
Di keheningan malam yang bisa Rahma lakukan hanyalah menumpahkan kesedihan dan rasa sakit hatinya pada sang Pencipta. Dalam sujud dia meminta ampun atas segala dosa dan kesalahan yang dia perbuat.
Tak pernah sedikitpun terbayang dalam fikirannya, jika dia akan menjalani takdir yang menyakitkan.
Tak pernah sedikitpun terlintas dalam ingatannya, jika dia harus merasakan sakit akibat sebuah pengkhianatan.
“Hiks…hiks…” Di antara sunyinya malam, tangis Rahma terdengar pilu dan menyayat hati.
“Ya Allah… hamba mohon berikanlah hamba kekuatan, kesabaran serta ketabahan agar hamba bisa melalui ujian-Mu dengan baik. Aamiin…”
Setelah membereskan perlengkapan shalat, Rahma membaringkan tubuhnya di atas ranjang dan mencoba memejamkan mata. Masih ada beberapa jam lagi sebelum waktu subuh tiba.
Harusnya dalam keadaan lelah karena perjalan pulang pergi dari luar kota membuatnya mudah terlelap. Tapi nyatanya tidak. Ya, memang dia memutuskan langsung kembali ke Jakarta begitu meninggalkan rumah itu.
Beberapa menit mencoba, bukan rasa kantuk yang menyapa tapi kejadian menyakitkan yang justru terbayang di pelupuk mata.
Menyerah, akhirnya Rahma memilih turun dari ranjang dan melangkahkan kakinya menuju balkon. Menikmati langit malam seraya menenangkan hati dan pikiran dengan mengingat sang pencipta kiranya lebih baik.
\~*\~*\~*\~*\~
Keadaan Hendra dan juga Lia pun tak jauh beda dengan Rahma. Malam yang semakin larut tak lantas membuat keduanya memejamkan mata dengan mudah.
Di atas tempat tidur, Hendra dan Lia berbaring terlentang bersisian dengan mata menatap langit-langit kamar. Tak ada obrolan apapun, mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Sejak kepergian Rahma, Hendra menjadi pendiam. Dia tidak akan bicara kalau tidak di tanya, dan cenderung menghindari Lia.
Dengan pelan Lia menoleh ke arah Hendra, tampak tak ada yang berubah dari posisi lelaki itu sejak awal. Berbaring terlentang dengan kedua tangan yang menangkup di atas dada.
“Mas.” Lia mencoba memulai pembicaraan.
“Hm.” Hanya gumamam yang terdengar.
“Tidurlah, sudah larut.”
“Hm.”
Tak ada jawaban, Hendra langsung menutup matanya. Melihat itu Lia pun turut memejamkan matanya.
Hendra kembali membuka matanya setelah di rasa Lia sudah terlelap. Bagaimanapun dia berusaha, tetap saja dia tak bisa terlelap dengan mudah.
Rasa terkejut saat melihat Rahma di depan pintu siang tadi masih jelas dia rasakan. Dia tak pernah membayangkan akan ada dalam situasi rumit seperti ini.
Tak ingat pukul berapa dia terlelap hingga sayup suara kumandang adzan subuh membangunkan Hendra. Dengan mata merah karena mengantuk dia bangun dari tidurnya.
Tapi karena jam tidur yang kurang, membuat kepalanya terasa pusing. Dengan langkah gontai dan satu tangannya memegangi kepala dia berjalan menuju kamar mandi.
Suara gemericik air membuat Lia akhirnya ikut terbangun. Wanita itu perlahan membuka mata sambil sesekali menguap. Setelah sepenuhnya sadar dia turun dari ranjang dan langsung menyiapkan baju dan keperluan Hendra.
Pintu kamar mandi terbuka tepat ketika Lia selesai menyiapkan semuanya. Hendra berjalan keluar dan langsung memakai baju yang telah Lia siapkan.
Setelah selesai shalat, keduanya kini sudah berada di meja makan. Awalnya Hendra menolak sarapan, tapi dengan sedikit pakasaan akhirnya dia mau juga sarapan walau hanya sehelai roti tawar.
Hanya dengan dua gigitan sehelai roti di tangan Hendra beralih masuk ke dalam perutnya. Setelahnya dia berdiri dan langsung melangkah pergi bahkan tanpa meminum air sama sekali.
“Biar aku yang bawa.” Lia turut beranjak dari kursinya dan merebut kunci mobil yang baru saja Hendra ambil dari atas buffet.
Tanpa mendebat sama sekali, Hendra membiarkan Lia mengambilnya dan melangkah keluar rumah.
Suasana hening menyelimuti perjalanan mereka menuju Bandara. Hari yang masih pagi bahkan sinar matahari pun belum menampakan diri membuat laju mobil yang di kendarai Lia mulus tanpa halangan dan tiba lebih awal di tempat tujuan.
“Aku pergi.”
Lia mengangguk dan mencium tangan suaminya sebelum pria itu turun. “Iya. Hati-hati mas.” Ucapnya.
Melihat suaminya melenggang memasuki Bandara, Lia menghela nafas kasar. Dirinya juga ikut khawatir dan coba memikirkan bagaimana caranya agar masalah ini selesai dengan cara baik-baik.
“Semoga saja mba Rahma bisa memaafkan kita. Dan mau menerima ini semua.” Harapnya.