Isekai: Putri Marquess Jadi Pengusaha Tempe

Isekai: Putri Marquess Jadi Pengusaha Tempe
Bab 40. Calon Ipar


"Hey, kebohongan apa yang kau katakan pada adikku, hah! Katakan yang sebenarnya! Katakan kalau kau adalah-"


*cubit*


"Aww!! Aduh! Aduh!"


Stefan terperanjat dan meringis kesakitan begitu istrinya mencubit bagian samping perutnya. Cengkeraman Stefan terhadap kerah pakaian Art terlepas begitu saja, dan ia pun memegangi area bekas cubitan Iris.


"Iris! Kamu apa-apaan sih?!" Stefan balik melotot marah pada wanita di sebelahnya. "Kamu mau membela dia, ya, hanya karena dia sepu-"


"Kamu salah orang." Iris memotong perkataan suaminya.


"Apa maksudmu aku salah orang? Sudah jelas-jelas dia-"


"Salah orang." Iris memotong lagi dengan sikap yang tetap tenang.


"Tapi dia kan Arth-"


"Salah orang! Kubilang, salah orang!" Iris bersikeras dengan pendiriannya. Stefan memandangi istrinya dengan bingung. Sesaat kemudian, pria itu menangkap gerakan bola mata istrinya yang tidak biasa, seperti mengisyaratkan sesuatu.


"Ayo pulang! Nanti kita bicara."


Iris menggerakkan mulutnya tanpa mengeluarkan suara. Awalnya Stefan menatapnya dengan tidak terima. Tetapi mata Iris membulat, membuat Stefan tak bisa berkutik. Bila istrinya itu sudah marah, maka rumah bisa porak poranda dan Stefan bisa tidak diajak bicara selama berbulan-bulan.


"Suamiku, kita pulang ya. Sepertinya terik matahari membuatmu pusing sampai salah mengenali seseorang seperti ini."


Iris mengalihkan pandangan pada Art dan Elona. "Mohon maaf atas tindakan suamiku. Ia hanya sedang lelah. Elona, antarkan dia ke kabin sebentar ya. Aku ingin minta maaf secara pribadi pada temanmu ini."


"O-oh, i-iya Kak..." Elona menjawab dengan keraguan dan kebingungan dalam hatinya. Gadis itu masih merasa tak habis pikir kalau kakaknya bisa segalak itu pada temannya, orang yang seharusnya tidak dikenalnya. Elona pun menggamit lengan kakaknya dan mengajaknya ke kabin kereta kuda.


*****


Setelah memastikan suami dan adik iparnya itu telah menjauh, Iris mengalihkan pandangannya pada Art yang masih memeriksa rasa sakit di lehernya yang sempat tercekik sedikit tadi oleh Stefan.


Iris tersenyum penuh arti pada lelaki itu. Menyadari adanya tatapan aneh yang ditujukan padanya, Art pun menundukkan kepala. Dan ia masih berusaha dengan aktingnya.


"Kalau begitu, saya permisi dulu, Nyonya." ucap Art, dan sesegera mungkin pergi dari hadapan Iris menuju area lahan kerjanya.


Tetapi wanita itu tidak tinggal diam. Ia mengikuti Art dari belakang sambil tersenyum menggoda.


"Hoo... pemuda desa, ya? Ternyata pantas juga kamu pakai baju sederhana seperti itu."


"Nyo-nyonya bicara apa? Ini pakaian saya sehari-hari. Saya hanya orang miskin." jawab Art terbata. Senyuman Iris semakin merekah.


"Oh, masih mengelak rupanya? Kalau kau memang bukan seseorang yang kumaksud, coba jelaskan alasan kenapa mereka semua ada di sini sekarang?"


Iris menunjuk ke arah para prajurit Eckart masih membantu Art menggarap lahan hingga saat ini. Jumlah prajuritnya memang tidak sebanyak waktu Art membawa mereka ke lahan pertama kali, tetapi tetap saja Iris dapat mengenali beberapa wajah mereka.


Para prajurit Eckart itu sendiri terkesiap melihat seorang wanits bangsawan yang mereka kenal datang menghampiri. Dengan cepat, mereka semua melakukan gestur hormat.


"Salam hormat! Nona Iris Hilgard!" seru para prajurit. Iris terkekeh mendengar hal itu.


"Hey, namaku sudah berubah! Hahaha!"


"Oh, maaf. Kami lupa. Salam hormat, Nyonya Iris Locke!"


"Salam hormat." Iris lalu memandangi satu persatu prajurit Eckart dan bertanya, "Apa kalian dipaksa Arthur untuk bertani begini?"


"Ti-tidak, Nyonya... kami hanya-"


"Kak Iris!" suara panggilan Elona yang datang menghampiri membubarkan perbincangan.


Art mendekati telinga Iris, sedikit berbisik sebelum Elona tiba, "Jangan katakan yang sebenarnya pada Elona. Aku mohon."


