Isekai: Putri Marquess Jadi Pengusaha Tempe

Isekai: Putri Marquess Jadi Pengusaha Tempe
Bab 53. Tidak Peka


Keesokan harinya.


Elona berguling-guling di kasurnya sepanjang malam sampai ia tidak bisa tidur hingga pagi. Wajahnya sampai saat ini masih saja memerah, karena dia terus mengingat hal yang terjadi di goa bersama Art.


Kemarin, tak lama setelah bibir mereka saling bersentuhan, para teman-teman Art dan beberapa prajurit Locke menemukan goa tempat mereka bersembunyi. Mereka rupanya sampai menyusuri hutan demi bisa menemukab nona mudanya itu.


Lalu setelah ditemukan, entah bagaimana caranya Elona bisa pulang bersama mereka dengan wajah yang begitu merah. Mereka semua mengira wajah gadis itu merah hanya karena demam, dan tidak mengetahui kejadian yang sebenarnya.


"Kita... ciuman..." ucap Elona masih saja tak percaya, sembari mengusap bibirnya perlahan dengan jemarinya. Rasa tersipu malu itu kembali datang, seolah menghembuskan asap dari kepalanya seperti ketel air mendidih. Rona merah itu masih saja mewarnai air muka wajahnya sampai ke leher dan telinga.


"Kyaaa...!!"


Tok! Tok!


"Nona, ini saya Mai." terdengar suara yang memanggil Elona dari luar kamar.


"Masuklah." Elona mempersilakan. Pelayan pendamping kesayangannya itu pun memasuki ruangan.


"Nona, apa anda sudah merasa lebih sehat? Kemarin Nona pulang dalam keadaan kehujanan. Saya khawatir sekali!" ucap Mau menatap Elona dengan panik. Elona hanya tersenyum ceria.


"Lihat, aku tidak apa-apa, kok! Aku sudah baik-baik saja."


"Syukurlah! Lalu, apa Nona akan beristirahat saja hari ini, atau ingin ke ladang?"


"Hmm... aku bingung..."


"Bingung kenapa, Nona?"


Raut wajah Elona tersipu malu, "Soalnya... aku takut ketemu sama A-art..."


"Takut bertemu dengan Tuan- um, maksudku, dengan Art? Memang ada apa dengannya?" tanya Mai penasaran.


Elona mengangkat wajahnya yang sedari tadi ditundukkannya dan menatap Mai. "Aku ingin cerita... tapi jangan beritahu siapapun ya, apalagi Kak Stefan..."


"Saya janji, saya hanya akan mendengarkan." ucap Mai seraya bersumpah.


Lalu Elona menceritakan kejadian detail yang terjadi di dalam goa, dan membuat Mai begitu terkejut.


"Apa?! Kalian berciuman?!!" ucap Mai histeris, dan mulutnya langsung ditutup dengan panik oleh Elona.


"Shh! Sshh!! Jangan keras-keras, nanti terdengar sama Kak Ryndall di bawah!!" teriak Elona panik dengan suara yang ditahan. Bila sampai sekretaris kakaknya mengetahui hal tersebut, maka tak akan lama bagi Stefan untuk mengetahui hal itu juga.


"Oke..." Mai mengambil nafas dua kali dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, berusaha untuk menenangkan diri.


"Lalu, Nona sendiri bagaimana?" tanya Mai begitu dia sudah tenang. "Apa Nona mencintainya?"


"Cinta...?" wajah Elona seperti mengepulkan asap kembali, dengan rona merah di wajahnya seperti kepiting rebus. Ia menundukkan kepala dan menggeleng lemah.


"... aku tidak tahu... aku takut yang terjadi padaku dan Louis kemarin akan terjadi lagi..."


Melihat nona mudanya seperti kebingungan begini, Mai tersenyum lembut. Lalu, ia menyentuh kedua pundak gadis itu.


"Nona, anda tahu kan, kalau saya selalu mendukung anda?" tanya Mai. Elona menatap lekat-lekat matanya.


"Iya, Mai..."


"Saya akan memberikan pendapat. Anda jangan menyamakan Tuan Louis dan Tua- maksudku, dengan Art. Mereka jelas orang yang berbeda. Dan Art juga selalu ada di sisi anda selama ini.


Yang jelas, Nona, saya belum pernah melihat anda yang seperti ini saat bersama Tuan Louis."


"Eh, benarkah?" Elona bertanya tak percaya, dan Mai mengangguk dengan mantap.


