
Di dalam kamar, Rahma termenung memandangi ponsel di tangannya. Sebelumnya dia mendapat notifikasi tentang sejumlah uang yang masuk ke rekeningnya. Setelah di cek ternyata dari Hendra.
Yang membuatnya termenung adalah nominal yang tertera. “Uang yang masuk masih sama seperti sebelumnya? Aneh… bukannya gajih mas Hendra harusnya dibagi dua. Tidak mungkin mas Hendra tidak menafkahi perempuan itu dan anaknya kan?” Pikir Rahma heran.
Takut Hendra salah kirim dia menelpon suaminya itu. “Hallo, Assalamualaikum.” Dering pertama sambungan langsung terangkat.
“Waalaikumsalam Ra. Ada apa?”
“Mas, makasih uangnya udah masuk. Tapi apa mas gak salah?” Tanyanya langsung.
“Salah? Maksudnya salah gimana?” Hendra terdengar bingung. Rahma pun menjelaskan semuanya.
“Ehem!!” Terdengar pria itu berdehem. Nada suaranya pun jadi terdengar gugup. “Oh itu… iya mungkin mas salah. Tapi gak apa-apa. Mas masih ada pegangan kok.”
“Yakin?”
“Yakin!!” Tegas Hendra yang di iyakan Rahma. Setelah berbasa basi sebentar Rahma menutup telponnya. Dalam hati dia tetap merasa aneh.
“Tapi… berarti selama setahun ini dia hidupi pakai uang darimana perempuan itu?” Semakin penasaran Rahma di buatnya.
\~*\~*\~*\~*\~
Langit sore nampak cerah tanpa sedikitpun awan menghalangi. Angin yang berhembus sesekali menggoyangkan dedaunan dengan lembut. Di halaman rumah bu Imas sekumpulan bocah terlihat bermain berkelompok dengan permainan yang berbeda antara laki-laki dan perempuan.
“Arek ulin naon?” Tanya salah seorang anak laki-laki berusia 7tahun bernama Rudi.
(Mau main apa)
“Kaleci weh hayu.” Jawab Rizal yang di angguki anak lainnya.
(Main kelereng saja)
“Gempar hayuk?” Anak perempuan paling besar berinisiatif. “Hayuk…”
Sementara di bawah pohon jambu air, terlihat kumpulan ibu-ibu dari yang muda hingga lanjut usia.
“Geus apal beja anak si Etin? Geus reuneh tiheula eta budak teh.” Di setiap kumpulan para emak-emak pasti selalu terselip salah satu orang julid bin nyinyir di antaranya. Salah satunya ya wanita yang bernama Cucu ini…
(sudah tau kabar anak si Etin? Anak itu sudah hamil duluan)
“Ah maeunya, nyaho timana maneh?” Umpan yang Cucu tebarkan mulai menjerat mangsa.
(Masa sih, tau darimana kamu)
“Yeh, dumuk urang nempo sorangan. Budakna kaluar ti panto dapur rek miceun runtah, kateumpo beuteungna ges gede.” Mulutnya terlihat lancip dan mahir sekali membicarakan aib orang lain.
(Aku lihat sendiri. Anak itu keluar dari pintu dapur mau buang sampah, kelihatan perutnya sudah besar)
“Oohh… kitu. Pantes buru-buru dikawinkeun padahal leutik keneh.” Ceu Iroh menjawab.
(begitu… pantas cepat-cepat di nikahkan padahal masih kecil)
“Cu… Iroh… ulah sok kos kitu, pamali.” Tegur bu Imas halus sambil teraenyum. “Tipayun ah, bade ashar heula.” Lanjutnya. Memilih berlalu daripada nanti ikut terpancing membicarakan aib tetangganya.
(cu, Iroh jangan begitu, pamali)
(saya duluan, mau shalat ashar dulu)
“Mih…” dari palang pintu kamar kepala Riri menyembul.
“Ri… tos ashar?”
(ri, sudah shalat ashar)
(iya, baru selesai)
“Nya ntos atuh mih rek ka cai heula.” Ucap bu Imas seraya melangkah ke belekang rumah.