Iris yang mendengar hal itu langsung menoleh ke arah sepupunya itu tidak percaya. Art yang selama ini jahil dan tidak mau mendengarkan perkataan orang lain, kini memohon demi seorang gadis.


"Stefan tidak akan melepaskanmu begitu saja. Sebaiknya kamu bersiap-siap." Iris berbisik balik.


"Kak Iris, Kak Stefan sudah menunggu di dalam kabin." ucap Elona yang telah sampai di hadapan kakak iparnya.


"Dia kelihatan kesal sekali. Apa benar dia mengenali Art? Karena daritadi kutanyakan tapi katanya aku diminta tanya padamu saja langsung." tanya Elona penasaran.


Iris tersenyum dan mengelus kepala adik iparnya itu, "Bukan apa-apa, sayang. Dia hanya salah mengenali seseorang, ya kan, Art si pemuda desa?" tanya Iris mengonfirmasi pada sepupunya itu sembari menahan tawa.


Art hanya diam dan mengangguk. Ia takut salah bicara. Ia juga tak berani membalas perkataan Iris. Di keluarga besar mereka, Art alias si Arthur Eckart memang terkenal sebagai yang paling jahil, tetapi dari semua anggota keluarga yang pernah jadi korban keisengannya, dia tidak pernah bisa mengerjai Iris. Sepupunya itu jauh lebih cerdik darinya.


Karena tidak pernah bisa puas mengerjai Iris, maka Stefan lah yang menjadi sasaran kenakalannya dulu. Mana tahu kalau sekarang ia justru jatuh cinta pada adiknya.


Art telah terkena karmanya sendiri.


*****


Iris pun pamit dari hadapan Elona dan sepupunya itu. Begitu sampai di dalam kabin kereta kuda, Stefan sudah menyambutnya dengan wajah yang cemberut.


"Kamu tidak pernah bilang kalau si anak nakal itu sedang dekat dengan Elona!!" Stefan langsung mengungkapkan kekesalannya pada istrinya.


"Aku juga tidak tahu menahu soal itu. Arthur tidak bilang dalam suratnya waktu itu kalau dia sedang membantu Elona menggarap lahan-"


"Apa? Surat...?" tanya Stefan menyelidiki. Iris terkesiap dan menutup mulutnya dengan kipas di tangannya. Wanita itu lupa kalau ia merahasiakan isi surat Arthur untuknya beberapa waktu lalu.


"Apa maksudmu dengan surat? Surat apa?" Stefan menginterogasi istrinya yang sudah bungkam. Tapi ia tak kalah pintar. Stefan berusaha menggali memorinya, dan ingatannya tertuju pada surat dari Arthur untuk istrinya, yang katanya bertanya mengenai seorang saudara.


Iris refleks menutupi kedua telinganya dengan tangan begitu suaminya mulai berteriak.


"Secara teknis, aku tidak berbohong." Iris berkata seraya melepas kedua tangannya yang menutupi telinga. "Elona kan juga saudaraku. Saudara ipar, hehe."


Stefan mendengus kesal atas tindakan istrinya yang sekarang hanya tersenyum polos bagai anak kecil. "Apa yang ditanyakan anak nakal itu tentang Elona?"


"Hey, namanya Arthur. Dan dia tidak bertanya aneh-aneh, kok. Dia hanya tanya-tanya soal Elona, seperti makanan favoritnya, warna kesukaannya, apa hobinya, dan juga-"


"Dia bertanya semua itu?! Dan kamu beritahukan semua padanya??" Stefan kembali menyela. Iris hanya bisa menghela nafas.


"Benar, aku memang salah karena tidak memberitahukanmu, dan aku minta maaf untuk itu. Tapi aku tidak menyesali tindakanku yang memberitahukan semua tentang Elona padanya."


"Tapi kenapa?! Apa kamu mau Elona juga dikerjai olehnya? Sepupumu itu tidak peduli tentang orang lain, asalkan kepuasan hatinya terpenuhi. Dia itu nakal dan egois! Dia-"


"Sekarang tidak lagi." kali ini Iris yang menyela perkataan suaminya. "Isi surat itu menunjukkan bahwa dia sangat peduli pada Elona. Dan bisa dibuktikan dari sikapnya setelah ia membaca balasan suratku dulu."


"Memangnya kamu membalas apa?"


"Aku memberitahukan tentang kondisi psikologis Elona, dan kamu tahu yang Arthur lakukan? Dia tetap setia berada di sisi Elona sampai detik ini.


Kamu tahu kan, kalau Elona tidak memiliki teman satupun? Arthur hadir di sisinya. Dia tidak pergi meski telah mengetahui segalanya. Dia jadi teman Elona bercerita.


Segala kendala yang Elona hadapi di Armelin ini pun ia bersedia membantunya. Dan kamu masih berpikir akan memisahkan Elona darinya?"


