
...\~ Pahami bahwa kamu tidak memiliki apa-apa. Segala sesuatu yang mengelilingimu bersifat sementara. Hanya cinta di hatimu yang akan bertahan selamanya \~ ...
...Leon Brown...
Setelah melaksanakan shalat subuhnya, Rahma keluar dari kamar. Sebelum turun ke dapur dan menyiapkan sarapan dia terlebih dulu mampir ke kamar anak-anaknya.
“Kakak, adek. Bangun nak. Sudah subuh.”
Rahma mengusap lengan dan kepala kedua anaknya secara bergantian.
“Kakak, adek…” Kali ini Rahma sedikit mengencangkan suaranya.
Mungkin karena kelelahan pagi ini keduanya agak susah untuk di bangunkan. Setelah beberapa lama Kiara dan Maura pun akhirnya terbangun.
“Bunda…” gumam Kiara dengan suara serak bangun tidurnya.
“Iya, sudah subuh. Bangun, shalat dulu.”
Kiara bangun dari tidurnya dan memeluk sang ibu. “Masih ngantuk?” Tanya Rahma sambil mengusap lembut punggung putri sukungnya itu.
Anggukan kecil Kiara berikan sebagai jawaban. “Ya udah cepat shalat habis itu kakak bobok lagi.”
“Iya.”
Kiara beranjak turun sari ranjang dan melangkah ke kamar mandi.
“Bunda…” Maura terusik dengan hawa dingin karena Rahma menyingkapkan selimut yang di pakainya.
“Iya nak. Bangun sayang, subuh.”
“Heem…”
“Ayo nak, itu kakak sudah keluar.”
“Gendong…” si bungsu merentangkan tangannya pada Rahma.
Dengan kekehan kecil Rahma pun menggendong Maura dan membawanya ke kamar mandi.
Setelah memastikan kedua anaknya kembali tertidur selesai shalat. Rahma pun berlalu turun menuju dapur rumahnya.
“Pagi bi.”
“Pagi…”
“Di kulkas masih ada bahan buat bikin sup gak bi?” Rahma bertanya pada asisten rumah tangganya.
“Masih bu.” Jawab bi Nah cepat.
Rahma pun langsung memberi instruksi pada bi Nah dan mulai memasak. Dan setelah hampir satu jam, akhirnya masakan pun selesai.
Bi nah mengangguk, seraya tersenyum dia berkata. “Iya bu.”
Walaupun hati dan pikiran sedang kacau. Tapi perut harus tetap di isi. Dia tak ingin tumbang dan membuat kedua anaknya terabaikan. Dia harus kuat.
Selesai sarapan dan mencuci piring bekas makannya, Rahma memutuskan kembali ke kamarnya.
Masih pagi, tapi perut sudah kenyang terisi. Mau langsung mandi tapi nasi dalam perutnya belum turun, akhirnya Rahma memilih duduk di balkon kamarnya.
Dalam kesendirian seperti ini, spontan pikiran Rahma kembali merenungi tentang nasib rumah tangganya. Keputusan apa yang harus dia ambil? Mementingkan keutuhan keluarganya atau kesehatan hati dan pikirannya.
Jujur saja. Rahma bukan wanita baik yang bisa memafkan kesalahan suaminya begitu saja. Ok, katakanlah dia bisa memaafkan tapi dia yakin seratus persen kalau dia tidak akan pernah bisa melupakannya.
Rahma tidak akan bisa percaya sepenuhnya lagi pada sang suami. Akan selalu ada rasa curiga pada sang suami. Apalagi jika di hadapkan pada kondisi yang harus berjauhan seperti sekarang.
Hati dan pikirannya otomatis tidak akan tenang, selalu merasa ketakutan kalau-kalau suaminya melakukan kesalahan yang sama. Dan dia tidak mau menjalani rumah tangga seperti itu.
Rahma menghela nafas kasar. Dan beranjak dari duduknya. “Mandi, mandi…” gumamnya seraya melangkah me kamar mandi.
Tak akan ada habisnya pikir Rahma kalau hanya di bayangkan. Mau tak mau dia harus menunggu Hendra datang dan menjelaskan semuanya. Siap tak siap dia memang harus menghadapinya.
Memanjakan diri di dalam kamar mandi dengan lulur dan berendam, Rahma keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang lebih segar. Wajahnya terlihat lebih fresh walau matanya terlihat sembab. Rupa-rupanya di kamar mandi tadi dia kembali menangis.
Tok tok tok
Suara ketukan di pintu kamar membuat Rahma cepat-cepat memakai pakaiannya. “Iya bi… ada apa?” Sedikit berteriak Rahma bertanya.
Kening Rahma berkerut karena tak mendengar jawaban apa-apa malah suara ketuka di pintu yang kembali terdengar.
“Sebentar bi…” Rahma membungkus rambutnya yang masih basah dan melangkah ke arah pintu.
“Ada apa…” belum selesai ucapannya Rahma kini mematung. Ternyata bukan bi Nah. Melainkan Hendra yang kini berdiri di depan pintu kamar.
Tanpa kata, Rahma meraih tangan Hendra dan menyaliminya. Sekanjutnya dia membuka pintu kamar lebih lebar dan membiarkan Hendra masuk. Dalam hati merutuki tingkah bodohnya yang sempat terkejut melihat Hendra.
“Sudah sarapan?” Tanya Rahma seraya mendudukan diri di pinggir kasur.
“Sudah Ra.”
“Mas mau menjelaskan semuanya Ra.”
Rahma mengangguk, sedikit menggeser duduknya dan membiarkan Hendra duduk di sampingnya.
“Mas salah. Mas mohon maaf.” Perkataan maaf kembali dia ucapkan. Sementara Rahma hanya diam tanpa ada niat menyela ucapan Hendra sama sekali.
“Semuanya berawal setahun yang lalu….”