Isekai: Putri Marquess Jadi Pengusaha Tempe

Isekai: Putri Marquess Jadi Pengusaha Tempe
Bab 69. Dunia Lain


“Jadi, kudengar pabrikmu mengalami musibah. Apa yang terjadi?” tanya Arthur.


Ditanya seperti itu, membuat Elona menghela nafas panjang. “Pabrikku meledak saat dini hari. Beruntungnya, tidak ada korban jiwa. Tapi, semua peralatan rusak dan sebagian persediaan kedelai telah hancur. Kemudian… ditemukan panah yang membolongi pipa gas pembuangannya, lalu gas tersebut disulut dengan api, dan terjadilah kebakaran.”


“Apa?! Kurang ajar!! Lalu sekarang bagaimana?” Arthur menjadi geram mendengar cerita Elona. “Apa perlu kukerahkan semua orang-orangku untuk mencari pelakunya? Akan kuseret langsung dia ke penjara!!”


“Ah, jangan! Tidak usah!” gadis tu mencegahnya.


Elona memandangi Arthur sejenak dalam diam. Statusnya sebagai duke yang kaya raya telah terungkap, dan Elona sudah menduga kalau Arthur akan menggunakan kekuasaan jabatannya demi dirinya. Sewaktu masih dalam penyamaran saja, dia mengerahkan sebagian prajuritnya untuk membantu di ladang. Apalagi sekarang, saat lelaki itu sudah tidak harus menyembunyikan apa-apa lagi dari Elona.


“Kenapa? Ijinkan aku membantu, biar semuanya terungkap!”


“Tidak perlu, terimakasih. Lagipula, aku sudah tahu siapa orangnya. Dan aku juga sudah tahu alasan kenapa dia melakukannya.”


“Kamu… tahu siapa orangnya?” Arthur mengernyitkan dahinya.


“Iya, aku tahu. Dan alasan dia melakukannya karena kesal padaku. Kak Stefan sudah kuminta untuk membawa pelakunya ke pengadilan.”


“Pelakunya kesal padamu?”


“Iya, aku melakukan sesuatu yang keterlaluan.” jelas Elona singkat.


“Apa yang bisa kulakukan untuk membantumu?” tanya Arthur menawarkan diri. Elona tersenyum lembut menatapnya.


“Ini yang bisa kamu lakukan…”


Dengan secepat kilat, Elona mengecup bibir Arthur, membuat lelaki itu langsung mematung di tempat.


“Cepat sembuh ya. A-aku pulang dulu!”


Elona yang tersipu malu mengucapkan pamit sambil terbata, lalu berlari meninggalkan Arthur yang masih mematung. Hingga David lewat di depan kamarnya, yang pintunya ditinggalkan terbuka oleh Elona.


“Tuan Muda, pintu kamar anda terbuka begini, nanti masuk angin! Tuan?”


David masuk ke kamar tuan mudanya, dan mendapati Arthur mematung dengan meneteskan darah di hidungnya. Tak lama, majikannya itu pingsan di tempat tidur.


“Waah… diapakan ini sama Nona Elona? Dapat pukulan telak sepertinya.”


*****


Seminggu kemudian, aula konferensi, di istana kerajaan.


Suasana aula konferensi telah dipenuhi para bangsawan tinggi sebagai dewan pengadilan. Yang Mulia Raja Valcke juga telah berada di atas kursi hakimnya. Di Kerajaan Lightz ini, bila terdapat masalah di antara para warga biasa, maka yang keputusan pengadilan ada di tangan pemimpin wilayah. Namun, bila yang bermasalah adalah antar bangsawan, maka pengadilan akan diadakan di aula konferensi ini, dan Yang Mulia Raja lah yang langsung turun tangan untuk memberikan putusan.


Kursi hakim dan dewan pengadilan menduduki deretan kursi paling depan, menghadap ke arah hadirin dan juga tiga podium di tengah ruangan. Yang dipanggil ke podium tengah adalah korban. Di sebelah kiri juga terdapat podium untuk tempat berdirinya tersangka. Kemudian, di sebelah kanan ruangan terdapat podium untuk saksi. Di sisi rungan kanan dan kiri berbatasan dengan tembok terdapat tempat duduk untuk audiens.


Stefan dan Iris telah duduk di deretan kursi audiens. Di saja juga terlihat Arthur Eckart dan Louis Vandyke yang turut hadir.


“Lady Kiara Perez, dipersilakan masuk.”


Yang Mulia Raja Valcke memanggil si tersangka untuk masuk ke dalam ruangan. Kiara muncul saat kedua daun pintu aula dibuka, menampilkan pakaian yang sedikit kotor karena gadis itu telah mendekam di penjara selama satu hari penuh sebelumnya.


Kiara masuk dengan kedua tangan terikat di depan perutnya, dengan dikawal oleh dua orang prajurit. Kiara memasuki podium kiri, dan kedua prajurit tersebut menjaga ketat podium dari belakangnya.


