedua matanya.
Secepat kilat Rahma mengubah wajah sedihnya dengan senyuman lebar. Dia keluar dari mobil ketika matanya melihat Kiara dan Maura berjalan ke arahnya. “Assalamualaikum…”
“Waalaikumsalam…bunda.” kiara dan Maura bergantian mencium tangan Rahma.
“Gimana sekolahnya? Seru? Is everything ok?”
“Yes, everything is fine bunda.” Jawab keduanya.
“Tadi adek dapet coklat loh bunda.” Lanjut Maura.
“Oh ya dari siapa dek.”
“Dari Darel, terus adek bilang nanti adek juga bakal kasih Darel coklat kalau ayah pulang.” Cerita Maura senang.
“Wah, baik banget Darel. Iya nanti kalau ayah pulang ya. Ayo.. ayo naik panas.” Rahma hanya bisa mengiyakan dan enggan membahas lebih jauh.
“Kita makan di luar ya, kakak sama adek mau makan apa?” Tanya Rahma ketika mereka sudah masuk ke dalam mobil.
Perdebatan kecil di antara kedua anaknya membuat Rahma memilih memacu mobilnya seraya menunggu keputusan apa yang akan mereka ambil.
Beberapa menit kemudian keduanya sepakat untuk makan siang di restoran Jepang dan membeli pizza untuk di bawa pulang. “Ok.” Jawab Rahma singkat, padat dan jelas.
Dalam diamnya Rahma tengah merancang rencana untuk membawa Kiara dan Maura bermain sepuasnya setelah makan nanti. Sukur-sukur mereka bisa lupa kalau hari ini ayahnya pulang.
“Ayok nak.” Setelah mobilnya terparkir dengan benar mereka pun keluar. Berjalan bergandengan menuju restoran yang biasa mereka kunjungi.
Puas menikmati makanan yang membuat perut kenyang. Rahma lanjut mengajak keduanya masuk ke sebuah toko mainan dan membiarkan mereka memilih satu mainan yang mereka mau. Setelahnya ibu dan anak itu terlihat keluar toko dan menuju tempat bermain di lantai atas mall.
Sengaja Rahma isi banyak saldo kartu permainan untuk mengalihkan perhatian mereka. Dengan sabar ibu dua anak itu menunggu kedua putrinya bermain.
Entah sudah berapa lama Rahma menunggu. Pantat dan pinggangnya sudah terasa panas dan pegal akibat duduk terlalu lama. Melirik jam di tangan kirinya, Rahma bergumam. “Jam 5. Apa pulang saja?”
Berjalan menghampiri sang putri dengan kedua tangan penuh tentengan. Rahma memutuskan mengajak keduanya pulang, setidaknya walaupun kedua anaknya itu kecewa paling tidak Rahma hanya melihatnya dalam waktu singkat. Karena kelelahan mereka pasti akan tidur lebih cepat. Urusan besok nanti saja di pikirkan.
Tak lupa sebelum pulang mereka mampir membeli pizza dan burger pesanan bi Nah yang pasti sudah menunggu di rumah. Rahma juga membeli beberapa lauk untuk makan malam.
**
“Eh adek lupa loh bunda.” Celetuk Maura membuat Rahma mengerutkan kening.
“Lupa apa dek?”
“Lupa, kalau hari ini ayah pulang.” Rahma menghela nafas lelah. Baru saja mobilnya terparkir di garasi rumah Maura sudah mengingat ayahnya.
“Oh iya. Kakak juga lupa.” Ucap Kiara dramatis dengan menepuk jidatnya.
Rahma membenturkan kepalanya pada sandaran mobil dan mengerang kesal. “Argghh…!!”
Tak lama bi Nah tampak keluar dari rumah dan menghampiri Rahma. “Ada yang mau di bantu bu.”
“Tolong bantu bawa itu bi.” Tunjuk Rahma pada beberapa plastik dalam bagasi mobil.
Keduanya lantas masuk ke dalam rumah setelah memastikan semua barang tak ada yanb tertinggal di mobil. “Bunda…”
Suara Kiara dan Maura langsung menyapa telinga Rahma.
“Kok ayah gak ada bun, kita cari ke kamar juga gak ada.” Lanjut Kiara.
Bi Nah melirik Rahma sejenak dan memutuskan meninggalkan mereka bertiga. “Saya bawa ke dapur ya bu.” Ucapnya yang di angguki Rahma.
“Kita telpon ayah ya. Kakak sama adek tanya langsung sama ayah.”
Ketiganya lantas duduk bersisian di atas sofa ruang tengah. “Hallo, Assalamualaikum…”
Tanpa perlu menunggu lama Hendra langsung mengangkat telponnya. Rahma memberikan ponselnya pada Kiara dan Maura setelah mengaktifkan loudspeaker terlebih dulu.
“Waalaikumsalam ayah.”
“Eh kakak sama adek. Ada apa nak?”
“Ayah dimana? Ayah kok gak ada di rumah?” Tanya Maura.
Sejenak tak ada jawaban dari Hendra. Mungkin pria itu sedang berpikir alasan apa yang akan dia berikan. “Eum,, iya nak. Maaf ya kakak, adek. Minggu ini ayah gak bisa pulang. Soalnya pekerjaan ayah lagi banyakkk banget.”
“Terus kapan ayah pulang?” Kini giliran Kiara.
“Minggu depan ya. Minggu depan ayah pulang. Kakak sama adek mau di bawain apa?”
Eunghh… ehek…
Ketika kedua anak itu akan menjawab terdengar suara bayi yang merengek.
“Hm…!!!” Kiara dan Maura saling pandang sementara Rahma mengusap wajahnya kasar.
“Itu suara bayi ya ayah?” Kiara bertanya.
“Eemm… i- iya kak. Itu… itu suara bayi dari tv. Ayah lagi nonton tv sambil makan biar ada temannya nam.” Gagap Hendra.
“Ooohhh…!!!” Kiara ber oh panjang.
“Udah dulu ya, ayah mau makan. Besok ayah telpon lagi ya. Asslamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”