Janda Dua Anak Di Pinang Bujang

Janda Dua Anak Di Pinang Bujang
Part 12


Rahma tidur dengan posisi terlentang menatap langit-langit kamar, itu posisi tetap Rahma kala harus tidur berdua dengan suaminya. Mau membelakangi suami katanya kan dosa tapi kalau menyamping dan menghadap suami, takutnya malah tidak dapat mengontrol diri untuk tidak membekap muka suaminya.


Sedari tadi Rahma terusik dengan kasur yang terus bergerak pelan, Hendra yang tak bisa terlelap dan membolak balikan badan hingga menggangu Rahma.


“Ra…” Rahma diam tak ada niatan untuk menyahut.


“Ra… mas tau kamu belum tidur.” Tak menyerah. hendra kembali bersuara.


“Apa kamu masih belum mau memaafkan kesalahan mas?“


“Ra…”


“Bukan tidak mau, tapi semua butuh waktu. Mungkin mudah bagimu meminta maaf. Tapi coba berpikir dari sudut pandangku. Luka dan sakit hatiku tidak dapat sembuh hanya dengan kata maafmu.”


“Mas tau Ra, maaf. Beri kesempatan pada mas, mas akan berusaha memperbaiki kesalahan mas dan mas akan berusaha menyembuhkan luka hatimu.”


Rahma menghela nafas panjang sebelum kembali berucap. “Sulit. Sulit bagiku untuk memberimu kesempatan dan sulit bagiku untuk kembali memberikan kepercayaan penuh padamu.”


“Begitu sulitnya kah? Satu kesalahanku dan tak ada satu kesempatan pun yang aku dapatkan untuk memperbaikinya?” Hendra merasa Rahma sedikit tak adil. Bukankah seharusnya dia masih layak untuk di beri kesempatan. Apa usahanya untuk meminta maaf masih kurang?


“Satu kesalahan tapi fatal akibatnya. Satu kesalahan tapi menimbulkan sakit dan luka yang teramat dalam. Satu kesalahan yang mungkin tak akan pernah aku lupakan.” Tukas Rahma dengan mata nyalang menatap Hendra.


“Masih ingat perkataanku dulu saat pertama kali kita menjalin hubungan?”


Ingatan Hendra seketika melayang pada masa awal mereka sepakat menjalin kisah asmara. Tepatnya sebelas belas tahun yang lalu…


Flashback On :


“Mas… mas beneran serius sama aku?”


“Rahma… mas serius sama kamu. Kalau mas gak serius… ngapain mas ketemu keluarga kamu? Hm..??”


Rahma mengangguk dan tersenyum. “Makasih mas.” Tapi dalam hatinya masih ada keraguan.


Hendra yang melihat itu lantas bertanya. “Kenapa? Kamu masih ragu?”


“Ha?” Rahma jujur mengangguk. “Iya.”


“Gak apa-apa. Wajar kalau kamu masih ragu. Tapi aku akan tunjukin kalau aku serius sama kamu.”


“Makasih mas.” Ucap Rahma dengan tulus.


“Aku boleh tanya?” Rahma mengangguk. “Apa?”


“Sebelumnya pernah pacaran?”


“Kapan?”


“Waktu masih SMA, sama orang sini juga.”


Hendra mengangguk-anggukan kepalanya. “Kalau boleh tau kenapa putus?”


“Bukan jodoh.” Rahma dan Hendra terkekeh. Lantas tak lama Rahma pun bercerita. Rupanya dia putus karena di selingkuhi.


“Tapi kamu tau kan kalau gak semua cowok kayak gitu?” Hendra hanya takut Rahma punya pikiran negatif pada semua pria.


“Ya gak lah mas.”


“Syukurlah kalau gitu.” Leganya. “Tapi kamu tenang aja, aku tipe cowok setia.” Hendra menepuk dada bangga.


“Jangan cuma manis di mulut. Tapi buktikan.” Kekeh Rahma.


“Aku paling benci di bohongi apalagi di khianati. Lebih baik sudahi hubungan kita jika memang cinta dan sayang sudah tak lagi ada, setelahnya kamu bebas bersama siapa saja yang kamu mau.” Ucap Rahma dengan senyum, tapi sorot matanya terlihat tegas. Menandakan keseriusan dalam setiap ucapannya.


Rahma menghela nafas panjang sebelum kembali berbicara. “Jadi… jangan sampai mas melakukannya. Karena kalau itu terjadi, sudah pasti aku akan pergi.”


Flashback Off :


Hendra termenung menatap langit-langit kamar. Kedua tangannya mencengkram erat selimut yang menutupi tubuhnya. Ketakutan yang belakangan ini dia rasakan seolah mencapai puncaknya.


Rahma memang belum berbicara langsung tentang keinginannya untuk berpisah, tapi pertanyaanya tentang peristiwa lalu membuat Hendra terdiam.


Jika sudah begini, usaha dan perjuangannya untuk mempertahankan pernikahan mereka sudah pasti sia-sia.


“Mas tidak melakukannya dengan sengaja Ra. Itu sebuah kecelakaan. Mas menikahinya hanya sekedar bertanggung jawab. Tidak ada perasaan apapun yang mas rasakan padanya.” Ujar Hendra. Pria itu tetap mencoba peruntungannya meluluhlan hati sang istri.


“Tidur satu kamar? Tidur satu ranjang?” Tembak Rahma.


“Ii..iya..” gagap Hendra. Dia menelan ludah


“Selama satu tahun ini, yakin belum timbul perasaan apapun setelah tinggal dan tidur di ranjang yang sama? Kamu merasa nyaman bersamanya?”


“Mas…”


“Kamu nyaman. Kalau tidak, kamu tidak akan mau tidur bersamanya. Bahkan untuk sekedar tinggal dan bertemu setiap hari pun harusnya kamu sungkan.”


“Maaf, aku tidur duluan.” Rahma menutup mata dan untuk pertama kalinya tidur memunggungi suaminya. Dia enggan membahas terlalu jauh. Hanya akan menambah luka di hatinya.


“Bohong kalau kamu tak mempunyai perasaan apapun padanya.” Hati Rahma mencelos. Air mata mengalir membasahi pipi. Dia membekap mulut dan berusaha menahan isak tangisnya.