Janda Dua Anak Di Pinang Bujang

Janda Dua Anak Di Pinang Bujang
Part 01


Senyum lebar terukir di wajah Rahma kala taxi yang di tumpanginya berhenti di depan sebuah rumah sederhana yang menjadi tujuannya. Dengan segera dirinya melangkahkan kaki keluar dari taxi di ikuti kedua anaknya, Kiara dan Maura.


“Ini barangnya Bu. Tolong di cek lagi takut ada yang tertinggal.” Sopir taxi menyerahkan sebuah koper kecil yang dikeluarkan dari bagasi.


“Oh iya, tidak ada Pak. Terima kasih.” Rahma menyambut koper yang disodorkan seraya memberikan beberapa lembar uang untuk membayar ongkos.


“Tidak usah di kembalikan sisanya Pak.” Ucapnya lagi ketika melihat si sopir hendak memberikan kembalian.


“Terima kasih banyak Bu.” Sopir itu tersenyum lebar sembari menundukan sedikit kepalanya dan kemudian berlalu pergi.


Rahma membalikan badan dan berdiri di depan pagar besi yang terkunci, senyuman lebar yang menghiasi wajahnya tadi perlahan luntur dan berganti kerutan di dahi.


Pemandangan yang tersaji di depan mata seketika menimbulkan tanya dibenaknya. “Kenapa rumahnya kotor sekali?” Batin Rahma.


Rumput liar dan sampah dedaunan kering tampak menghiasi halaman serta teras rumah, debu yang tebal juga begitu jelas terlihat di atas keramik teras yang berwarna putih. Sekilas rumah ini terlihat seperti rumah kosong dan tak terawat.


Rumah yang ada di depan matanya ini merupakan rumah dinas yang di tempati sang suami - Hendra, selama dua tahun terakhir. Selama bekerja di salah satu instansi pemerintahan baru kali ini suaminya itu mendapat dinas dan harus menetap di luar kota.


Karena Kiara dan Maura yang sudah bersekolah, jadi Rahma tidak ikut tinggal bersama suaminya. Tapi itu tak jadi masalah. Sejak awal keduanya sudah sepakat kalau Hendra akan pulang dan mengunjungi keluarganya satu bulan sekali.


Selama dua tahun ini, Rahma hanya pernah berkunjung dua kali. Itu pun di awal kepindahan Hendra. Dan entah ada kenapa, tiba-tiba Rahma ingin sekali datang ke kota ini untuk memberi kejutan pada suaminya.


Maka dari itu Rahma mengajak kedua putrinya mengunjungi Hendra tanpa memberi kabar berita. Tapi melihat kondisi rumah ini Rahma jadi merasa curiga.


“Astagfirullah…” Rahma terkejut melihat keadaan di dalam rumah yang ternyata tak kalah kotornya.


“Bunda, kenapa rumah ayah kayak rumah hantu?” Ucap Kiara yang membuat Rahma seketika menoleh ke arahnya.


Anak sulung Rahma itu tengah menengadahkan kepalanya melihat ke langit-langit rumah yang di hiasi sarang laba-laba.


“Bunda juga gak tau kak.” Rahma menggeleng lemah.


Sudah bisa Rahma pastikan kalau rumah ini sudah lama tak di tempati. Tapi yang masih menjadi misteri adalah alasan di balik kosongnya rumah ini. “Apa yang kamu sembunyikan dariku mas.” Lagi-lagi Rahma hanya bisa bertanya dalam hati.


Rasa bahagia di hati Rahma karena akan berkumpul bersama kini sirna, berganti dengan rasa curiga dan tanda tanya dalam benaknya. Rasa cemas? Pasti ada, tapi.. selama ini suaminya selalu bersikap seperti biasa. Jika jadwal pulang dia akan datang, bahkan semalam pun ia masih mengobrol dengan suaminya dan dari suaranya pria itu terdengar baik-baik saja.


Dengan di liputi rasa curiga dan tanda tanya, Rahma mengajak kedua anaknya meninggalkan rumah itu.


\~*\~*\~*\~*\~


Di kota yang sama tapi di tempat berbeda, terlihat Hendra yang tengah bekerja di ruangannya. Pria itu sibuk memeriksa berkas yang menumpuk di atas meja kerjanya.


“Arghhh…..”


Pria itu melihat jam yang melingkar di tangan kanannya. “Belum waktunya pulang, masih ada satu jam lebih lagi.” Gumamnya.


Tring…!!


Ponselnya yang ada di atas meja berbunyi, tanda ada pesan yang masuk. Hendra segera menyambar ponsel itu dan seketika senyum tipis terukir di bibirnya tatkala tau siapa yang mengirim pesan.


Sebuah foto dan beberapa kata yang membuat lelahnya hilang. Tangannya dengan cepat mengetikan balasan, tapi…


Plip…!!


Belum sempat pesan balasannya terkirim, ponsel di tangannya berubah menjadi gelap. “Ck, habis batre lagi.” Hendra berdecak kesal.


Karena saking sibuknya bekerja dia sampai lupa mengisi daya ponselnya. Masih ada beberapa berkas yang harus di periksa, dengan cepat Hendra menyelesaikannya.


Setelah beberapa menit berlalu. “Akhirnya selesai juga.” Kembali dia melirik jam di tangan dan kemudian terdiam sejenak. Setelah menimbang akhirnya dia putuskan untuk pulang.


Tak apalah hari ini pulang lebih cepat, toh pekerjaan ku juga sudah selesai. Pikirnya. Dibereskannya berkas yang tadi dia periksa, mematikan komputer dan merapihkan meja kerja.


Sebelum keluar ruangan, ia terlebih dulu menyambar gagang telpon dan menelpon sebuah rumah makan nusantara langganannya. Setelah selesai memesan beberapa makanan, ia pun menutup telpon dan bergegas pergi keluar ruangan kerjanya.


“Nita, saya pulang duluan. Kalau ada yang cari saya, bilang saya ada urusan.” Pesan Hendra pada sang asisten yang memang meja kerjanya berada tepat di depan ruangannya.


Tanpa menunggu jawaban, dia pun berlalu pergi. Sementara Nita hanya menghela nafas dan menggelengkan kepala. “Kebiasaan. Urusan apalagi kali ini.” Ucapnya.


Sebenarnya Nita heran pada sang atasan, sudah beberapa bulan belakangan ini suka sekali pulang lebih awal. Kadang terbersit dalam hatinya ingin menegur, tapi ia sadar hanya bawahan.


Bukannya apa, karena kalau ada pekerjaan mendadak ia jadi susah sendiri. Dan kalau sudah terlalu sering begini, itu namanya tidak profesional lagi. “Mentang mentas punya jabatan.” Gerutu Nita sambil meneruskan pekerjaannya.


Sementara itu Hendra mengendarai mobilnya dengan santai sambil sesekali bersenandung mengikuti nyanyian yang sengaja ia putar.


Lima belas menit berkendara, Hendra membelokan mobilnya pada sebuah rumah makan untuk mengambil pesanannya dan tak lama ia pun kembali melajukan mobilnya, kali ini dengan kecepatan penuh karena ingin segera sampai di rumah.


Perasaan senang yang di rasakannya membuat ia lengah akan keadaan sekitar. Dia tak menyadari kalau semenjak mobilnya keluar dari kantor tadi, ada satu mobil yang senantiasa mengikutinya.


Mungkin karena tak terlalu mencolok dan menjaga jarak, hingga Hendra tak mengetahuinya. Tapi siapakah gerangan…