Stefan terhenyak dalam sofanya setelah mendengarkan Iris menceramahinya. Sebenci-bencinya ia terhadap sepupu istrinya itu, tidak mungkin ia bisa mengambil kebahagiaan Elona, adik satu-satunya itu.


"Tetapi kenapa dia harus berbohong tentang identitasnya? Kalau sampai Elona tahu, apalagi kita pun mengetahui yang sebenarnya dan tidak memberitahunya, bisa-bisa dia sangat terpukul..."


Stefan menundukkan kepalanya dan memangkunya dengan kedua tangan. Ia tidak berani membayangkan hal apa yang akan dilakukan Elona begitu adiknya itu yang sebenarnya.


"Aku juga tidak mengerti, tapi yang jelas, aku yakin Arthur punya alasan tersendiri untuk itu. Kita hanya perlu diam dan percaya saja padanya." ucap Iris, lalu membelai kepala suaminya itu.


"Tapi kalau sampai dia menyakiti adikku, akan kubuat dia menyesal seumur hidup! Kalau sampai Elona menangis karena anak nakal itu, akan kubuat keluarga Eckart tidak akan memiliki pewaris lagi!"


Stefan mengertakkan gigi dan mengepalkan tangannya. Iris yang sedari tadi berusaha untuk tetap tenang, merasa ngeri juga ketika membayangkan apa yang akan dilakukan suaminya itu pada sepupunya nanti bila hal itu benar terjadi.


Keluarga Locke memang hanyalah keluarga marquess, masih kalah satu tingkat dari keluarga duke. Tetapi kalau ditanya soal kekuatan prajurit, Locke memiliki pasukan terkuat di negeri ini. Iris tak berani membayangkan apabila suaminya itu kalap dan benar-benar mengerahkan seluruh kesatria dan prajurit untuk menghabisi Arthur.


"Tenang saja, dia tidak akan berani melakukannya." ucap Iris berusaha menenangkan suaminya.


"Lagipula, Arthur sekarang sudah banyak berubah, dan itu berkat Elona. Dia tidak seperti dulu lagi, hahaha!" Iris tertawa begitu mengingat tentang sepupunya itu di ladang tadi.


"Kenapa?"


"Apa kamu tidak menyadarinya saat di lahan tadi?"


"Apa, sih, yang kamu maksud?" tanya Stefan tidak mengerti.


"Arthur sudah jatuh cinta pada adikmu, hohoho!" jelas Iris sembari tertawa. Stefan membulatkan matanya karena kaget.


"Apa?!"


"Sudahlah, aku yakin dia bisa menjaga Elona dengan baik. Terima saja dia sebagai calon iparmu mulai dari sekarang!" celetuk Iris.


Stefan menatap ngeri istrinya, "Calon ipar... hiiy!! Tidak! Tidak! Aku tidak sudi anak nakal itu jadi suaminya Elona! Tidak!"


*****


Sementara itu, di ibukota.


"Wah, enak sekali susu kedelai ini! Katanya tidak membuat badan kita gemuk!"


"Iya, aku suka sekali yang rasa cokelat!"


Kiara baru saja keluar dari sebuah butik ketika ia mendengar para gadis seusianya keluar dari salah satu cabang Kafe Satu Sesapan di ibukota. Gadis itu memang telah mendengar soal adanya menu minuman baru di kafe ternama itu, tapi dia belum tahu apa.


Bagi para bangsawan, akan sangat kehilangan tren apabila tidak mencoba semua hidangan yang disajikan di kafe nomor satu seluruh negeri itu. Sebenarnya Kiara sudah mengajak Louis untuk menemaninya mencoba minuman baru tersebut, namun gadis itu tak mengerti kenapa Louis akhir-akhir ini jadi lebih sering uring-uringan.


Begitu mendengar nama-nama sajian yang baru saja diucapkan para gadis yang lewat di hadapannya tersebut, Kiara terkesiap.


Susu kedelai? Sejak kapan di dunia ini ada produk olahan kedelai seperti itu?


Karena penasaran, Kiara mencoba sengaja lewat di depan salah satu jendela kafe tersebut dan sedikit mengintip ke dalamnya. Terlihat berbagai kemasan terpajang di etalase rak kafe tersebut dengan tulisan 'Susu Kedelai Bubuk Locke Armelin'.


Locke Armelin... Elona Locke?


Si tokoh antagonis itu? Ini ngga mungkin kebetulan kan? Berarti pemikiranku selama ini tentang dia yang juga dari bumi itu benar?!


Tapi, kenapa baru sekarang?


Apa jangan-jangan dia bukan reinkarnasi dari bayi sepertiku, melainkan baru-baru ini saja?


*****


...\=\= original writing by @author.ryby \=\=...


...\=\= cover art by @fuheechi_ \=\=...