
Delapan tahun kemudian, di bumi.
Pusara itu masih tampak basah meski sudah delapan tahun lamanya ada di pemakaman ini. Bunga-bunga segar bertebaran di atasnya, menandakan seseorang baru saja menaburkan di atasnya dan menyirami tanahnya dengan sebotol air mineral.
Seorang pria berdiri di sisi makam. Selama delapan tahun terakhir, di tanggal yang sama setiap tahunnya, lelaki ini akan berkunjung ke makam tersebut, berusaha merenungi dosa dan menebus kesalahan yang pernah dilakukannya dulu, yang tak akan mungkin bisa diampuni. Lelaki berkemeja hitam itu masih saja memandangi pusara bertuliskan Qitara Putri Ariwilaga meski dia sudah selesai memanjatkan doanya.
"Geri."
Sebuah suara memanggil pria tersebut. Tampak tak jauh dari tempatnya berdiri, seorang wanita datang menghampiri, dengan perut besar yang dipeganginya sambil berjalan.
"Kamu kemari, Ira?"
Ira memandangi pusara kakak sepupunya. Sekarang, Ira telah berubah. Sifat manjanya berputar 180 derajat di kala keluarganya mengalami kemiskinan karena ayahnya yang terkena kasus korupsi. Dalam hidupnya yang susah itu, Ira mengingat Tara di masa lalunya yang selalu mengajarkan dirinya untuk hidup mandiri. Betapa sekarang dia sangat menyesali perbuatannya yang dulu pernah berkhianat pada Tara.
Ira sempat putus dari Geri dan roda kehidupannya pun naik dan turun setelahnya. Gadis itu bertemu dengan Geri kembali baru dua tahun yang lalu saat mengunjungi makam Tara. Ira telah berubah, dirinya sudah sangat dewasa dan bijaksana. Mereka berdua pun memadu kasih kembali dan telah menjalani pernikahan dua tahun lamanya.
"Aku tahu kamu pasti di tempat ini. Kenapa enggak mengajakku? Aku pasti akan menemani kamu." Ira kembali menaburkan sekeranjang bunga baru di atas tanah makam Tara.
"Kandunganmu sudah membesar. Aku ngga mungkin tega membiarkan kamu jalan jauh dari parkiran ke makam ini," sahut Geri.
"Kak Tara ... apa dia masih marah padaku ya?" tanya Ira seraya meneteskan air mata. Geri mengusap rambut istrinya itu.
"Tara sudah memaafkanku, dia pasti juga sudah melakukan hal yang sama padamu. Tidak usah khawatir."
"Tapi, Geri, aku--- ugh!"
Tiba-tiba perut Ira dililit kesakitan. Tangannya meraih pundak Geri untuk bertahan berdiri, namun ternyata tidak kuat. Ira hampir saja jatuh tersungkur kalau saja Geri tidak sigap menangkapnya.
"Ira! Sudah waktunya, ya? Ayo kita ke rumah sakit sekarang!"
***
Di alam antar dimensi.
"Ah, kedua pasangan itu memiliki putra dan putri hampir bersamaan! Tara melahirkan seorang putra, dan Kiara memiliki anak kembar! Wah!"
"..."
"Apakah kamu merasa iri dengan kehidupan mereka?" Sang pelindung semesta berbicara. Elona terkesiap.
"Kalau bilang aku tidak iri, jelas aku akan berbohong. Aku ingin seperti mereka yang punya kesempatan untuk memperbaiki hidup sekali lagi ... ."
"Baiklah, keinginanmu dikabulkan."
"Apa?!"
Elona begitu terperanjat. Tiba-tiba, layar di hadapannya menayangkan tampilan berbeda. Tampak dua orang, pria dan wanita, sedang berada di rumah sakit. Si wanita sedang menjerit kesakitan, bersusah payah mengeluarkan janin yang ada dalam perutnya.
"Mereka ini ... ."
"Mereka adalah Geri dan Ira, alasan mengapa Tara bisa sampai ke duniamu. Ini adalah kondisi delapan tahun kemudian."
"Jadi, aku ...?"
"Kamu akan dikirim ke masa mereka, sebagai buah hati Geri dan Ira. Kali ini, pergunakanlah kesempatan dalam hidupmu sebaik-baiknya."
"Aku berjanji!" seru Elona. Raut wajahnya semringah. Dia sangat bersyukur karena bisa memiliki kesempatan kedua seperti Tara dan Wulan.
Kedua tangannya mengepal tak sabar. Elona terus tersenyum.
"Terima kasih banyak!" ucap Elona, sebelum akhirnya pergi ke bumi, ke dunia Tara dan Wulan berasal.
***