"Keputusan ada di tangan Nona, dan apapun itu, saya akan tetap mendukungnya. Jadi jangan khawatir, ya!"


Elona menatap Mai lekat-lekat dengan perasaan haru, lalu ia memeluk pelayan pendampingnya itu.


"Terima kasih, Mai..."


*****


"Elona!"


Art memanggil Elona dari kejauhan. Meskipun masih berjalan tertatih-tatih karena luka yang masih terasa nyeri di kakinya, lelaki itu tetap memaksakan dirinya untuk pergi ke ladang. Kejadian kemarin juga membuatnya tidak bisa tidur. Dan keesokan harinya, yaitu hari ini, ia bersikeras untuk pergi ke ladang agar bisa bertemu dengan gadis pujaannya itu.


Yang dipanggil pun menoleh dengan sedikit bergidik. Elona tidak menyangka bahwa Art akan ada di ladang saat ini. Ia tidak siap bertemu lagi dengan lelaki itu. Seketika itu juga wajahnya memerah dan tidak mau menatap langsung mata Art.


"Ha-hai... kamu kok ada di sini? Kan ka-kakimu lagi sakit." Elona balik menyapanya. Sebisa mungkin ia menyembunyikan rasa gugupnya, tapi gagal. Suara tergagap yang keluar dari mulutnya bukanlah sesuatu yang ia inginkan dari dalam otaknya.


"Ah, ini. Aku sudah tidak apa-apa. Besok pasti aku sudah bisa berjalan lancar." jawab Art dengan ceria.


Wajah Art semakin gembira begitu Elona terdengar mengkhawatirkan keadaannya. Ia memang berharap adanya perubahan dari sikap Elona selama ini padanya setelah kejadian di dalam goa itu. Art begitu berharap kalau dirinya dan gadis itu bisa jadi lebih dekat dari yang sebelum-sebelumnya.


"O-oh... begitu..." ucap Elona lagi. Kemudian, Art meraih tangan gadis itu.


"Hey, soal yang kemarin itu..."


Belum selesai Art merampungkan kalimatnya, tangannya sudah ditepis oleh Elona. Lelaki itu begitu terkejut dibuatnya.


Elona menatap mata Art untuk sepersekian detik. Wajahnya begitu merah sampai tidak dikenali lagi yang mana warna kulitnya. Tangannya menutupi bibirnya. Dengan segera, ia berbalik dengan wajah yang masih menunduk.


"A-aku pergi ke a-area yang di sana dulu!"


Seketika itu juga, Art ditinggal oleh Elona dengan perasaan yang teramat sangat bingung.


"Elona!" Art berusaha memanggil, namun sia-sia. Elona sudah terlanjur menjauh dari hadapannya.


*****


Art begitu bingung dengan perubahan sikap Elona terhadapnya. Padahal ia berpikir akan ada sesuatu yang positif yang akan terjadi hari ini. Ia berniat untuk mendekati gadis itu sekali lagi dan mengatakan seluruh perasaannya dengan sesungguhnya.


Tetapi yang terjadi justru malah sebaliknya. Elona menjauh saat ia dekati. Tangan Art pun ditepis oleh gadis itu ketika berusaha menyentuhnya. Benar-benar di luar dugaan sama sekali.


"Kenapa dia jadi malah menjauh dariku begitu?? Apa dia benci padaku?!" ucap Art tak habis pikir.


Perkataan Art barusan terdengar oleh para pekerja tua yang ada di sekitarnya. Para pria tua itu malah terkekeh saat melihat tingkah anak muda yang seperti itu.


"Duh, anak muda jaman sekarang, tidak peka, ya?"


"Hahaha, iya! Payah kau, Nak!" dua pria tua malah menertawakan Art yang kebingungan, sambil terus menggarap tanah.


"Ah, apa sih, Paman?" Art masih saja kebingungan. Mereka berdua pun semakin tergelak.


"Nak, Nona Elona bersikap begitu bukan karena dia membencimu..."


"Lalu, apa namanya? Jelas-jelas tadi dia menghindariku!"


"Duh, dasar anak muda tidak peka! Kau tidak punya pengalaman dengan wanita, ya?" tanya salah satu dari mereka dengan gemas saat melihat Art yang seperti itu.


"Apa, sih, maksudnya?" Art bertanya dengan masih sangat kebingungan. Dua pekerja tua itu menghela nafas panjang dan menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Nak, Nona Elona tadi bersikap begitu bukan karena dia membenci, tapi justru dia malu untuk bertemu denganmu. Aku tidak tahu apa yang telah kamu perbuat padanya. Yang jelas, sekarang dia melihatmu sebagai seorang pria."