Semua orang langsung berbisik-bisik begitu Kiara Perez memasuki ruangan. Dan tentu saja, wajah amat sangat terkejut datang dari Louis Vandyke, karena sampai detik terakhir pun Elona idak ingin memberitahukan siapa yang dia curigai sebagai pelaku peledakan pabriknya.


Hadirin diharapkan tenang, karena kita akan memulai pengadilannya.” sang raja membubarkan obrolan dan bisik-bisik dari arah audiens.


“Ya.”


“Alasan anda berada di pengadilan ini adalah karena anda menjadi tersangka dari peledakan pabrik milik Lady Elona Locke. Silakan bersumpah demi rakyat Kerajaan Lightz kalau anda akan menjawab semua pertanyaan dengan sejujur-jujurnya.”


“Saya bersumpah.”


“Kalau begitu, mari kita mulai dengan pernyataan dari si korban, yaitu Lady Elona Locke sendiri. Silakan maju ke podium.”


Elona maju ke podium tengah begitu raja memanggilnya, lalu mulai memberikan pernyataan.


“Sekitar dua minggu lalu, saya mendapat kabar kalau pabrik kedelai saya mengalami ledakan saat dini hari. Tidak ada korban jiwa, tapi tetap saja memberikan saya kerugian besar karena seluruh peralatan rusak dan persediaan bahan mentah menjadi hancur karena terlalap api.


Lalu, dengan bantuan kakak saya, Stefan Locke, kami bisa menemukan kalau ada dua anak panah yang ditembakkan dari kejauhan untuk melubangi pipa gas pembuangan dan membuat gasnya bocor.”


Elona menjelaskan panjang lebar. Salah satu anggota dewan pengadilan mengeluarkan kedua anak panah tersebut sebagai bukti.


Sang raja pun bertanya kembali, “Lalu, apa yang membuat anda begitu yakin kalau Lady Kiara Perez adalah pelakunya? Karena di sini saya lihat, di kedua anak panah tersebut tidak ada satupun tanda yang menunjuk Lady Perez sebagai pelakunya.”


“Saya yakin dia yang melakukannya, karena sebelumnya saya sempat ada pertengkaran kecil dengannya. Saya tidak mengabulkan permohonannya untuik membebaskan Louis dari pekerjaan di ladang.”


“Apa benar begitu, Lady Perez?” Raja Valcke mengutarakan pertanyaan pada Kiara, yang langsung ditolaknya mentah-mentah.


“Memang benar aku sempat marah karena dia tidak mendengarkan permintaanku. Tapi bukan berarti aku yang melakukan peledakan itu! Aku punya saksi, pelayanku, yang melihatku tertidur pulas pada saat itu!”


“Baiklah.” raja berdeham sejenak sebelum melanjutkan, “Panggilkan pelayan pendamping dari Lady Perez.”


Sang pelayan yang dimaksud pun memasuki podium saksi. Setelah mengambil sumpah, dia membuat kesaksian bahwa benar dari sejak malam sebelumnya hingga ledakan terjadi, Kiara selalu berada di kamarnya dan tidak keluar kamar sedikitpun.


“Apa anda berkata jujur tentang hal ini?” sang raja mengonfirmasi.


“Saya berani bersumpah atas nama orangtua saya dan Dewa!” ucap si pelayan, sebelum akhirnya dia dipersilakan untuk turun dari podium.


“Bagaimana, Lady Elona Locke? Atas dasar apa anda menuduh Lady Perez sebagai tersangka pelaku peledakan tersebut?” tanya sang raja kembali.


“Sudah saya duga, kalau Kiara memiliki alibi.” ucap Elona dengan ketenangan yang masih tetap sama. “Karena bisa saja dia telah membayar seseorang untuk melakukannya.”


“Apa?! Jangan menuduh sembarangan! Aku tidak melakukan apapun!” teriak Kiara.


“Tenang! Semuanya tenang!” Raja Valcke mengetuk palu hakimnya sebanyak dua kali. “Lady Locke, apa anda siap bertanggung jawab atas tuduhan anda apabila Lady Perez terbukti tidak bersalah?”


“Saya siap, Yang Mulia, karena saya yakin, tidak akan mungkin ada orang lain yang bisa melakukan peledakan itu kecuali dia.” jawab Elona dengan nada yang menekan. Yang Mulia langsung tertarik untuk mendengar lebih lanjut.


“Kenapa anda begitu yakin kalau dia pelakunya?”


“Itu karena… saya mengetahui, kalau Kiara Perez berasal dari dunia lain!”


“Apa?!”


*****


...\=\= original writing by @author.ryby \=\=...


...\=\= cover art by @fuheechi_ \=\=...


((Ryby: maaf ya, dari kemarin agak sibuk, dan bayiku lagi agak ga enak badan. Hari ini akan up 2 bab (atau lebih?) untuk bayar utang yang kemarin. Yang ke-2 jam 12 siang. Yang ke-3 belum tentu, kayaknya bakal malam sih kalau sempat. Bentar lagi akan epilog. Jangan lupa tinggalin like untuk semua chapternya ya. Jangan sampai ga seimbang jumlah chapternya wkwk. Terimakasih banyak!))