Janda Dua Anak Di Pinang Bujang

Janda Dua Anak Di Pinang Bujang
Part 25


Cahaya bulan dan bintang yang menghiasi langit malam, kini telah berganti dengan cahaya hangat mentari pagi. Kicau burung kecil yang bertengger di pohon belakang rumah menambah riuh suasana.


Karena tidak bisa tidur dengan lelap, Rahma bangun dengan wajah yang terlihat pucat. Badannya lemas dan kepalanya pusing.


“Bi…” panggilnya seraya menempelkan bokongnya pada sofa.


“Iya bu. Ibu gak enak badan?” Melihat Rahma yang pucat dan suara sesikit serak membuat bi Nag bertanya.


“Iya, kepala saya pusing bi. Mungkin kecapekan.” Jawab Rahma yang lantas meminta tolong bi Nah membeli sarapan untuk mereka semua.


**


Setelah sarapan dan minum obat, pusing di kepalanya sedikit mereda. Rahma kembali melanjutkan aktivitas memisahkan oleh-oleh yang belum selesai semalam.


Di bantu Kiara dan Maura serta bi Nah, tak butuh waktu lama akhirnya kegiatan itu pun selesai. “Alhamdulillah selesai juga. Makasih ya kakak, adek, bi Nah. Tinggal packing baju.” Ujar Rahma.


“Bibi gak packing juga, sini kita bantuin.” Lanjut Rahma.


“Gak usah bu, punya bibi kan sedikit. Besok lagi saja kan masih ada waktu.”


“Hm, ya udah deh.”


\~*\~*\~*\~*\~


Tok.. tok..


Nita masuk ke ruangan Hendra setelah mengetuk pintu. “Permisi pak, saya pamit makan siang dulu.” Ucapnya yang membuat Hendra mendongakan kepala.


“Bisa tolong pesankan saya makan siang dulu Nit.” Jawabnya.


“Boleh, bapak mau makan apa?”


“Pesan apa saja dari kantin Nit.”


“Ok pak.” Nita berlalu.


Sambil menunggu, Hendra kembali menekuri berkas di hadapannya. Dia sedang kebut-kebutan agar pekerjaannya selesai sesuai waktu yang di rencanakan dan dia bisa tenang dalam mengambil izin kerja.


**


Berjam-jam duduk di menatap layar komputer membuat mata Hendra terasa perih. Di lirik jam yang melingkar di tangan. Sudah pukul tujuh malam, pantas saja perutnya terasa perih.


Dengan cepat Hendra menyelesaikan satu berkas yang tertinggal. Kemudian berkemas pulang.


Tuk.. tuk..


Suara tapal sepatu yang beradu dengan lantai terdengar memecah kesunyian. Lampu-lampu di setiap ruangan sudah di matikan dan hanya menyisakan lampu di lorong yang tengah di lewati Hendra.


“Malam pak.” Seorang security kantor yang berjaga di lobi menyapa.


“Malam. Duluan pak.” Jawab Hendra.


\~*\~*\~*\~*\~


Bau masakan tercium memenuhi ruang makan, asisten rumah tangga Lia baru saja selesai memanaskan makanan. “Sudah semua bi?” Lia datang dari arah depan bersama Naira di gendongannya.


“Sudah bu.” Lia mengangguk dan sang asisten rumah tangga itu pun kembali ke dapur.


Beberapa menit kemudian terdengar suara mobil berhenti di depan rumah, tak lama Hendra masuk setelah mengucap salam.


“Mau langsung makan mas?” Tanya Lia seraya mencium tangan suaminya.


“Iya.” Jawab Hendra singkat.


**


Waktu sudah menunjukan pukul sembilan malam. Hendra terlihat melangkah keluar dari ruang kerjanya, dia baru saja selesai menghubungi Rahma dan kedua anaknya.


Dengan langkah gontai dia menapaki anak tangga menuju kamarnya di lantai atas. Ketika Hendra membuka pintu, terlihat Lia yang duduk di lantai sedang mengemas pakaiannya ke dalam koper kecil.


“Masih ada yang mau di bawa mas?” Tanya Lia.


“Gak ada. Oh iya, ingatin aku besok mau beli titipan Rahma.”


“Iya mas.” Setelah selesai, Lia beranjak dan menghampiri Hendra yang duduk di sisi ranjang.


“Mas…”


“Ya… kenapa?”


Lia sejenak terdiam, menimbang apa yang akan di katakannya. “Mas… apa mba Rahma benar-benar sudah menerima keberadaanku dan Naira?”


Hendra menatap lekat Lia. Entah kenapa tiba-tiba Lia berbicara tentang itu. “Kenapa? Apa ada masalah?”


“Tidak. Aku hanya ingin kepastian. Kalau mba Rahma sudah menerima.. apa mas tidak ada rencana akan mengesahkan pernikahan kita? Aku juga ingin Naira mendapat status yang jelas.” Jelasnya.


“Kamu tau apa resikonya? Apakah kamu siap menanggung segala konsekwensinya?” Hendra bertanya balik.


Lia jelas tau apa yang akan dia hadapi jika status pernikahan mereka terungkap. Dan jelas bukan dampak baik yang akan mereka terima.


“Jika kamu siap maka aku akan cari waktu yang tepat untuk berbicara dengan Rahma.” Hendra tak bisa bertindak egois. Dia sadar Naira juga butuh nama ayah yang tercantum dalam akta lahirnya.


Lia terdiam. Otak dan hatinya tak sejalan. Ada rasa takut dalam dirinya. “Siap!! Aku siap.” Tapi semua akan dia lakukan demi kebaikan Naira dan tentu juga dirinya.


\~*\~*\~*\~*\~


Rahma termenung menatap pantulan dirinya di cermin. Beberapa menit yang lalu, Hendra baru saja menelpon. Seperti biasa, pria itu akan bercerita sambari bertanya kabar.


Rahma yang dalam keadaan gundah, membiarkan kedua anaknya yang lebih banyak berbicara. Dalam hati sebenarnya dia ingin menanyakan tentang hal di sembunyikan suaminya itu. Tapi kondisi yang kurang tepat membuat dia urung dan memilih menunggu hingga pria itu pulang.


Dan sekarang, dia tengah mempersiapkan diri untuk segala kemungkinan yang terjadi.