(Ya sudah mih juga ke kamar mandi dulu)
“Tadi si eteh telpon mih. Tos kirim ceunah.” Ucapan Riri membuat bu Imas berhenti dan membalikan badan.
(tadi kakak telpon mih, katanya sudah transfer/kirim uang)
“Oh enya, Alhamdulillah. Ke mih telpon.” Riri mengangguk.
”iya, alhamdulillah. Nanti mih telpon)
Menghela nafas, bu Imas kembali melangkah. Entah kenapa beberapa waktu belakangan ini hatinya kadang dilanda rasa cemas yang dia sendiri tak tau pasti apa alasannya.
\~*\~*\~*\~*\~
Hari-hari berlalu begitu cepat, tanpa terasa akhir pekan sudah kembali tiba. Tak ada kegiatan apapun yang dilakukan Rahma dan keluarga kecilnya dalam kepulangan Hendra kali ini. Bahkan untuk sekedar mengunjungi rumah mertua seperti biasa atau makan diluar sekalipun.
Hendra pulang dalam keadaan tidak sehat. Badannya panas dan semenjak menginjakan kakinya dirumah, pria itu mengeluh pusing. Hingga pagi ini keadaanya masih lemas.
“Makan dulu mas.” Rahma meletakan nampan berisi sarapan diatas nakas dan membantu Hendra untuk duduk bersandar di ranjang. Dengan telaten Rahma menyuapi suaminya hingga makanan dalam piring habis. “Minumnya…” Rahma menyodorkan gelas berisi air putih pada Hendra.
“Ayah… bunda…” pintu kamar sedikit terbuka dan munculah dua kepala kecil berambut singa.
Rahma dan Hendra tertawa kecil melihat rambut mengembang Kiara dan Maura di tambah muka bangun tidur mereka. “Masuk nak…” Rahma melambai, menyuruh mereka masuk.
“Ayah masih sakit?” Tanya Kiara setelah menaiki ranjang dan duduk di sebelah Hendra.
“Iya kak, badan ayah masih panas.” Hendra meraih tangan Kiara dan menempelkan tangan itu pada dahi yang terasa panas.
“Iya panas.”
“Ya sudah, bunda mau taro piring kotor dulu.” Rahma berlalu meninggalkan ketiganya.
Tepat ketika pintu kamar tertutup, terdengar bunyi ponsel yang menandakan panggilan masuk. “Tolong ambilin HP ayah kak, di tas.” Hendra menunjuk tas warna hitam di atas sofa.
Kiara dengan cepat beranjak turun dan mengambil ponsel sang ayah. “Ini ayah.” Ucapnya seraya mengulurkan ponsel.
Bukannya menjawab, Hendra malah mematikan panggilan itu. “Kok gak di angkat ayah?” Tanya Kiara.
“Gak apa-apa. Nanti saja ayah telpon balik.”
“Tapi aneh ya ayah…”
“Apanya yang aneh kak?” Hendra heran.
“Bunda kan baru aja pergi ke bawah taro piring, eh masa udah telpon lagi aja.” Jelas Kiara yang membuat Hendra semakin bingung.
“Maksudnya gimana sih kak? Kok ayah gak ngerti ya.”
“Itu loh ayahh… yang barusan telpon ayah itu bunda kan?”
“Kok bunda?”
“Iyaaaa ayahhh… di HP ayah tulisannya itu “istri” gitu… istri ayah kan bunda.” Jelas Kiara geregetan.
Hendra hanya bisa mematung mendengar penjelasan sang anak. Bagaimana dirinya bisa lupa kalau telah mengganti nama kontak Lia dengan istri diponselnya. “Ish, gara-gara Rian ini.” Batinnya kesal.
Temannya itu selalu menggoda Hendra semenjak tak sengaja melihat ada panggilan dengan nama Lia di ponselnya. Akhirnya demi menghindari godaan Rian, Hendra mengganti nama kontak Lia menjadi Istri. Ck..!!