"Nah, benar itu!" ucap mereka. Mata Art membulat begitu mendengarnya.


"Benarkah...?"


"Iya! Tunggu apa lagi? Sana kejar! Cepat!" seru salah satu pekerja itu.


"Ah? Eh!" Art langsung mengedarkan pandangan dan mencari Elona. Matanya menemukan gadis itu sedang asyik mengobrol dengan salah satu pekerja ladang yang lain di pinggiran ladang.


"Terima kasih, Paman! Kukejar cintaku dulu!" Art langsung berbalik dan berusaha berjalan secepat yang dia bisa. Para pria tua itu tergelak melihatnya.


"Ya ampun, anak muda jaman sekarang..."


*****


"Elona!" sekali lagi Art memanggil nama gadis itu. Elona pun menoleh, dan sekali lagi ia bergidik. Gadis itu lalu menyelesaikan perbincangannya dengan salah satu pekerja dengan terburu-buru, lalu ia segera berbalik menjauh dari ladang, berusaha menghindari lelaki yang memanggilnya itu.


"Elona, tunggu!"


Namun, Elona tidak mau menunggu. Ia berusaha sebisa mungkin menjauh dari area ladang, ada pergi ke antara pepohonan yang ada di pinggiran, yang jarang dilalui para pekerja.


Tetapi ternyata gerakan kaki Art bisa menyamai Elona meskipun sedang terluka. Begitu gadis itu ada dalam jarak pandangannya, Art meraih tangan Elona lalu membalik badannya. Tubuh gadis itu pun mengikuti gerakan Art dan sekarang ia tidak dapat berkutik kemana-mana lagi karena di belakang punggungnya ada pohon besar yang menghalangi jalannya.


"Art..."


"Kamu kenapa menghindar?!" tanya Art tanpa basa-basi.


"A-aku tidak menghindar..." gadis itu tertunduk begitu malu. Ia berusaha menyembunyika wajahnya yang begitu merah padam saat ini.


"Apa kamu membenciku?" tanya pemuda itu lagi. Elona langsung tersentak dan menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Tidak! Aku tidak membencimu!"


"Tapi?"


"Tapi... aku malu..."


Elona menundukkan kepalanya sekali lagi, dan membuat lelaki di hadapannya tertegun. Art tidak menyangka apa yang dikatakan oelh para pekerja tadi benar adanya.


Art begitu bersorak dalam hati ketika melihat gadis pujaannya bersikap malu-malu di hadapannya saat ini. Akhirnya setelah sekian lama, Elona tidak menganggapnya lagi sebagai teman biasa. Elona mulai melihatnya sebagai seorang pria yang bisa mencintai dan dicintai olehnya. Standar kebahagiaan Art memang begitu rendah, terutama bila menyangkut dengan keberadaan Elona di hatinya.


Jantung Art berdegup begitu kencang. Ia lalu menyentuh dagu Elona dan mengangkatnya supaya ia bisa melihat wajah gadis itu dengan jelas.


"A-art...?!"


Lelaki itu menyentuh pipi kiri Elona dengan sebelah tangan, dan sebelah tangan lagi asyik dengan jemarinya mengusap bibir Elona yang berwarna merah muda dan terasa lembut.


"Aku... mau menyelesaikan yang kemarin, boleh?" tanya Art. Jantung Elona berdegup begitu kencang dibuatnya.


Dan tanpa menunggu persetujuan gadis itu, Art mendekatkan wajahnya pada wajah Elona. Hembusan nafas lembut saling menyelimuti. Gadis itu secara refleks memejamkan matanya, dan mata Art sendiri begitu terfokus ingin segera mengecup bibir Elona sekali lagi.


Namun, tidak seperti kemarin, ada yang berbeda dari hari ini.


Tangan Art yang menyentuh pipi Elona tiba-tiba ditepis oleh seseorang. Bukan, bukan oleh Elona, tapi oleh orang lain. Elona dan Art sampai terkejut dibuatnya.


Sosok itu meraih tangan Art, lalu membuangnya jauh-jauh dari wajah Elona. Sosok dengan rambut hitam dan bola mata berwarna merahnya. Dan mata Elona begitu terbelalak melihat sosok yang satu ini.


"Louis?!!"


*****


...\=\= original writing by @author.ryby \=\=...


...\=\= cover art by @fuheechi_ \=\=...


...(( dukung author dengan cara follow IGnya di @author.ryby ))...