
...\~Segala yang terjadi dalam hidupku ini adalah sebuah misteri Illahi, perihnya cobaan hanya ujian kehidupan\~...
Sepenggal lirik lagu yang populer di masyarakat itu, sepertinya sangat cocok untuk menggambarkan situasi yang Rahma alami saat ini. Memang benar hidup itu penuh misteri, tidak ada satu orang manusia pun yang tau pasti apa yang akan terjadi dalam hidupnya.
Contohnya saja Rahma!! Beberapa jam yang lalu, bukan main bahagianya Rahma bisa menjejakan kakinya kembali di kota ini. Tapi detik ini, bukan main sakitnya hati wanita itu, kala mengetahui sang suami ternyata telah tega mengkhianatinya.
Tidak ada yang bisa menebak apa yang akan terjadi, apa yang akan kita hadapi apalagi memprediksi takdir apa yang harus kita jalani. Itulah sejatinya kehidupan.
\~*\~*\~*\~*\~
“Rahma…”
“Boleh aku masuk?”
Dengan raut wajah dan nada bicara yang tenang Rahma meminta izin pada Hendra.
“Ra…”
“Tidak akan lama, aku hanya ingin mendengar penjelasanmu tentang semua ini.”
“Maksud… Mas bukan begitu…”
Tanpa melanjutkan perkataannya, Hendra memberikan Naira pada Lia. Dan melangkah maju untuk meraih tangan Rahma dan membawanya masuk.
“Terima kasih.”
Alih-alih menyambut uluran tangan Hendra, Rahma justru melenggang masuk dan langsung duduk pada sofa single di ruang tamu rumah itu.
“Emmm… mas ambilkan minum dulu ya…” Hendra yang posisinya masih berdiri membalikan badan dan hendak berlalu.
“Aku kesini bukan untuk meminta minum tapi untuk meminta penjelasan.” Perkataan Rahma menghentikan langkah Hendra.
Sebelum mendudukan tubuhnya, laki-laki itu menyuruh Lia untuk menitipkan Naira pada sang asisten rumah tangga.
“Sejak kapan?”
Baru saja bokong keduanya menyentuh dudukan sofa, Rahma sudah mengeluarkan pertanyaan yang membuat kedua orang itu mematung.
Hendra tak langsung menjawab. Dia terdiam sesaat memikirkan apa yang harus dia katakan. Kejadian tiba-tiba ini membuat kinerja otaknya melemah.
Sembari menunggu jawaban Hendra, ekor mata Rahma melirik perempuan yang dia ketahui bernama Lia itu. Sedari tadi dia hanya diam dan kini malah terlihat duduk dengan kepala menunduk.
“Kedua orang tuamu tau?” Rahma menyela ucapan Hendra. Saat ini Rahma hanya ingin mendengar jawaban bukan alasan.
Hendra mengangguk. “Iya. Mas memberitahu mereka ketika akan menikahi Lia.” Jawabnya lemah.
“Jadi hanya aku yang tidak tau apa-apa.“ Rahma menghela nafas dan mengangguk kecil. Sungguh miris. Dia tak menyangka bahwa mertuanya juga ikut terlibat dalam masalah ini.
“Kenapa?”
“Maaf...”
Hendra menggeser duduknya dan mendekati Rahma. Dia menatap Rahma dengan sorot penuh penyesalan. “Mas salah, mas minta maaf.”
“Kalau sudah tidak ingin bersamaku, kenapa tidak berterus terang. Kenapa menggunakan cara menyakitkan seperti ini.”
Percayalah, dalam hati sebenarnya dari awal Rahma sudah ingin mencaci maki keduanya. Terutama Hendra. Namun dia tahan dan mencoba menghadapi semuanya dengan tenang.
“Tidak Ra. Bukan seperti itu. Ini tidak seperti yang kamu pikirkan. Mas akan jelaskan…” Rahma memalingkan wajahnya kesamping dan mendengus kesal.
Tak ingin berlama-lama di tempat yang akan menjadi kenangan buruk itu. Rahma beranjak dari duduknya dan memilih pergi. “Baiklah, terima kasih atas jawabannya. Aku rasa sudah cukup. Permisi.”
“Tunggu Ra. Izinkan mas menjelaskan semuanya…”
Gelengan kepala Rahma menghentikan ucapan Hendra. “Cukup.!! Biarkan aku pergi.”
Untuk saat ini biarkanlah dia egois dengan tidak mau mendengarkan penjelasan dari suaminya. Hati dan tubuhnya sedang tidak baik-baik saja.
Dia butuh menenangkan hati dan pikirannya dengan menghindar sejenak dari permasalahan. Agar bisa kembali berpikir jernih.
“Jangan langkahkan kakimu keluar. Aku tak ingin anak-anakku melihatmu dan mengetahui segalanya untuk saat ini.” Ucap Rahma sebelum menutup pintu rumah itu dengan keras.
Hendra tersentak. Saking terkejut dia melihat kedatangan Rahma, hingga lupa menanyakan keberadaan kedua anaknya.
Sungguh, bukan kejadian seperti ini yang dia mau. Bukan maksud hatinya menyakiti Rahma.
Sementara Lia, yang sedari tadi menunduk tanpa ada keberanian sedikitpun menatap Rahma. Kini hanya bisa menatap Hendra yang masih setia berdiri walaupun taxi yang ditumpangi Rahma sudah tak terlihat.
Memilih membiarkan Hendra sendiri, Lia beranjak pergi dengan segala gundah di hati.